Monster In Me

Monster In Me
Tekad dan Keberanian


__ADS_3

“Oh, apalah jadinya nasibmu tanpa diriku?” tanya Firda sambil setengah mengejek. Dengan sengaja ia mengangkat satu alisnya dan memasang ekspresi angkuh. Ia tahu bahwa Adira sangat tidak suka melihatnya bertingkah seperti itu. “Kamu mungkin akan terus berkeliling tanpa arah dan pada akhirnya menyerah.”


“Tidak sampai seperti itu,” sanggah Adira sambil mengerucutkan bibir. “Dalam situasi seperti ini, jika kita menyerah, sudah pasti kita akan kalah. Selama masih berjuang, kita masih punya harapan.”


“Oke, oke. Tidak usah sok keren begitu, aku tahu kamu gadis yang kuat.” Firda menepuk pundak Adira sambil terkekeh. “Tapi tetap saja, kamu harus mengakui bahwa aku sangat berjasa kali ini.”


Mendengar itu, Adira lantas memutar bola matanya dengan malas. Namun, senyum lebar tersungging di bibirnya. Karena sesungguhnya, ia sendiri cukup merasa bersyukur mendapati bahwa ternyata Firda bukan hanya mengambil boneka tidak berguna, tetapi juga mengambil peta mini Taman Bermain Cakrabuana di toko baju yang mereka sempat tempati. Peta itu akan sangat membantu mereka untuk menemukan jalan, menentukan ke mana mereka akan melangkah selanjutnya.


Bagaimana bisa Firda menemukan peta itu tergeletak begitu saja di wilayah toko baju tadi? Entahlah, baik Adira dan Firda tidak tahu dan tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal itu saat ini.


“Baiklah. Sepertinya hujan di luar sudah berhenti. Mari kita pergi setelah melihat peta ini sekali lagi,” ucap Adira sambil duduk menyamankan diri, punggungnya masih bersandar kepada tiruan keranda dari Rumah Hantu yang mereka tempati. Firda juga ikut duduk di sampingnya, sambil mencondongkan tubuh agar dapat melihat peta kecil itu dengan jelas.


Kompak mata Adira dan Firda melebar bersamaan. Mereka lantas bertukar tatapan sebelum akhirnya Adira berbicara. “Inilah mengapa seharusnya kita lebih memperhatikan pengarahan dari Bu Danita.”


Firda mengangguk setuju. “Benar. Bisa-bisanya kita baru tahu bahwa wilayah Taman Bermain ini jauh lebih luas serta berbatasan dengan pantai. Padahal kita sempat melihat peta yang dipajang dengan gerbang masuk.”


“Mungkin perhatian kita saat itu terlalu fokus pada berbagai wahana yang ada di sini.”


“Mungkin saja.”


“Yang lalu biarlah berlalu,” ujar Adira akhirnya. Ia kembali menatap peta di tangannya lekat-lekat. “Sekarang, ayo, cari jalan keluar terdekat dari sini. Aku yakin, tempat seluas ini memiliki banyak jalan keluar. Meskipun yang biasa dibuka hanya beberapa.”

__ADS_1


“Menurutmu mereka mempunyai jalur keluar masuk khusus untuk pegawai? Aku tidak pernah melihat pegawai Taman Bermain melewati gerbang yang sama dengan pengunjung.” Firda berpikir sambil mengetuk dagunya sendiri. “Tentu saja maksudku Taman Bermain yang lain. Aku baru pertama kali ke sini.”


“Seharusnya tempat ini juga tidak jauh berbeda. Coba perhatikan gambar dinding ini.” Adira mengarahkan telunjuknya ke sisi terluar dari gambar peta. Telunjuknya bergerak mengikuti setiap lekukan garis itu. “Bukankah garisnya sedikit berbeda di beberapa titik? Terutama garis yang tidak memiliki gambar pohon di dekatnya.”


“Benar. Sepertinya bagian yang terdapat gerbang tidak diberi gambar pohon. Tapi gerbang terdekat cukup jauh dari sini,” keluh Firda sambil mengukur jarak di peta menggunakan jarinya. Dengan cepat ia mencoba memperhitungkan jarak yang sebenarnya. “Apa menurutmu kita masih bisa berharap akan ada bus antar wisata yang lewat.”


“Lupakan saja soal bus itu. Saat ini kita harus menganggap bahwa tidak ada satu orang pun yang akan datang menyelamatkan kita,” jawab Adira tegas.


Firda lantas mengerucutkan bibir. Ia sungguh merasa bahwa kata-kata Adira sungguh terlalu kejam dan memusnahkan segala bentuk harapan yang masih tersisa di benak Firda. Namun, harus ia akui bahwa ucapan Adira ada benarnya. Mereka tidak akan sampai ke mana-mana jika hanya terus terdiam dan berharap keajaiban akan datang.


Selama beberapa saat, mereka hanya terdiam. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri selama mereka mengamati peta itu. Adira sendiri cukup kesulitan untuk mempertahankan konsentrasinya. Sebab ia terus teralihkan oleh gambar berwarna-warni dalam peta tersebut.


Gambar maskot Taman Bermain Cakrabuana, yang berupa bunga matahari dengan wajah ceria tersenyum ke arahnya. Sementara gambar-gambar kartun berbentuk manusia yang berjalan bergandengan tangan juga menampilkan senyum yang tidak kalah menyilaukan. Seolah mengejek Adira yang belum sempat menikmati kebahagiaan yang seharusnya Taman Bermain persembahkan untuknya.


“Kita harus fokus. Sampai saat ini, kita mempunyai cukup barang pendukung untuk membawa kita keluar dari sini,” ucap Adira tiba-tiba. Tampaknya ia tengah mencoba menguatkan dirinya sendiri.


Firda yang mendengar itu lantas menarik napas panjang sebelum tersenyum. “Memangnya, apa saja yang kita punya?”


“Tekad dan keberanian.”


“Astaga.”

__ADS_1


“Aku serius.” Adira melipat peta di tangannya dengan hati-hati, dan menyimpannya jauh di dasar kantong celananya. “Kakakku selalu bilang, bahwa selalu ada urutan kekuatan di dunia ini. Di mana yang kuat mengalahkan yang lemah, sementara yang lemah hanya bisa pasrah dan menerima semua penindasan.”


Firda mengernyitkan kening kebingungan. Ia bahkan memelototi dan menyentuh wajah Adira, memastikan bahwa sahabatnya itu masih sehat dan tidak terserang penyakit apa pun yang mungkin bisa mengganggu kewarasannya. “Aku sungguh tidak mengerti maksudmu.”


“Maksudku adalah, kita tidak bisa hanya mengandalkan akal.” Adira mengepalkan kedua tangannya dengan kuat di sisi tubuhnya. Matanya menatap ke arah yang akan mereka lalui ketika ingin keluar nanti. “Pada mulanya, kita dan para zombie itu sama-sama manusia. Kita semua berada di tingkat yang sama. Namun, semuanya berubah karena para zombie kehilangan kesadarannya sekaligus semua keraguan dan ketakutannya. Mereka bisa menyerang tanpa ragu karena semua itu.”


“Jadi?” tanya Firda, masih tidak mampu memahami arah pembicaraan ini.


“Jadi, kita tidak boleh membiarkan mereka berubah menjadi makhluk yang lebih kuat dan lebih mampu untuk menindas kita. Kita harus bisa menguatkan tekad dan memupuk keberanian untuk menjadi makhluk yang berada di atas mereka.” Sejenak Adira menggigit bibirnya dengan kuat sebelum kembali berbicara. “Jika tidak, kita tidak akan lagi punya kesempatan. Kita hanya bisa pasrah seperti semut yang diinjak oleh sepatu bot.”


“Caranya?”


Adira menatap Firda tajam. Hampir membuat Firda bergidik ketakutan. “Buang segala rasa tidak tega maupun iba. Jangan lagi melihat mereka sebagai manusia. Dengan begitu, kita tidak akan lagi merasa ragu untuk menyerang maupun bertahan.”


Susah payah Firda menelan ludah. Suara Adira saat mengucapkan kalimat tadi sungguh tidak terdengar seperti Adira yang biasanya. Terdengar jelas bahwa sang sahabat sudah sangat membulatkan tekadnya sebelum mengatakan semua itu. Seharusnya Firda memujinya untuk itu, tetapi entah kenapa ia justru merasakan kegelisahan teramat sangat.


“A-apa kamu mengatakan semua ini karena aku mencegahmu memukuli zombie di kasir toko baju tadi?” tanya Firda ragu-ragu.


Salah satu sudut bibir Adira terangkat. “Entahlah.”


***

__ADS_1


__ADS_2