Monster In Me

Monster In Me
Benda Tajam


__ADS_3

Adira, Firda, dan Aron jatuh meringkuk di atas tanah sambil mengerang kesakitan. Gurat nadi timbul di wajah, leher, serta tangan mereka yang menegang. Mata ketiga orang itu memejam erat sementara gigi mereka mengatup kuat. Apa yang mereka dengar kali ini mungkin adalah suara terburuk dan ternyaring yang pernah memasuki telinga mereka sepanjang hidup.


Tidak jauh berbeda, Adnan juga tengah berusaha bertahan dari serangan suara yang seolah mampu meledakkan seluruh tubuhnya dari dalam. Kedua tangannya yang ditekan ke telinga sama sekali tidak bisa mengurangi nyaringnya suara itu. Pemuda itu jatuh dan meronta di atas aspal, tetapi kedua matanya tetap terbuka, mengawasi Adira yang kini tampak menguatkan dirinya untuk bangkit dan menghadap sang kakak.


Dengan seluruh kekuatannya, Adnan juga berdiri dan hendak berjalan menghampiri Adira. Beruntung, entah karena dirinya mulai terbiasa, atau memang suara yang mengganggu itu mulai berkurang intensitasnya, Adnan sama sekali tidak lagi merasa kesakitan. Ia kini mulai menyunggingkan senyum lebar, bersiap untuk mendatangi Adira, adiknya yang telah ia cari keberadaannya selama ini.


“Kakak selalu tahu kamu akan bertahan, Dir!” Adnan bernapas lega sambil bergumam sendiri. Entah kenapa kedua kakinya terasa lemas untuk sekadar berjalan ke depan. “Meskipun Kakak hampir kehilangan harapan karena tidak kunjung menemukanmu.”


Adira yang tengah membantu Firda dan Aron berdiri tampaknya melihat gerak mulut Adnan, sehingga ia menatap sang kakak penuh tanya. Adnan yang mengetahui hal itu lantas berteriak menyapanya, tetapi suara bising di sekitar mereka masih menjadi penghalang.


“Sepertinya kakakmu terlalu terkejut sampai tidak bisa langsung berjalan kemari, Dir,” ucap Firda, masih sambil meringis merasakan telinganya berdenging.


Adira mencondongkan tubuhnya hingga telinganya berada sangat dekat dengan mulut sang sahabat. “Kamu bilang sesuatu, Fir?”


Firda menghela napas berat dan melirik beberapa pengeras suara yang ada di dekat mereka. Jauh di dalam hati ia merutuki Evan dan siapa pun itu di balik suara menyebalkan ini. Sepertinya, meskipun pintar di sekolah, Evan cukup kesulitan mengendalikan teknologi yang tidak ia kenal di Taman Bermain Cakrabuana.


Padahal sebelumnya, suara-suara itu akan segera berhenti dan berganti dengan lagu khas Taman Bermain. Jadi, kenapa kali ini tidak?


Dengan terpaksa, Firda mengulangi ucapannya. Kali ini dengan suara sedikit lebih keras. “Kak Adnan pasti sangat terkejut jadi tidak bisa langsung kemari!”

__ADS_1


“Apa?”


“Kak Adnan pasti—“


“Fir, aku tidak bisa mendengarmu,” ucap Adira putus asa. Ia sendiri sengaja tidak mengeluarkan suaranya dan hanya fokus memperjelas gerak bibirnya agar dapat dipahami oleh Firda.


Firda mengulum bibirnya sebelum menggendong kembali Aron di punggungnya. Dengan cara yang sama seperti Adira, ia mulai berbicara hanya dengan gerak bibir. “Ayo, kita pergi ke Kak Adnan.” Firda mengarahkan telunjuknya ke arah sang pemuda untuk memperjelas ucapannya.


Kali ini Adira mengerti apa yang Firda coba sampaikan kepadanya, sebab wajah gadis itu langsung berseri dan ia berjalan cepat memimpin di depan. Betapa riangnya dirinya hingga sesekali ia melompat kecil kegirangan. Meskipun jaraknya dengan Adnan masih cukup jauh, tetapi ia bisa melihat bahwa sang kakak tengah menunggunya dengan semangat yang sama.


Adnan melambaikan tangannya yang masih bergetar hebat. Sepertinya, keputusannya untuk tidak beristirahat atau mencari sesuatu untuk dimakan terlebih dahulu kini mulai berefek kepada tubuhnya. Namun, hasil yang didapatnya kini sepadan dengan usahanya. Di depan matanya, berdiri Adira dalam keadaan sehat dan tidak banyak terluka.


Adnan sangat tidak sabar untuk memberitahukan semua yang ia ketahui kepada sang adik, karena ia yakin, Adira akan jauh lebih tenang setelah mengetahui semuanya. Namun, entah kenapa rasanya lama sekali menunggu Adira sampai ke tempatnya. Apalagi sekarangs saat gadis itu malah berhenti berjalan, dengan ekspresi tercengang yang belum pernah Adnan lihat sebelumnya.


Belum lagi Firda yang terburu-buru menurunkan anak kecil di punggungnya, agar bisa menarik Adira menjauh. Adira mengentakkan tubuhnya kuat-kuat guna melepaskan pelukan Firda, ia tampak sangat marah kepada sang sahabat. Namun, Firda tetap menarik Adira pergi.


Dengan seluruh tenaganya, Adira merentangkan tangan. Telunjuknya mengarah lurus ke arah Adnan.


“Oh?” Adnan yang kebingungan mengira bahwa Adira tengah mencoba meraihnya. Pemuda itu lantas turut merentangkan tangan ke depan.

__ADS_1


Adira menggelengkan kepala dengan cepat, sebelum mendorong Firda hingga sahabatnya itu terjatuh. Adik Adnan itu lantas mencoba untuk berlari, tetapi Firda dengan cekatan menahan kakinya. Dengan putus asa, akhirnya Adira mencoba memperingatkan sang kakak. “Kak Adnan! Awas! Di belakang! Di belakang!”


Kepala Adnan bergerak miring ke kiri dan ke kanan selama ia mencoba memahami ucapan sang adik. “Di … belakang?”


Belum sempat Adnan berbalik, tubuhnya sudah terdorong dengan kuat ke depan. Fokusnya yang tidak lagi berpusat kepada Adira, membuatnya kini bisa mendengar geraman yang belakangan ini mulai terbiasa ia dengar. Kedua mata pemuda itu membelalak melihat banyaknya zombie yang kini mengerubunginya. Beberapa di antara para mayat hidup itu bahkan telah menimpa tubuhnya dan mengunci pergerakannya di atas aspal.


Sekuat tenaga Adnan bertahan. Kedua lengannya ia gunakan untuk menahan leher zombie yang mencoba menggigitnya, sementara kaki panjangnya terus menendang sembarang arah. Tentu saja semua itu tidak memberinya banyak kesempatan untuk lolos dari sergapan para zombie itu. Adnan terjebak.


“Tidak! Tidak boleh! Aku baru melihat Adira! Aku belum membawanya keluar dari sini!” Adnan mengerang hebat sambil mendorong semua zombie yang mengerubunginya dengan sekuat tenaga. Seluruh tekadnya membuat kekuatannya bertambah berkali-kali lipat. Ia menemukan celah untuk merangkak dan mulai berlari menjauh.


Namun, mendadak Adnan merasakan perih luar biasa di bagian belakang kakinya.


Pemuda itu terjatuh ke atas aspal dengan benturan yang keras. Erangan kesakitan lolos dari bibirnya, sementara cairan merah segar mulai mengalir dari kakinya. Adnan meringkuk, memeluk lututnya sendiri, sebelum kembali berusaha untuk bangkit. Sayangnya, lagi-lagi gerakannya tertahan karena kakinya yang lain turut terkena serangan benda tajam.


Kedua mata Adnan membelalak. Ia dapat melihat dengan jelas beberapa zombie memiliki banyak benda tajam tertancap di bagian tubuh. Sebuah pisau mencuat keluar dari lengan salah satu zombie, sementara zombie lainnya memiliki paku besar di kening. Dan zombie yang menyerang kaki Adnan dua kali ternyata memiliki gunting besar yang menembus telapak tangannya. Adnan mengamati semuanya dengan perasaan takut luar biasa.


***


__ADS_1


__ADS_2