Monster In Me

Monster In Me
Aku Monster


__ADS_3

Firda jatuh tepat setelah ia menginjak anak tangga terakhir. Ia kini terduduk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Menangis dalam diam. Meski sampai saat ini ia tidak tahu hal apa tepatnya yang tengah ia tangisi.


Sebab begitu banyak hal yang ia sesali.


Namun, ia tidak bisa berlama-lama larut dalam kesedihan. Biar bagaimanapun, ia telah melakukan banyak hal untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Semua itu tidak boleh berakhir sia-sia. Akhirnya, Firda menengadah dan membuka mata. Langit sudah benar-benar terlihat cerah, pertanda siang hari sudah dekat. Hari ke berapa ini? Firda tidak tahu dan tidak ingin memikirkannya. Satu-satunya hal yang sangat ingin ia ketahui adalah bagaimana keadaan Adira saat ini.


“Pasti dia sudah jadi zombie, kan? Atau dia berhasil menyelamatkan Kak Adnan dan bertahan hidup?”


Di sisi lain, gadis yang terus Firda pikirkan tengah berdiri menatap kosong ke arah tubuh sang kakak yang tidak lagi utuh. Bersama dengan jasad zombie yang bergeletakan dan tidak lagi bergerak, sosok Adnan tidak terlihat lebih baik. Padahal pemuda itu mati sebagai manusia, meskipun harus kehilangan banyak bagian tubuhnya, terutama seperempat dari kepalanya, tetapi sekilas Adira melihat banyak kesamaan jasad kakaknya dengan tubuh para zombie.


Gadis itu terlalu tercengang untuk merasakan luka gigitan yang banyak ia derita di beberapa bagian tubuh. Lengan, kaki, hingga pinggang, semuanya dihiasi luka yang membentuk pola melengkung serta sedikit terkoyak. Di situasi normal, mungkin Adira kini sudah menjerit kesakitan dan tidak lagi mampu berdiri. Namun, ia kini justru bergeming di tempat, sambil merasakan bagaimana gejolak hebat perlahan meletup di dalam dirinya. Adira tidak mampu menjelaskannya dengan kata-kata, tetapi yang jelas ia merasakan ada sesuatu yang aneh yang kini menghuni setiap aliran darahnya.


Adira mengalihkan pandangannya dari sang kakak dan mulai menatap tangannya sendiri. Tangan itu bergetar hebat, layaknya tangan seseorang yang tengah ketakutan. Padahal Adira sama sekali tidak merasa takut. Justru sebaliknya, ia merasakan keberanian luar biasa mulai menyelubungi seluruh tubuhnya.


Beberapa zombie yang tersisa dengan tubuh hancur dihantam oleh Adira kini tidak lagi tertarik dengan kakak beradik itu, dan langsung melanjutkan perjalanannya mengikuti alunan lagu Taman Bermain. Lagu itu tidak lagi terdengar keras dan hanya muncul sesekali. Sepertinya hal itu yang berhasil mempertahankan ketertarikan zombie untuk terus mengikutinya.


Perlahan, hanya tersisa Adira dan Adnan, saat tiba-tiba terdengar suara banyak barang berjatuhan. Adira menengadah dan menatap sosok pemuda yang terjatuh setelah adu tatap dengannya. Banyak makanan dan minuman ringan bergeletakan di sekitar pemuda itu.

__ADS_1


“Aku tergigit,” ucap Adira jujur. “Aku berusaha untuk menyelamatkan kakakku, tapi semuanya sudah terlambat dan aku tergigit. Itu berarti aku akan segera menjadi zombie, kan?”


Zean menatap jasad Adnan dan Adira bergantian. Dengan hati-hati, ia berdiri. Kedua tangannya terentang ke depan saat ia bertanya, “Apa kamu Adira?”


Sayangnya, kepala Adira sudah penuh oleh berbagai pertanyaan yang membuatnya kebingungan sehingga ia tidak dapat mendengar pertanyaan Zean. Gadis itu terus saja bergumam sendiri sambil merasakan seluruh perubahan yang terjadi kepada dirinya. “Aku akan segera menjadi makhluk yang sama dengan makhluk yang telah membunuh kakakku. Aku akan menjadi zombie.” Tiba-tiba Adira menengadah dan memelototi Zean. “Pergilah! Sebelum aku melukaimu!”


Zean mengerjapkan mata kebingungan sebelum menoleh ke kanan dan kiri. “Tunggu sebentar di sini! Tadi sepertinya aku melewati toko obat atau semacamnya. Aku akan segera kembali.”


Ingin rasanya Adira tertawa. Obat? Untuk apa? Kondisinya tidak tertolong lagi. Ia akan segera kehilangan kesadaran dan rasa kemanusiaannya. Bahkan mungkin ia tidak akan lagi dapat mengenali benda sehari-hari. Jadi, untuk apa pemuda itu repot-repot pergi dan berjanji untuk kembali?


‘Ah, atau mungkin itu hanya alasannya agar tidak malu saat kabur?’ pikir Adira sambil tersenyum sini. Ia mulai terkekeh hingga akhirnya tertawa kencang. Merasakan bagaimana emosinya tidak lagi bisa ia kontrol dengan baik.


Adira jatuh bersimpuh di sisi sisa-sisa tubuh Adnan.


“Maafkan aku, Kak. Aku adik yang tidak berguna,” gumamnya pelan sambil membaringkan tubuh. Menutup matanya untuk sejenak.


Namun, baginya sudah lama waktu berlalu sejak ia digigit. Adira mulai bertanya-tanya mengapa ia tidak kunjung berubah. Ia memang tidak pernah menyaksikan perubahan manusia menjadi zombie secara langsung, tetapi ia pikir proses transformasi itu tidak akan memakan waktu yang terlalu lama. Seharusnya ia saat ini telah meraung di tempat, dengan sendi-sendi tubuh yang tertekuk ke berbagai arah serta kedua mata yang memerah dengan mengerikan.

__ADS_1


Aneh. Adira membuka matanya dan menyadari bahwa ia masih memiliki kesadaran penuh. “Siapa namaku? Adira Marwa Bernadette, adik dari Adnan Mizan Bernadette. Anak dari Irwan dan Dewi dan aku siswa kelas 1 SMA. Aku sedang ikut karya wisata saat serangan zombie terjadi.” Gadis itu mulai bergumam sendiri guna memastikan pengetahuannya tentang dirinya masih utuh. Tidak ada yang ia lupakan yang menandakan bahwa ingatannya baik-baik saja.


Hanya satu hal yang telah berubah.


Adira bangkit dan mengambil benda terdekat, yaitu sebuah mainan UFO yang entah datang dari mana. Dan dengan seluruh tenaganya ia membanting benda itu kuat-kuat ke atas aspal. Mainan malang itu berakhir hancur berkeping-keping. Salah satu patahannya melayang dan menggores tulang pipi Adira, hampir menyentuh kantung matanya. Namun, sang gadis sama sekali tidak bereaksi. Dengan cepat ia meraih benda lain dan mulai melakukan hal yang sama.


Satu-satunya hal yang sangat Adira rasakan saat ini adalah keinginannya untuk mengamuk sangat kuat. Ia benar-benar tidak bisa menahannya, seolah tujuannya hidup di dunia adalah untuk menghancurkan segalanya.


Gadis itu mulai membuka mulutnya lebar-lebar dan menggigit jari-jarinya sendiri. Gigitannya sangat kuat, Adira tidak berpikir bahwa ia pernah menggunakan giginya sekuat ini sebelumnya. Ia baru melepaskan gigitan setelah merasakan bahwa jari-jarinya hampir putus. Adira masih ingin memiliki tubuh yang utuh meskipun nanti ia telah berubah menjadi monster seutuhnya.


“Benar. Aku adalah monster. Aku berbeda dengan para zombie karena aku masih memiliki kesadaranku,” ucap Adira dengan bangga. Kedua matanya memicing dengan sangat mengerikan. Ia bahkan tidak lagi memandang jasad kakaknya dengan sendu dan hanya melewatinya dengan santai.


Adira menghampiri kumpulan tong besi berisi berliter-liter solar bahan bakar wahana. Dengan mudah ia mendorong dan membuat banyak tong itu terjatuh dan mengalirkan isinya. Adira menendangkan kakinya hingga menimbulkan banyak lubang di sana. Dengan puas Adira menyunggingkan senyum tipis.


Bisa ia rasakan tenaga luar biasa di tubuhnya telah menunggu untuk ia ledakkan.


***

__ADS_1



__ADS_2