Monster In Me

Monster In Me
Bekerja Sama


__ADS_3

“Oh? Adikmu ada di sini juga? Laki-laki atau perempuan? Berapa usianya?” tanya Zean berturut-turut. Tanpa sadar ia terus melangkah mendekati Adnan, membuat sang pemuda mundur menghindarinya.


“Untuk apa kamu tahu?”Adnan balas bertanya dengan sebelah alis terangkat. “Ini semua tidak ada hubungannya denganmu.”


Zean menggelengkan kepala sambil menghembuskan napas berat. “Seumur hidup, baru kali ini aku bertemu dengan orang yang bersikap sangat ketus dan galak sepertimu,” ucapnya lesu. Namun, tidak lama kemudian senyum kembali melengkung di bibirnya. “Kamu beruntung. Aku tidak punya tujuan hidup apa pun sekarang, jadi kupikir lebih baik aku membantumu mencari adikmu. Mungkin dengan begitu Eca akan sangat bangga kepadaku.”


“Eca?”


“Adikku yang kubilang sudah meninggal tadi.”


“Oh.” Adnan menggaruk belakang kepalanya dengan kebingungan. Ia sungguh tidak ingin repot-repot berurusan dengan orang lain saat ini, tetapi setelah lama berjuang seorang diri, Adnan pikir sepertinya akan cukup membantu jika ia mendapatkan bantuan. Apalagi Zean tampak seperti seseorang yang bisa diandalkan. “Tapi … apa kamu tidak takut? Kalau aku jadi kau, aku tidak akan membantu siapa pun dan hanya akan berusaha menyelamatkan diriku sendiri.”


Adnan memicingkan mata saat Zean hanya mengendikkan bahu. “Aku tidak akan ragu menghabisimu jika sampai kamu berubah menjadi zombie,” tambah Adnan lagi dengan tegas.


“Tenang saja. Itu tidak akan pernah terjadi,” jawab Zean santai. “Aku mungkin menyebutnya ‘virus zombie’ karena aku tidak tahu harus menyebutnya apa lagi. Tapi aku tahu betul bahwa yang sebenarnya terjadi sama sekali tidak seperti bayangan kita semua.”


“Maksudmu?”


“Kita tidak akan menjadi zombie hanya karena digigit zombie yang ada di tempat ini.”


Kedua mata Adnan membelalak. Mendadak ia menerjang Zean dan mencekal kerahnya dengan kuat. Zean sedikit kesulitan bernapas dibuatnya, tetapi wajahnya tetap terlihat tenang. Bahkan ia masih mampu menampilkan senyum tipis di depan Adnan.

__ADS_1


Namun, hal tersebut malah membuat amarah Adnan semakin menjadi. Kakak Adira itu mendorong Zean hingga ke dinding terdekat. Sama sekali tidak memedulikan kepala sang pemuda yang terbentur dengan keras.


“Jangan main-main denganku hanya karena aku bersikap ramah kepadamu.” Sedikit demi sedikit Adnan mempererat pegangannya kepada kerah Zean, hingga leher Zean tercekik pakaiannya sendiri. “Kalau memang benar kamu punya adik yang meninggal di sini, bukankah seharusnya kamu tahu bagaimana perasaanku saat ini? Jadi, hati-hatilah! Pilihlah kata-katamu dengan bijak!”


Senyum Zean lantas menghilang. Ia menatap datar Adnan dengan wajahnya yang mulai memerah. Kedua tangannya terus menahan tangan Adnan agar tidak terus menyiksanya lebih jauh. Ia tidak segera menanggapi setiap ucapan pemuda di depannya dan hanya mendengarkan dalam diam.


Sempat terlintas di benak Zean bahwa Adnan tampak berusia jauh lebih muda darinya, maka seharusnya Adnan yang menjaga ucapan dan sikapnya. Namun, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengingatkan soal itu.


“Kenapa diam saja? Jawab!” Adnan mulai tidak sabar dan mendesak Zean.


Zean hanya menepuk tangan Adnan pelan. “Aku … mulai sulit bernapas,” jawabnya dengan susah payah.


Kedua mata Adnan lantas mengerjap cepat. Dengan ragu, akhirnya ia melepaskan tangannya dari kerah Zean. Meskipun tetap saja, ia berada dalam posisi siaga dengan kedua tangan mengepal di depan dada. “Sudah kulepas! Sekarang, katakan padaku! Apa alasanmu berbohong seperti itu?”


Sepertinya pertanyaan Zean cukup membuat Adnan terpojok. Pemuda itu tampak tertegun selama beberapa detik, dan enggan menatap mata Zean. Hening menyelimuti suasana, karena tidak ada satu pun yang kembali berbicara. Hanya terdengar sayup-sayup jeritan tanpa arti dari zombie yang berada jauh dari tempat mereka saat ini.


Hingga kemudian Adnan terkekeh. Kedua tangannya meremat kepalanya dengan erat, seolah ia akan menarik mencoba menghancurkan tengkoraknya sendiri. Tubuhnya tampak terhuyung hingga akhirnya ia jatuh terduduk dan bersandar kepada salah satu rak di sana.


Dalam diam, Zean menghampiri Adnan dan berjongkok di depannya. Mencoba mendengar apa yang sedang pemuda itu gumamkan saat ini.


“Kalau memang tidak menular lewat gigitan, untuk apa aku bersusah payah menghindar?” tanya Adnan tanpa sedikit pun menatap Zean.

__ADS_1


Lagi-lagi Zean mengendikkan bahu. “Entahlah. Mungkin karena digigit itu sakit?”


Adnan mendengkus keras. “Kalau memang tidak menular, kenapa sulit sekali untuk para polisi datang ke tempat ini? Kupikir mereka sangat berhati-hati karena takut wabah ini tersebar. Tapi jika ini bukan wabah, hal apa lagi yang menahan mereka?” Pemuda itu lantas menjerit sambil membenturkan kepalanya sendiri kepada rak di belakang tubuhnya. “Sial! Mereka hanya sekumpulan orang pemalas dan pengecut yang lambat dalam bertindak!”


“Jadi, sekarang kamu percaya kepadaku?” Zean kembali berdiri dan bersedekap dada.


“Untuk saat ini,” jawab Adnan dengan mata menyipit. “Jika ternyata kamu berbohong, aku hanya harus menghabisimu saja.”


“Ide bagus.”


Zean menganggukkan kepala sambil menoleh ke sana kemari. Pertemuannya dengan Adnan yang tidak biasa membuatnya belum sempat untuk melihat-lihat sekitar. Padahal sejak dulu, ke mana pun ia akan pergi, Zean selalu menyempatkan diri untuk memahami tempat yang akan ia datangi. Selain karena memang sifatnya yang selalu berhati-hati, profesinya sebagai aktor memaksanya untuk selalu waspada. Sebab walaupun ia belum terlalu terkenal, ia tetap memiliki banyak penggemar dengan berbagai kepribadian. Bukan tidak mungkin akan ada penggemar yang cukup ‘berani’ untuk mendekati dan mengusik ketenangannya.


Bahkan satu waktu, saat Zean mengajak Helsa jalan-jalan ke mal terdekat dari rumah mereka, adiknya itu hampir terluka oleh perlakuan penggemar yang tidak tahu diri. Penggemar itu terlalu fokus pada keinginannya untuk menghampiri Zean dan mengambil foto bersama, hingga tidak menyadari kehadiran Helsa. Tubuh Helsa tersenggol cukup keras hingga ia terjatuh ke atas lantai mal. Zean yang kewaspadaannya sempat menurun karena sedang menggunakan ponsel baru menyadari apa yang terjadi setelah sang adik mengerang cukup keras.


Beruntung, Helsa tidak terluka maupun mengalami cedera yang berat. Namun, sejak saat itu Zean telah bertekad untuk lebih berhati-hati lagi ke mana pun ia pergi.


Mungkin saat ini Helsa sudah tidak ada di sisinya, tetapi Zean tetap akan menjaga diri dengan baik agar adiknya itu tenang dalam tidur panjangnya.


“Apa yang sedang kamu lihat? Kamu tidak perlu menghindariku dengan berlebihan seperti itu,” celetuk Adnan. Tampaknya ia kini sudah merasa lebih relaks berada di dekat Zean. Saat Zean tidak kunjung menanggapi ucapannya, dengan segera ia berdiri dan mengikuti arah pandang teman barunya itu.


Tubuhnya seketika mematung ketika melihat bercak darah yang aneh di atas lantai.

__ADS_1


***


__ADS_2