Monster In Me

Monster In Me
Turun


__ADS_3

Adira terdiam mendengar itu. Selama beberapa saat ia menyipitkan mata ke arah Firda, seolah ingin mencari tahu kebenaran dari ucapannya. Sebelum akhirnya ia menyeringai jahil.


“Kamu benar-benar luar biasa. Rupanya selama ini kamu mengetahui segalanya tapi memilih diam saja.” Adira mendecakkan lidah seolah kesal.


Terburu-buru Firda menggelengkan kepala. “Kenapa kesimpulanmu seperti itu? Aku hanya—“


“Itu pujian,” potong Adira. “Aku sungguh kagum kepada kemampuan analisismu. Mungkin seharusnya sejak awal aku memercayakan semuanya kepadamu.”


Firda mengerjapkan kedua matanya sambil menggaruk tengkuknya salah tingkah. “Kamu berlebihan.”


Adira hanya mengangguk pelan sebelum menarik napas panjang. “Kembali ke topik tadi. Aku sungguh berpikir bahwa keluargaku akan datang, atau bahkan sudah berada dalam perjalanan menuju kemari. Karena itulah, aku sangat ingin naik ke sini.”


“Untuk melihat situasi di balik dinding?” tanya Firda hati-hati.


“Benar sekali,” jawab Adira cepat. “Tentu saja selain itu, aku berpikir bahwa tempat ini adalah tempat yang bagus untuk bertahan hidup karena tidak ada zombie di sini. Tapi sebagian besar niatku adalah untuk melihat ke luar, atau kalau bisa, melompati dinding ini dan melarikan diri dari Taman Bermain ini untuk selamanya.”


“Tidak ada yang salah dengan itu.” Firda mendesah sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Melemaskan otot-otot yang terasa sangat tegang. “Meskipun sempat hampir celaka, kita benar-benar tidak bertemu dengan satu pun zombie di sini.”


Adira meremat jari-jarinya dengan kuat, berusaha menahan kegelisahan yang mulai menumpuk di dalam hatinya. “Aku setuju. Tapi aku tetap saja merasa kecewa, karena kupikir … kupikir meskipun aku tidak bisa melewati dinding ini, setidaknya mungkin aku akan melihat orang-orang yang sedang berusaha menolong kita. Bahwa mungkin keluargaku tengah terjebak karena tidak ada petugas yang mau membukakan gerbang kedua untuk mereka. Ternyata … semua yang kita lihat di balik dinding ini hanyalah puluhan kendaraan yang teronggok begitu saja tanpa pemilik.”


Mendengar itu, refleks Firda melihat ke belakang. Sekali lagi mengonfirmasi kebenaran dari ucapan Adira. Sejauh mata memandang, tidak terlihat satu pun makhluk hidup di dalam lahan parkir Taman Bermain Cakrabuana, bahkan kucing liar pun tidak ada. Meskipun mereka berdua tidak mengatakannya, Firda yakin bahwa mereka berpikiran sama. Bahwa kemungkinan besar tidak ada orang yang tengah mencoba menyelamatkan mereka di sini. Bahwa mungkin orang-orang di luar sana lebih memilih menikmati hari-hari mereka sendiri daripada repot-repot menolong orang yang tengah terjebak dalam serangan zombie yang terjadi tanpa peringatan.

__ADS_1


Bahwa bisa saja, pada akhirnya pihak berwenang akan mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan semua masalah ini. Seperti … meledakkan Taman Bermain Cakrabuana misalnya?


Terburu-buru Firda menggelengkan kepalanya. ‘Tidak mungkin! Dari banyaknya manusia yang terjebak di tempat ini, pasti setidaknya lebih dari setengahnya mempunyai keluarga yang menunggu mereka pulang. Para keluarga itu tidak akan membiarkan siapa pun meledakkan tempat ini.’ Firda menarik napas dalam-dalam. ‘Termasuk keluargaku dan keluarga Adira. Mereka pasti sedang mencari cara untuk menyelamatkan kami, kan?’


“Mereka pasti datang,” celetuk Firda kemudian. “Pegang kata-kataku. Kita pasti akan segera bertemu dengan keluarga kita. Cepat atau lambat. Tugas kita saat ini hanya bertahan hidup sampai saat itu tiba.”


Firda kira Adira akan segera menanggapi ucapannya dengan ketus. Seperti ‘Kalau itu aku juga tahu!’ atau ‘Iya, tapi bagaimana caranya kita bertahan? Tidak ada yang tahu kapan mereka akan datang.’ Namun, kenyataannya, tidak ada satu pun dugaannya yang menjadi nyata. Adira tampak hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk pakaiannya sendiri.


“Kamu benar. Akan sangat disayangkan jika kita menyerah, padahal ada banyak orang yang sedang berusaha menyelamatkan kita,” ucap Adira lembut. Kemudian ia menatap Firda lekat. “Jadi, menurutmu, apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang, Fir?”


Firda mengangkat sebelah alisnya ke arah Adira. “Kamu sebenarnya sudah tahu, kan, kalau aku ingin segera turun dari sini?”


“Tunggu! Kenapa begitu?” protes Firda dengan kening berkerut. “Kenapa aku merasa kamu tengah balas dendam kepadaku, dan bukannya sedang memujiku?”


“Aku sungguh sedang memujimu! Aku berani bersumpah!” Adira menjawab dengan lantang. Menunjukkan kesungguhan dirinya. Namun, ia tidak dapat menahan tawa kecil yang lolos dari bibirnya.


“Ah! Kamu tertawa! Benar, kan, kamu sedang mengerjaiku!”


“Tidak itu tidak benar!”


“Jangan bohong!”

__ADS_1


Kali ini Adira benar-benar tertawa terbahak-bahak melihat kepanikan di wajah Firda. “Baiklah, baiklah. Aku memang sedang menjahilimu. Sedikit. Tapi aku juga bersungguh-sungguh saat kubilang aku akan menurutimu. Aku sudah sangat lelah. Aku tidak ingin banyak berpikir setidaknya untuk beberapa jam ke depan.”


“Huh! Bilang saja kamu ingin menunjukkan kepadaku betapa sulitnya memimpin perjalanan.” Firda mendengkus, tetapi tidak lama kemudian ia menyunggingkan senyum tipis. “Aku mengerti. Kalau begitu, ayo, kita segera cari cara untuk turun.”


Adira menganggukkan kepala dan dengan berhati-hati ia kembali berdiri di atas dinding. “Sebaiknya kita kembali saja ke tempat kita naik tadi.”


“Bukannya kita sudah terlalu jauh berjalan untuk kembali?” Firda mengernyitkan keningnya kebingungan.


“Tidak. Kita berjalan terlalu lambat sampai belum menempuh perjalanan sejauh itu. Coba lihat!” Adira menunjuk salah satu pohon besar yang tumbuh sedikit berdempetan dengan dinding Taman Bermain Cakrabuana. “Itu pohon yang kita panjat tadi. Benar, kan? Aku masih ingat dengan bentuk ranting-rantingnya yang mengerikan. Aku sempat tidak mau memanjatnya karena takut salah satu ranting itu akan menusuk tubuhku.”


Mulut Firda lantas menganga. “Kita berdua memang sungguh payah,” keluhnya sebelum akhirnya ia merentangkan tangan ke samping. Berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya selagi ia berjalan menelusuri dinding.


Tepat di belakangnya, Adira melakukan hal yang sama. Bedanya, sesekali gadis itu menarik tangannya guna memukul pelan pundak maupun bagian tubuh lainnya yang sakit. Rupanya posisinya yang sempat bergelantungan berpegangan ke dinding menyiksa hampir seluruh tubuhnya. Adira hanya bisa pasrah membayangkan bahwa ia harus terus menahan semua rasa sakit itu sampai ia berhasil keluar dari Taman Bermain dengan selamat.


Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai ke tempat tujuan. Mungkin karena mereka mulai terbiasa berada di ketinggian sehingga tidak lagi banyak berhenti karena ketakutan. Firda sendiri sudah tidak lagi banyak mengeluh. Dengan cekatan ia duduk di atas dinding saat sudah berada di dekat pohon besar yang tadi mereka bicarakan. Perlahan-lahan menjulurkan kakinya untuk meraih dahan terdekat yang terlihat cukup kuat untuk menahan bobot tubuhnya.


“Tunggu! Berhenti! ucap Adira tiba-tiba sambil memegang lutut Firda. Mencegah sang gadis untuk turun.


Firda sempat akan melayangkan protesnya saat ia mendengar suara geraman yang tidak lagi terdengar asing di telinga.


***

__ADS_1


__ADS_2