Monster In Me

Monster In Me
Tolong atau Tinggalkan


__ADS_3

Sontak Firda terdiam meskipun ia sangat ingin protes. Namun, tidak butuh waktu lama sampai ia akhirnya mengerti mengapa Adira bersikap seperti itu. Dari posisinya saat ini, ia dapat mendengar dengan jelas suara yang sedari tadi mereka cari. Dan suara itu sama sekali tidak terdengar seperti geraman zombie, melainkan seperti erangan manusia yang kesakitan.


Lebih tepatnya, erangan anak kecil yang kesakitan.


Kedua mata Firda lantas melebar. Dengan segera ia berdiri dan mencoba membalikkan tong besi itu, tetapi kedua tangan Adira mencegahnya. “Kenapa?”


Adira menggelengkan kepala dengan dahi berkerut. “Biarkan saja. Yang penting kita sudah tahu bahwa tidak ada bahaya di sekitar sini. Ayo, kita pergi!”


Tentu saja Firda tidak mengindahkan ucapan Adira dan meneruskan niatnya untuk mencari tahu siapa yang kini tengah bersembunyi di balik setengah tong besi itu. Tidak butuh banyak tenaga untuknya mencari tahu, karena ternyata tong itu jauh lebih ringan dari yang ia duga. Dengan segera ia disambut pemandangan yang membuatnya ingin menangis tersedu-sedu di tempatnya.


Seorang bocah laki-laki yang tampak berusia di bawah 10 tahun tengah meringkuk sendirian di dalam dengan tubuh penuh luka. Bocah itu sama sekali tidak bereaksi saat Firda mencoba menyentuh pundaknya dan terus saja merintih kesakitan. Pakaian yang ia kenakan sudah banyak terkena noda tanah dan darah serta dihiasi sobekan di beberapa tempat, tetapi Firda sama sekali tidak menemukan bekas gigitan maupun cakaran di tubuh bocah itu. Setidaknya, setelah ia lihat secara sekilas. Ia masih harus memastikan dengan meminta bocah itu duduk dengan benar.


Lagi-lagi Adira mencegahnya saat Firda baru saja akan mengajak anak kecil itu bicara. “Dia masih hidup dan akan tetap begitu karena luka-lukanya tidak parah. Jangan buang waktu!” Tanpa hati Adira mengatakan semua itu.


Firda membelalakkan mata tidak percaya. “Kita harus menolongnya! Pasti ada sesuatu yang bisa kita lakukan!”


“Dia bisa saja sudah jadi zombie! Menolong manusia saja kita tidak bisa, apalagi zombie!”

__ADS_1


“Dia sama sekali tidak terlihat seperti zombie untukku.” Firda menatap sang bocah sekali lagi. “Setelah dipikirkan lagi, sejak semua kekacauan ini terjadi, aku belum pernah melihat zombie anak kecil. Bukannya kamu juga sama?”


Ucapan Firda itu berhasil membuat Adira terdiam. Gadis yang masih belajar untuk lebih memperhatikan sesama itu lantas mulai mendekati sang bocah. Dengan ragu-ragu ia menyentuh pundak bocah itu. Hanya sedikit, sepertinya ia sendiri takut anak itu akan tiba-tiba menyerangnya. Setelah memastikan bahwa sama sekali tidak ada yang perlu ia khawatirkan, Adira mulai mencoba membantu anak itu untuk duduk, bersama dengan Firda.


Semua keributan dan sentuhan tangan kedua gadis itu tidak membuat sang anak serta merta membuka matanya. Ia masih tetap terpejam dan merintih pelan. Tampaknya kesadarannya perlahan-lahan mulai menghilang.


“Malang sekali nasibnya. Apa saja yang telah dia saksikan sampai shock seperti ini?” ucap Firda dengan lemas. Matanya mulai terasa lembap oleh semua kesedihan yang hampir meluap.


“Tentunya bukan hal baik. Sama seperti yang terus kita hadapi selama berada di sini,” jawab Adira ketus. Kini ia telah berdiri dan tampak sudah siap untuk kembali meneruskan perjalanan. “Tidak ada yang salah dengannya, jadi kita tidak perlu membantunya. Ayo, pergi!”


“Aku tidak punya adik, Fir.”


“Bayangkan saja!” Tanpa sengaja Firda membentak Adira. “Pokoknya aku ingin menolong anak ini. Terserah kamu mau membantuku atau hanya akan berdiri menyaksikan semuanya. Terserah!”


Adira menatap Firda tidak percaya saat Firda mulai membaringkan anak kecil yang mereka temukan. Ia menepuk-nepuk pipi anak itu, mencoba membangunkannya. Butuh beberapa menit sampai akhirnya sang anak mau membuka mata, tetapi ia malah berakhir menangis semakin keras sehingga Firda kebingungan dibuatnya.


Semua itu membuat kepala Adira berdenyut dengan menyakitkan hingga ia memijatnya kuat-kuat. Tidak peduli seberapa keras ia mencoba memahami sikap Firda saat ini, ia tidak kunjung berhasil melakukannya. Ia hanya melihat bahwa Firda telah bertindak ceroboh hanya karena ingin bersikap pahlawan dengan menolong seorang anak kecil yang sama sekali tidak mereka ketahui asal-usulnya. Padahal situasi mereka saat ini juga masih jauh dari kata aman.

__ADS_1


“Sekarang apa?” tanya Adira ketus. “Kita tidak punya air mineral atau bahkan makanan untuk kita tawarkan kepada anak itu. Tidak ada juga obat-obatan untuk merawat luka-lukanya. Semua ini percuma, Fir!”


“Tetap saja aku tidak hanya akan diam dan pasrah, atau lebih parah, membiarkannya bertahan hidup seorang diri di tempat mematikan seperti ini,” sindir Firda. Ia kini tengah memeluk anak itu sambil mengusap-usap punggungnya.


Adira menyugar rambutnya dengan frustrasi. Berkali-kali ia menarik napas panjang guna mencegah amarahnya meledak begitu saja. Biar bagaimanapun, saat ini ia dan Firda hanya memiliki satu sama lain. Mereka tidak boleh terpecah hanya karena perdebatan biasa. “Coba pikirkan dengan baik, Fir. Kamu saja yang merupakan orang lain tidak tega untuk meninggalkannya, apalagi orang yang mengenalnya. Jadi, kenapa dia bisa di tempat ini sendirian? Ada yang aneh.”


“Memangnya kenapa kalau ada yang aneh? Semua yang terjadi di tempat ini juga tidak masuk akal, kan?” Firda kembali mencoba membantah Adira.


“Baiklah. Sekarang pikirkan sisi lainnya.” Tanpa menyerah Adira terus meyakinkan Firda untuk segera pergi meninggalkan sang anak. “Seandainya kita benar-benar membawanya bersama kita, apa kita akan mampu untuk terus menjaganya? Kita saja sudah berkali-kali hampir mati! Jangan ambil risiko, tinggalkan saya di tempat yang terlihat cukup aman dan segera pergi dari sini.”


Firda menggigit bibir bawahnya dengan kuat hingga hampir menimbulkan luka. Ia menolak menyetujui ucapan Adira, tetapi sesungguhnya jauh di dalam hati ia tahu bahwa Adira benar. Mereka hanyalah dua gadis remaja yang tidak memiliki banyak kemampuan bertahan hidup. Hampir mustahil bagi mereka menjaga seorang anak di tengah semua ketidakpastian yang menghantui.


Namun, yang lebih membuat Firda merasa kesal adalah bagaimana Adira tidak pernah berubah. Gadis itu selalu saja memutuskan semuanya berdasarkan logika, tanpa sedikit pun melibatkan perasaan. Padahal jika Firda bersikap sama sepertinya, mungkin ia tidak akan pernah menolong Adira saat gadis itu menggantung di atas dinding yang tinggi beberapa saat lalu, karena perbuatan itu jauh lebih berisiko daripada memungut seorang anak kecil yang mereka temukan di jalan.


Firda sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan merasa sedikit menyesal telah menyelamatkan nyawa Adira.


***

__ADS_1


__ADS_2