
“Semuanya sudah siap?” Danita melihat para murid yang masih bertahan bersamanya satu per satu. Memastikan semuanya telah berdiri tegak dan siap untuk melanjutkan perjalanan kembali.
Guru muda itu merasakan Trisha yang berdiri di sampingnya, meremat tangannya dengan sedikit bergetar. Namun, ia hanya membiarkannya tanpa mengatakan apa pun. “Kalau sudah, kita berangkat sekarang. Tolong pimpin jalannya, Pak Gunawan.”
Gunawan mengangguk dan baru saja akan berbalik saat Trisha tiba-tiba berteriak. “Tu-tunggu! Apa kita sungguh akan meninggalkan Karsa begitu saja? Bagaimana jika kita akhirnya bertemu dengan regu penyelamat dan … dan mereka punya obat untuk mengembalikan zombie menjadi manusia? Mungkin seharusnya kita bawa Karsa bersama kita.”
“Dan kamu yang akan menggandeng tangannya? Atau bahkan menggendong tubuhnya? Aku akan setuju hanya jika kamu bersedia melakukannya,” jawab Evan ketus. Ia tidak lagi menahan diri di depan Trisha, gadis yang sempat ia sukai. Satu-satunya yang Evan pikirkan saat ini adalah keselamatannya sendiri.
“A-apa? Tentu saja tidak!” tolak Trisha. Buru-buru ia melihat ke pemuda di sampingnya. “Mungkin Abian mau. Dia, kan, cukup pengalaman soal zombie.”
“Enak aja! Hanya karena aku menyukai film horor dan thriller, bukan berarti aku juga menikmatinya di dunia nyata!" Abian mengibaskan kedua tangannya dengan heboh. “Sebenarnya aku juga tidak tega, tapi mau bagaimana lagi? Dia bukan lagi Karsa yang kita kenal! Jadi, sebaiknya kamu cepat melupakannya, Trisha!”
“Jadi itu maumu? Baiklah, kita lihat saja nanti! Saat giliranmu datang, apa kamu juga akan suka ditinggal begitu saja oleh teman dan gurumu?”
“Abian, Trisha, tolong tenanglah!” tegur Danita akhirnya. Ia sedikit melirik ke arah Evan yang tetap terdiam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Danita terus merasakan ada sesuatu yang aneh dari Evan, tetapi ia sendiri tidak tahu apa itu. Daripada terus memikirkannya, Danita memilih untuk mencoba fokus kepada hal yang positif, salah satunya adalah bagaimana Evan mampu menahan dirinya agar tidak terlibat perdebatan berkepanjangan dengan Trisha maupun Abian.
__ADS_1
Karena jika ketiga muridnya benar-benar akan terus mencela satu sama lain tanpa henti, Danita tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.
“Tidak ada satu orang pun dari kita yang akan membawa Karsa,” lanjut Danita lagi setelah Trisha dan Abian diam. “Karsa akan baik-baik saja di sini. Kita tidak pernah melihat sesama zombie saling menyakiti. Jadi, jika sampai yang dikatakan Trisha benar terjadi, bahwa ada obat penyembuh untuk semua ini, kita hanya perlu kembali kemari bersama petugas berwenang.”
Gunawan yang berdiri di samping Danita lantas mengangguk. “Bu Danita benar, anak-anak. Lagipula, kalaupun kita memaksakan diri untuk membawa Karsa, kita hanya akan membahayakan diri kita sendiri. Untuk saat ini, ayo, fokus kepada keselamatan bersama.”
Evan mengangguk dengan malas di samping Abian yang menghela napa lega. Sementara itu, Trisha tampak tidak menyukai keputusan gurunya dan terus melirik ke arah Karsa yang kini tidak banyak bergerak di balik kain penutup yang Danita pasangkan kepadanya. Kedua mata Trisha menatap dengan sendu. Meskipun ia belum menyukai atau bahkan mencintai Karsa terlalu dalam, tetap saja sang pemuda mempunyai tempat istimewa di hatinya.
Oleh karena itu, seberapa pun sering Karsa mengusirnya pergi, Trisha tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan Karsa. Seberapa pun jelasnya Karsa memperlihatkan rasa tidak sukanya, sang gadis tetap menempelinya bagai perangko. Sosok yang Trisha lihat hanyalah sosok keren Karsa yang selalu bersikap tenang dan berusaha keras untuk mencapai semua yang diinginkan. Termasuk saat Karsa berusaha keras memenangkan hati Adira. Tidak peduli seberapa sakit Trisha menyaksikannya, Trisha menerima semuanya dan terus semangat mendekati Karsa.
Dan kini ketika salah satu penyemangat hidupnya harus pergi karena penyebab yang tidak pernah ia sangka-sangka sebelumnya, cukup sulit bagi Trisha untuk menerima semuanya.
“Hati-hati. Perhatikan ke mana kamu berpijak,” titah Gunawan sambil berpegangan erat pada salah satu tiang replika istana kerajaan yang sempat menjadi tempat mereka bernaung. Pria itu bergerak turun dengan sangat hati-hati. Menjaga diri agar tidak terjatuh sekaligus memeluk pipa besi panjang yang baru saja ia lepaskan dari pinggiran balkon. “Kalau merasa tidak sanggup, tunggu saja. Bapak akan carikan benda lain untuk dijadikan pijakan.”
Trisha yang hendak turun tepat setelah Gunawan, hampir menjerit karena kedua tangannya licin oleh keringat. Ia memeluk erat tiang dengan seluruh kekuatannya. Tidak sedikit pun ia berani bergerak turun, meskipun Evan yang tengah menunggu giliran terus meneriakinya dengan tidak sabar. “Pak Gunawan bilang akan mengambilkan aku sesuatu!” Trisha balas berteriak sambil berusaha kembali ke balkon.
__ADS_1
Di bawah, Gunawan yang sempat berlari menjauh kini kembali sambil mendorong sebuah tong besi besar, masih sambil memeluk pipa. Suara yang ditimbulkan dari gesekan tong dan aspal cukup nyaring hingga membuat semua orang menahan napas tanpa sadar. Cepat atau lambat mereka akan segera menarik perhatian para zombie di sekitar. Mereka harus bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
Trisha dan kawan-kawan serta Danita belum juga turun dari balkon lantai dua, dan tong besi yang Gunawan bawa tidak banyak membantu. Mereka tetap harus berpegangan kepada tiang untuk meluncur turun. Padahal mereka tidak lagi mempunyai banyak energi tersisa.
Sang guru pria berinisiatif menyimpan pipa di atas aspal, lalu naik ke tong besi dan merentangkan tangannya ke atas. Berjaga-jaga jika ada yang terjatuh saat mencoba turun.
“Tenang, Trisha. Tidak apa-apa. Kalau tidak kuat, lepaskan saja,” ucap Gunawan saat ia melihat Trisha mulai menangis dengan mata terpejam serta tubuh bergetar hebat.
Akhirnya, entah karena kehabisan tenaga atau memang memercayai Gunawan sepenuhnya, Trisha melepaskan pegangannya dan berakhir ditangkap oleh Gunawan. Setelah cukup tenang, gadis itu akhirnya berhasil mendarat dari tong besi dengan selamat.
Tidak lama kemudian, Evan, Abian, dan Danita berhasil turun tanpa kesulitan yang berarti. Dalam sekejap mereka kini berjalan dalam satu barisan, dengan Gunawan tetap memimpin di depan, sementara Danita berjaga-jaga di belakang. Mereka semua memegang pipa besi panjang yang direntangkan dari depan ke belakang. Membentuk pagar tersendiri. Rencana mereka hampir berjalan dengan sangat mulus, jika saja Gunawan tidak mendapat serangan mendadak dari zombie yang tersembunyi di balik reruntuhan stan aksesoris.
“Argh! Tidak apa-apa! Bapak bisa atasi ini!” teriak Gunawan sambil menahan kepala zombie menggunakan kedua tangannya dengan sekuat tenaga.
Pria itu lantas terjatuh ke atas aspal, masih sambil menahan leher zombie sekuat tenaga. Zombie yang wajahnya tidak lagi berbentuk itu terus menggeram di depan wajah sang guru, sementara keempat orang lainnya hanya bisa menjerit tanpa benar-benar memberikan bantuan. Abian yang putus asa akhirnya melepas pegangannya dari pipa, mengambil ancang-ancang, dan berlari menuju zombie di depan Gunawan.
__ADS_1
Bruk!
***