
Kedua kaki Firda tidak berhenti berlari dengan kecepatan penuh meskipun kini dadanya terasa seperti terhimpit dan terbakar hebat. Sulit sekali baginya untuk bernapas, pandangannya juga mulai bergoyang. Namun, ia tidak bisa berhenti untuk beristirahat. Meskipun tidak banyak zombie di sekitar, Firda tetap merasa tengah dikejar-kejar.
Mungkin yang tengah mengejarnya bukanlah mayat hidup seperti yang ia bayangkan, tetapi rasa bersalahnya karena meninggalkan sahabatnya dan seorang anak kecil begitu saja. Dan hal ini ternyata jauh lebih mengerikan dibandingkan zombie.
Karena penyesalan akan selalu mampu menghantuinya, tidak peduli ke mana pun ia bersembunyi.
Tiba-tiba Firda tersandung dan menghantam aspal dengan keras, melukai lutut, telapak tangan dan dagunya. Gadis itu mengaduh kesakitan sambil terduduk lemas. Sepertinya memang hanya terjatuh satu-satunya jalan untuknya berhenti berlari.
“Apa seharusnya aku kembali menjemput mereka berdua?” Ia bertanya-tanya di tengah isak tangis tanpa air mata. “Tidak mungkin. Aku sudah bertindak sejauh ini. Kalau aku kembali, apa gunanya? Tidak ada jaminan bahwa mereka berdua masih manusia saat ini.”
Hingga kemudian lagu di pengeras suara kembali terdengar nyaring. Refleks Firda menegakkan tubuh dan menoleh ke sana kemari. Sebelumnya ia sudah mendatangi kantor Pusat Informasi dan mendapati bahwa tempat itu telah dirubungi oleh begitu banyak zombie hingga hampir tidak dapat dikenali. Firda yakin bahwa Evan dan siapa pun yang sempat berada di sana pasti sudah pergi ke tempat tujuan.
Benar. Firda percaya pada instingnya bahwa tindakan menyalakan lagu ke setiap pengeras suara yang masih berfungsi di Taman Bermain sengaja dilakukan karena Evan berencana untuk pergi ke suatu tempat setelah ia berhasil memancing para zombie untuk berkumpul. Tampaknya, seluruh pengalaman yang didapat selama tiga hari ini membuat otak Firda mampu berpikir lebih cepat. Gadis itu kini tengah berusaha mencapai gerbang keluar Taman Bermain Cakrabuana dengan harapan akan bertemu dengan para penyintas lainnya.
Teringat kembali akan tujuannya membuat Firda kuat untuk berdiri dan segera berlari kembali menuju gerbang. Ujung gerbang besi tersebut telah terlihat di balik beberapa bangunan. Hanya perlu melewati beberapa meter lagi untuk Firda sampai. Hingga akhirnya, dari kejauhan, ia melihat sekumpulan orang tengah berjalan mondar-mandir di dekat kunci geser dan gembok gerbang besar. Sepertinya mereka belum menemukan cara untuk membukanya secara paksa.
“I-Ibu Danita!” teriak Firda setelah mengenali sosok perempuan yang tengah membelakanginya.
Sang guru yang namanya baru saja dipanggil lantas berbalik. Ia tercengang mendapati salah satu siswa di sekolah tempat ia mengajar tengah berjalan terseok-seok ke arahnya. Dengan segera Danita menghampiri Firda, ditemani oleh Abian yang juga menyadari kehadiran sang gadis. Sementara itu, Trisha dan Evan memilih untuk tetap fokus mencari cara untuk keluar.
“Firda! Kamu Firda, kan? Ya ampun, Nak. Ternyata kamu masih selamat.” Danita mengucap syukur sambil memeluk anak muridnya. Setelah itu ia mengamati tubuh Firda dari atas sampai bawah, memastikan bahwa sang gadis tidak menderita luka berat. “Kamu sendirian saja selama ini?”
__ADS_1
“Fir, mana Adira?” tanya Abian tidak sabar. “Bukankah kalian selalu bersama? Apa dia menunggumu di suatu tempat?”
Sungguh Firda tidak bisa mengatakan apa pun. Lebih tepatnya, ia tidak ingin. Bagaimana respons yang akan diterimanya nanti jika semua mengetahui bahwa Adira ia tinggalkan begitu saja?
Sebuah ide terlintas di benak Firda, dan gadis itu menggunakannya tanpa pikir panjang. “Adira sudah tiada.”
“Apa?”
Bukannya hanya Danita dan Abian yang menjerit terkejut, tetapi juga Trisha dan Evan yang selama ini tidak begitu memedulikan keberadaan Adira. Firda mungkin akan merasa bahwa situasi saat ini cukup menghibur jika saja ia tidak sedang berbohong.
Sebenarnya, ia tidak yakin apakah Adira masih hidup, telah menjadi zombie, atau benar-benar mati. Namun, sepertinya mengatakan bahwa sahabatnya itu telah mati adalah pilihan terbaik, karena kemungkinan besar ia tidak harus menjelaskan detailnya.
Firda mulai menangis tersedu-sedu. Apalagi kini ia merasa telah menjadi manusia paling buruk di dunia.
Serupa dengan Firda, Abian juga kini tanpa gengsi telah membiarkan air matanya mengalir deras. Pemuda itu harus mengusap matanya berkali-kali untuk memperjelas penglihatannya. “Malang sekali nasib Adira. Semoga ia segera bertemu dengan Karsa di alam sana.”
Kedua mata Firda serta merta melebar. “K-Karsa?”
“Iya, Karsa.” Abian menarik napas panjang dari hidungnya yang kini mampet, menimbulkan suara nyaring yang terdengar tidak nyaman di telinga. “Bedanya, dia belum benar-benar mati. Dia telah menjadi salah satu zomb—“
“Sudah cukup, Abian!” tegur Danita tiba-tiba. “Firda pasti sudah sangat lelah dan menderita menghadapi semuanya seorang diri. Biarkan dia menenangkan diri lebih dulu.”
__ADS_1
Firda menggigit bagian dalam pipinya dengan gelisah. Meski terpotong, ia tahu betul apa yang tadi Abian coba katakan kepadanya. Karsa telah menjadi zombie.
Dan jika Firda boleh jujur, ia pikir Adira juga telah berubah menjadi makhluk yang sama dengan Karsa.
Namun, untuk saat ini, ia hanya akan menikmati perhatian dari Danita dalam diam. Menyingkirkan berbagai pikiran lain yang kini menghuni benaknya. ‘Seandainya tadi aku tidak meninggalkan Aron, kesejahteraan Aron pasti akan lebih terjamin sekarang setelah ada Bu Danita.’
“Kami semua sedang mencari cara membuka gerbang ini, selama para zombie teralihkan oleh suara yang terpusat di Pusat Informasi.” Suara Danita membuat lamunan Firda terputus. Sang guru kini tampak tersenyum ke arahnya sambil menunjuk Evan dengan bangga. “Semua ini berkat idenya Evan dan kerja sama teman-teman semua. Ibu yakin, jika kita terus bekerja sama seperti ini, kita pasti akan bisa keluar dari tempat ini.”
“Tentu saja bisa. Dengan mengorbankan seseorang satu per satu seperti yang Evan lakukan kepada Pak Gunawan,” celetuk Trisha yang lantas mendapat teguran dari Danita. “Apa? Aku hanya mengatakan fakta! Tunggu saja, sebentar lagi pasti ada yang Evan korbankan lagi.”
“Terserah kamu saja,” jawab Evan santai sambil terus memukulkan batu ke gembok yang terpasang di pagar. “Setidaknya aku lebih baik dari seseorang yang hanya terus menjerit dan meminta diselamatkan.”
“Apa katamu?”
“Evan, Trisha, sekali lagi Ibu mohon, hentikan!” Danita mulai berteriak. Ia sungguh merasa kepalanya berdenyut hebat karena terus mendengar pertengkaran serta suara batu yang beradu dengan besi. Belum lagi lagu Taman Bermain yang masih terdengar meski sayup-sayup. “Yang lalu biarlah berlalu! Sekarang kita fokus kepada masalah yang paling penting! Gembok besi itu tidak mungkin terbuka begitu saja!”
Evan mendecakkan lidah dengan kesal sebelum membanting batu di tangannya dan berjalan menjauh. Ia mengusak kepalanya hingga rambutnya berantakan, tetapi ia sama sekali tidak peduli. Yang ia inginkan hanyalah berada sejauh mungkin dari orang-orang tidak berguna nan berisik itu.
***
__ADS_1