
“Kurasa kita sudah aman,” ujar Abian di sela-sela napasnya yang memburu. Ia membungkuk memegang lutut, sambil berusaha menarik sebanyak mungkin oksigen untuk menyegarkan kembali tubuhnya yang sudah sangat lelah. Ingin rasanya ia berbaring di atas tanah, tanpa peduli kotoran yang mungkin akan menempeli dirinya. Namun, situasi masih belum benar-benar aman. Ia harus tetap waspada dan siap untuk kembali berlari kapan saja. “Kamu tahu ke arah mana kita harus pergi, Van?”
“Tentu saja. Meskipun mendesak, aku tetap mencoba mengingat jalan kita tadi,” jawab Evan sedikit angkuh. Ia menatap Trisha dan Karsa bergantian. “Ayo, jalan. Tempatnya sudah dekat.”
Mereka kembali berjalan sambil menunduk. Bersembunyi di balik batang-batang besar pohon yang tumbang dan bergeletakan. Membentuk benteng pertahanan yang cukup untuk membuat mereka merasa aman. Meskipun terdapat beberapa dahan mencuat yang siap menggores kulit jika sampai mereka kurang waspada.
Bagian tepi rok Trisha beberapa kali tersangkut dahan dan ranting, tetapi ia sama sekali tidak berani mengeluarkan suara, bahkan untuk mengaduh pelan sekalipun. Ia justru merasa bersyukur ia belum mengganti seragamnya dengan pakaian yang ia bawa di dalam tas. Sebab jika sampai ia memakai celana pendek yang dibawanya, mungkin yang akan tersangkut bukan lagi bajunya.
Gadis itu kembali mengikuti langkah Karsa yang berada di depannya. Bibirnya mengerucut setelah menyadari bahwa ia berada di posisi paling belakang. “Kenapa kamu ada di depanku?” Trisha bertanya dengan berbisik, setelah ia berhasil berada di jarak yang sangat dekat dengan sang pemuda.
“Kan, kamu sendiri yang bilang kamu curiga kepada Evan?” jawab Karsa dengan suara yang tidak kalah pelan.
Trisha lantas terdiam dan berusaha melihat Evan yang berjalan di barisan paling depan. Teman sekelasnya yang biasanya terlihat culun dengan kaca mata berbingkai tebal itu kini tampak berjalan dengan keberanian dan keyakinan yang cukup besar. Mengundang kecurigaan Trisha yang memang tidak pernah menyukai Evan selama ini.
Tidak peduli seberapa baik Evan memperlakukannya saat di sekolah, Trisha selalu merasakan hal yang janggal saat berinteraksi dengan sang pemuda. Mungkin itu karena kepribadian mereka yang jauh berbeda, atau mungkin Trisha memang tidak menyukai remaja yang terlalu gila belajar. Alasan mana yang tepat, Trisha pikir tidak ada gunanya untuk mengetahuinya. Karena ia sama sekali tidak berniat untuk berteman dengan Evan.
Apalagi Evan selalu memperlihatkan ketidaksukaannya kepada Karsa secara terang-terangan. Menambah alasan lagi untuk Trisha menjauhi dirinya.
__ADS_1
‘Tapi di saat seperti ini, aku tidak punya pilihan lain, kan?’ pikir Trisha. ‘Aku hanya harus waspada, kalau-kalau ternyata ia berniat jahat kepada aku dan Karsa.’
Sementara itu, ternyata Karsa juga memiliki pemikiran yang kurang lebih serupa dengan Trisha. Sedari tadi ia terus menggenggam pemukul besi di tangannya dengan waswas. Suara sekecil apa pun terus membuatnya tersentak. Sebisa mungkin ia menahan kedua matanya agar tidak terlalu sering berkedip. Ia membutuhkan setiap indra miliknya untuk mengawasi situasi.
‘Bukankah ini terlalu sepi? Ke mana semua zombie itu?’ pikirnya.
Pemuda itu terus mengikuti langkah Evan dan Abian yang berada di depannya, hingga akhirnya mereka memasuki lorong yang bagian depannya terasa familier. Namun, penerangan yang kurang membuat ia tidak langsung mengenali tempat itu.
Hingga saat mereka sampai di sebuah pintu dengan banyak ransel bergelimpangan, akhirnya ia tahu tempat apa itu. “Kenapa kita kembali ke sini?” tanya Karsa kebingungan.
Evan dan Abian hanya meliriknya sekilas sebelum menuntunnya ke bagian terdalam. Kedua mata Karsa lantas melebar saat melihat sosok yang berada di depannya. Dan Trisha yang berada di belakangnya dengan cepat berlari dan memeluk sosok itu.
“Trisha, Karsa. Apa kalian cuma berdua?” tanya Danita setelah Trisha tidak lagi memeluknya erat.
Karsa menganggukkan kepala dengan lesu. “Iya, Bu. Maaf, kami terpisah dengan teman-teman yang lain.”
“Tidak apa-apa. Semuanya salah Ibu karena terburu-buru membiarkan kalian untuk keluar dari tempat persembunyian,” ucap Danita sendu. Rasa bersalah terlukis jelas di wajahnya. Tampaknya sang guru muda selama ini terus menyalahkan dirinya sendiri atas menghilangnya para murid di tengah situasi yang berbahaya seperti saat ini. Seharusnya ia bisa berusaha lebih baik dari ini.
__ADS_1
Padahal kenyataannya, memang tidak banyak yang bisa ia lakukan. Berusaha membantu para siswa saja sudah cukup membuktikan bahwa ia bukanlah orang dewasa egois yang hanya ingin menyelamatkan diri sendiri.
“Ngomong-ngomong, Bu. Kenapa kita ke sini lagi?” tanya Karsa setelah Danita tidak lagi berbicara.
“Saat kita bersama siswa-siswa lain melarikan diri dari sini, jumlah zombie tersebar karena mengejar kita yang berpencar,” jawab Evan mewakili Danita. Sementara Abian tengah mengistirahatkan diri dengan duduk berselonjor kaki di sampingnya. “Hingga hampir tidak ada yang tersisa di sekitar sini. Saat kami datang, hanya terdapat kurang dari 10 zombie dan mereka dalam kondisi yang tidak membahayakan kami sama sekali. Jadi aku dan Abian menghajar semuanya dan memutuskan untuk menjadikan tempat ini sebagai tempat singgah sementara.”
“Lalu kenapa kalian pergi lagi dan meninggalkan Bu Danita seorang diri?” tanya Trisha dengan mata memicing.
Evan menatap Trisha beberapa saat sebelum mengendikkan bahu. “Mau bagaimana lagi? Butuh senjata untuk melawan zombie-zombie itu. Kami tidak bisa terus-terusan hanya menggunakan batu yang kebetulan kami temukan di jalan, kan?” jelas Evan. “Mana mungkin aku tega Bu Danita untuk ikut, jadi hanya aku dan Abian yang berkeliling. Meskipun pada akhirnya kami hanya menemukan tongkat sisa pagar besi yang tidak begitu berguna ini.”
Karsa refleks memandang tongkat di tangannya yang sudah ia anggap sebagai alat pukul sungguhan. Pikirannya kembali mengingat saat-saat ia menghantam kepala dan bagian tubuh para zombie menggunakan benda itu. “Tongkat ini cukup berguna, kok. Kerja bagus.” Ia memuji Evan dan Abian dengan tulus.
Abian tampak tersipu hingga mengibaskan tangannya malu-malu, sementara Evan memandang Karsa dengan ekspresi yang sulit diartikan. Karsa hanya menganggapnya sebagai tanda bahwa Evan belum siap untuk berbaikan dengannya atas masalah yang terjadi di antara mereka berdua di masa lalu. Namun, sayangnya Evan sedang memikirkan hal lain yang jauh lebih buruk dari hal itu.
‘Bagaimanapun caranya, aku harus selamat.’ Evan bertekad di dalam hati. ‘Sejauh ini setiap rencanaku berjalan sesuai harapan. Malah hasilnya jauh lebih baik dari yang kubayangkan.’
Dalam diam, Evan menatap Karsa, Trisha, Danita, dan Abian yang kini berkumpul di salah satu sudut ruangan. Beristirahat sebelum mendiskusikan rencana mereka berikutnya. Evan akan dengan senang hati bergabung jika saja saat ini ia tidak sedang menyusun rencananya sendiri.
__ADS_1
***