Monster In Me

Monster In Me
Taka, Si Pembuat Onar


__ADS_3

“Wah! Ini baru yang namanya mahakarya!” seru Taka sambil melihat hasil perbuatan tangannya dengan bangga. Ia mengambil sebuah batu untuk menancapkan pecahan kaca besar ke dada zombie yang telah ia timpa terlebih dahulu dengan batu besar agar tidak bisa bergerak. Pemuda itu melakukan semuanya dengan seringai mengerikan. Siapa pun yang melihatnya saat ini akan bergetar ketakutan.


Taka memperlakukan zombie layaknya hewan hina yang mampu ia perlakukan seenaknya. Ia ‘mendandaninya’ menggunakan berbagai barang yang ia temukan dan melepaskan zombie itu begitu saja. Layaknya seorang Raja, tidak ada satu pun zombie yang berani menyerang Taka. Entah karena memang Taka sudah mendapat banyak sekali luka gigitan, atau karena sikap kejam sang pemuda mampu membuat para zombie bertekuk lutut di hadapannya.


Yang pasti pemuda itu sangat menikmati pencapaiannya saat ini.


“Di sekolah mana bisa aku bermain-main seperti ini,” celetuknya sambil mengukir wajah salah satu zombie dengan menggunakan potongan jari zombie lainnya. “Lumayan menyenangkan juga, Apa aku tinggal di tempat ini saja selamanya? Yah, bisa kupertimbangkan. Selama tidak ada lagi manusia menyebalkan yang tersisa.”


Ingatannya kembali menampilkan sosok Zean yang sempat menyudutkannya hingga ia terpaksa melarikan diri. Sampai saat ini Taka masih menyimpan dendam. Ia berniat untuk menghancurkan Zean dan adiknya, tanpa mengetahui bahwa Helsa sudah meninggal dunia karena ulahnya juga.


“Ah, lagi-lagi kalian pergi ke arah sana! Memangnya apa yang menarik dari lagu itu?” omel Taka setelah ia memutuskan untuk melepaskan para zombie yang kini memiliki banyak benda tajam menancap di berbagai bagian tubuh mereka. “Apa aku ikuti saja? Pasti ada seseorang yang sengaja memutar lagu ini, kan? Tunggu. Kalau mereka memang berniat memancing para zombie untuk pergi ke arah sana, berarti ….”


Taka bangkit dan menepuk kedua telapak tangannya dengan semangat. “Sekarang mereka pasti tengah berkumpul di depan gerbang keluar seperti serangga yang mengerubungi lampu. Aku harus ke sana dan memberikan salam.”


Dengan itu, Taka beranjak pergi dari tempatnya menghabiskan waktu selama beberapa jam belakangan. Meninggalkan beberapa zombie yang masih terjebak di bawah bebatuan. Menggeliat dengan tangan terulur. Berusaha meraih apa pun yang bisa membuat mereka meloloskan diri.


Taka menikmati perjalanannya dengan memberikan ‘tanda’ pada setiap zombie yang ia temukan. Baik itu berupa goresan yang ia buat menggunakan tiang besi berujung runcing, maupun hantaman di kepala. Sengaja ia tidak membuat zombie-zombie itu hancur atau benar-benar mati, sebab Taka sendiri merasa bahwa jumlah zombie mulai berkurang drastis. Jangan sampai ia kehilangan hal yang membuatnya senang hanya karena ia tanpa sengaja membuat para zombie itu punah.


“Dasar! Padahal seharusnya, jumlah mereka bertambah karena mereka terus menggigit semua manusia yang masih bertahan. Oh! Aku lupa kalau zombie di sini sedikit berbeda.” Setelah puas menggerutu, Taka lantas bersenandung riang.

__ADS_1


Kedua matanya berbinar saat ia melihat Danita yang tengah terlihat panik di hadapan tiga remaja. Taka mengenali semuanya, sehingga ia menyiapkan senyum terbaik untuk menyapa.


Tentu saja sambil memegang erat tongkat besi di tangan.


“Bagaimana bisa Abian tergigit?” terdengar Danita bertanya dengan suara bergetar.


Evan menghela napas lelah. “Harus berapa kali aku bilang? Aku benar-benar tidak menyangka bahwa ada zombie yang bersembunyi di bawah meja. Setelah menyadarinya, aku langsung memperingatkan Abian untuk mundur, tetapi dia bersikeras ingin mengambilkan kunci ini untuk kita semua,” jelas Evan sambil memperlihatkan sekumpulan kunci di tangannya.


“Ya, sudah. Bagaimana kalau sekarang kita coba membuka gembok di gerbang dengan kunci itu? Setelah itu baru kita melihat kondisi Abian di dalam Pos Satpam,” usul Firda yang sedari tadi berusaha untuk terlihat tenang. Padahal jauh di dalam hati ia takut luar biasa karena merasa ada sesuatu yang tidak beres.


Kekhawatiran Firda terjawab dengan datangnya Taka dari belakang mereka. Pemuda itu datang sambil menggores aspal dengan tongkat besinya, membuat orang lain meringis ngilu.


“Ta-Taka?” Trisha menatap horor pemuda yang sangat ia benci itu. “Ka-kamu masih hidup?”


“Taka, buang dulu tongkat itu!” Dengan waspada Danita mendekati Taka. Sang guru muda sebenarnya sangat takut melihat ekspresi Taka yang tidak biasa, tetapi ia mencoba memberanikan diri. Meskipun terlihat mengerikan, dan Danita tidak tahu apa yang bisa Taka perbuat, pemuda itu tetaplah anak muridnya. “Evan berhasil menemukan kunci untuk membuka gerbang. Kita semua bisa keluar dari tempat ini bersama-sama.”


Taka mengerucutkan bibir dan memiringkan kepalanya. “Pertama, aku tidak bisa membuang tongkat ini, Bu. Bagaimana jika ada zombie menyerang? Atau mungkin saja salah satu dari anak murid tercintamu ini berniat untuk mencelakaiku.”


“Apa? Untuk apa kami melakukan itu?”

__ADS_1


“Kedua.” Taka terus berbicara tanpa memedulikan pertanyaan Trisha. “Apa tadi Ibu bilang? Keluar? Siapa bilang aku mau keluar dari sini?”


Pertanyaan terakhir Taka itu menjadi pemicu untuk semua orang bangkit dan waspada. Terutama Firda yang kini telah bersiap untuk bertarung jika saja Taka tiba-tiba mengamuk. Hanya Danita yang tetap membiarkan tangannya di kedua sisi tubuh. Ia masih mencoba mengajak Taka bicara.


Evan sendiri mulai melangkah mundur sedikit demi sedikit. Jalan keluar sudah di depan mata. Ia sungguh tidak perlu terlibat dalam masalah lainnya.


“Jangan bergerak!” larang Taka memperingatkan. Masih sambil cemberut ia mendelik ke arah Evan. “Bukankah aku sudah bilang, aku ini penakut. Bagaimana jika kamu tiba-tiba berlari dan menerjangku? Hah? Jangan bergerak sedikit pun atau aku akan menghantamkan benda di tanganku ini ke kepalamu!”


Mendengar itu, Evan justru berbalik dan berlari secepat mungkin. Hanya butuh beberapa langkah untuknya sampai ke depan gerbang. Pemuda itu berteriak saat menyadari Taka benar-benar mengejarnya. “Bu Danita! Lakukan sesuatu!”


Tanpa diminta pun, Danita sudah mengejar Taka dengan sekuat tenaga, meskipun ia ragu akan bisa melakukannya. Firda lantas membantu dengan melemparkan kayu reruntuhan ke kaki Taka hingga pemuda itu tersandung. Danita langsung menahan pergerakan Taka dengan menimpa tubuhnya sambil menggumamkan permintaan maaf.


Taka justru tertawa keras. “Hah! Dasar kalian para serangga nakal! Kalian tidak boleh nekat mencoba menjadi predator seperti ini!” teriaknya, sebelum ia mengerang sekuat tenaga dan membalik tubuhnya. Bobot tubuh Danita rupanya bukan apa-apa bagi pemuda gila sepertinya. Danita menjerit dan berakhir jatuh tersungkur ke atas aspal.


“Cepat buka, Evan! Cepatlah!” teriak Trisha yang kini berlari menyusul Evan. Gadis itu benar-benar tega meninggalkan Danita sementara Firda berdiri mematung di tempat.


‘Apa aku sungguh akan meninggalkan seseorang lagi?’ Benak Firda berkecamuk. Hampir saja ia mencakar wajahnya sendiri saking kebingungan.


Jeritan nyaring Trisha memutus lamunan Firda. Ia lantas menolehkan kepalanya ke sumber suara dan membelalak.

__ADS_1


***



__ADS_2