Monster In Me

Monster In Me
Padahal Dia Sudah Menolak


__ADS_3

Tubuh pemuda itu berdiri terpaku saat ia melihat apa yang tengah layar ponselnya tampilkan ke depan matanya. Sesama manusia saling menyerang, beberapa di antaranya meraung dan menggigit layaknya monster haus darah. Situasi di sekitar yang penuh dengan warna-warna ceria tidak lagi tampak menyenangkan. Justru sebaliknya, Adnan merasa bahwa ia tengah menonton video simulasi dunia tempat peradilan amal buruk manusia.


Adnan tidak pernah tahu penampakan neraka yang selalu orang tuanya sebut. Ayah dan ibunya terbiasa mengancamnya dan Adira bahwa jika mereka berperilaku buruk, mereka akan berakhir di neraka. Adnan tidak pernah bergetar ketakutan mendengar hal itu. Namun, kini ia hampir terjatuh karena merasa ngeri mendapati bahwa manusia juga bisa berubah menjadi lebih ganas dari binatang paling liar sekalipun.


“Tidak mungkin! Ini pasti editan, kan? Atau terjadi di Taman Bermain lain, bukan Taman Bermain Cakrabuana! Benar, kan?” teriaknya frustrasi. Dengan jari-jarinya yang bergetar, ia mencoba mencari tahu sumber dari video itu. Ternyata cukup banyak kanal yang telah mengunggah video serupa, dan tidak sedikit di antaranya merupakan kanal miliki televisi swasta yang selalu memberikan berita terpercaya.


Namun, hal itu tidak serta merta membuat Adnan memercayai semuanya. Dengan segera ia berlari keluar menuju lantai bawah. Meninggalkan ponselnya yang kini jatuh tergeletak di atas lantai kamar. Pemuda itu sangat tergesa-gesa hingga tersandung kaki sendiri dan ia hampir jatuh berguling menuruni tangga.


“Adnan! Ada apa, sih? Kenapa kamu berlarian seperti anak tidak berpendidikan?” tegur Irwan, ayah dari Adnan dan Adira. Pria itu selalu menuntut anak-anaknya untuk bersikap elegan dengan menekankan nama keluarga mereka yang cukup terpandang.


Dalam kehidupan sehari-hari pun Irwan banyak membuat peraturan yang seringkali membuat Adira dan Adnan terkekang. Tidak terhitung berapa kali Adnan berontak dan melawan ayahnya itu, meskipun jarang sekali usahanya membuahkan hasil.


“Tidak mungkin cucu dari Aarav Bernadette tidak berpendidikan,” sindir Adnan. Ia tahu betul bahwa sang ayah akan mulai membawa-bawa nama kakeknya yang katanya terkenal itu. “Ini darurat, Ayah. Izinkan aku menyalakan TV!”


Irwan membelalakkan mata mendengar itu. Ia berdiri dari tempatnya duduk di meja makan yang berada tidak jauh dari ruang keluarga. “Anggota keluarga Bernadette tidak ada yang menonton TV saat makan!”


“Aku tahu kalau kita hanya boleh menonton setelah makan, itu pun untuk mengetahui berita terkini. Penggunaan ponsel juga sangat dibatasi. Tapi gara-gara peraturan itu kita jadi ketinggalan info, Yah!” amuk Adnan. Suaranya yang nyaring membuat sang ibu, Dewi, yang masih berkutat di dapur ke luar untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi.


Dengan cemas ia melihat anak sulungnya menyalakan televisi dengan gelisah. Adnan terus mengumpat karena tangannya yang bergetar membuatnya kesulitan untuk sekadar menekan tombol. Ditambah lagi dengan keringat yang membasahi telapak tangan. Pemuda itu harus menggenggam remote TV dengan erat agar tidak terlepas.


Setelah ia berhasil menemukan kanal yang menyampaikan berita yang ingin ia lihat, Adnan jatuh terduduk dengan kedua mata terpaku ke arah layar.

__ADS_1


Tulisan ‘Taman Bermain Cakrabuana’ terpampang jelas di sana, dengan latar berwarna merah terang. Seolah menekankan tragedi macam apa yang tengah terjadi di tempat yang seharusnya memberikan kebahagiaan kepada semua orang yang mengunjunginya.


Irwan yang sempat beranjak untuk memarahi pemuda itu lantas ikut terpaku di tempat. Perlahan, ia menggelengkan kepala, berusaha menyangkal bahwa semua kengerian yang ia lihat pada layar tidak sedang terjadi di tempat yang dikunjungi oleh anak bungsunya. Namun, suara tangisan Dewi yang berlari merangkulnya membuatnya tidak dapat lagi menyangkal apa pun.


Di antara ketiganya, Adnan yang paling terlihat terpukul.


Bagaimana tidak? Ia sendiri yang telah memaksa adiknya untuk ikut karya wisata ke tempat yang kini berubah menjadi neraka itu.


“Pa-padahal … sejak awal dia sudah menolak. Adira jelas-jelas mengatakan kepadaku bahwa dia tidak ingin pergi.” Bibir Adnan bergetar saat ia menggumamkan penyesalannya. “Gara-gara aku Adira jadi harus terjebak di tempat seperti itu. Gara-gara aku yang sok tahu … yang menganggap bahwa akulah yang paling mengetahui apa yang terbaik untuknya ….”


“Pihak berwenang terus berusaha mencari cara untuk mengendalikan situasi.” Suara dari televisi terdengar jelas di tengah sepinya kediaman keluarga Adira saat ini. “Untuk sementara ini, Taman Bermain Cakrabuana ditutup. Petugas kepolisian tidak memperbolehkan siapa pun untuk masuk maupun keluar dari sana.”


Adnan merasakan bagaimana seluruh energinya melayang keluar melalui setiap pori-pori di kuitnya. Bagaimana otot-otot di tubuhnya kehilangan sebagian besar kekuatan hingga ia tidak sanggup lagi berdiri. Pemuda itu berakhir terbaring di atas karpet yang melapisi lantai ruang keluarga. Kedua matanya menatap nanar langit-langit, tempat beberapa bola lampu bersembunyi.


“Kenapa Kakak memperlihatkan ini padaku?”


“Kakak mau kamu ikut acara wisata yang diadakan sekolah kali ini, Dir.”


Sontak Adnan tertawa miris. Ia menutup kedua matanya yang mulai berair menggunakan lengan kanannya. “Aku tahu kalau ini semua salahku. Jadi berhentilah mengingatkanku seperti ini!” tegurnya kepada dirinya sendiri.


“Bagaimana aku mau ikut kalau Kakak tidak ada? Nanti kalau ada apa-apa, siapa yang akan menjagaku?”

__ADS_1


Menjadi penyebab Adira menunjukkan raut wajah cemas pada saat itu saja sudah membuat Adnan ingin terjun dari atap gunung tertinggi. Apalagi jika ia tidak bisa lagi melihat adiknya?


“Dunia saat ini sudah sangat canggih, Adira. Jika terjadi sesuatu, kamu selalu bisa menghubungi Kakak.”


“Kakak selalu siap untuk mendatangimu kapan pun kamu butuh,” 


“Kamu bisa pegang janji Kakak.”


Tiba-tiba Adnan bangkit dan berlari melewati kedua orang tuanya yang sedari tadi hanya bisa terdiam karena terlalu larut oleh kesedihan mereka masing-masing. Derap langkah Adnan yang mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa bergerak secepat mungkin menggema ke seisi rumah lantai dua itu.


Ia adalah pemuda yang selalu menjaga kesehatan dan staminanya dengan rajin berolahraga. Namun, kini ia bercucuran keringat serta kesulitan bernapas. Seluruh kekuatannya terkalahkan oleh kepanikan dan rasa cemas.


Biasanya, hanya membutuhkan beberapa langkah lebar untuknya sampai ke lantai atas. Biasanya, hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuknya sampai ke kamarnya. Dan biasanya, ia akan dimarahi habis-habisan karena sudah berlarian layaknya remaja nakal yang tidak tahu aturan.


Namun, sekarang bukan waktunya untuk mempermasalahkan mana yang biasa terjadi atau tidak. Adnan harus sepenuhnya fokus jika ia masih ingin bertemu dengan adik tercinta.


“Ponselku! Di mana ponselku?” Dengan panik ia merangkak dan mulai menelusuri koridor yang mengarah ke kamarnya. “Pasti Adira mencoba menghubungiku tapi tidak bisa, karena aku terbiasa hanya menyalakannya di pagi hari!”


Adnan benar-benar merasa bodoh. Ia telah mengirim Adira pergi berlibur, tetapi tidak memperhatikan bahwa adiknya itu tidak kunjung pulang. Padahal Adnan sendiri tahu bahwa karya wisata kali ini tidak akan memakan waktu sampai seharian. Namun, kesibukannya membuatnya lupa untuk memastikan keberadaan adiknya itu.


Bahkan link video yang ia tonton tadi ia dapat dari temannya yang mengenal Adira. Adnan merasa telah menjadi kakak paling buruk di dunia.

__ADS_1


Saat Adnan akhirnya menemukan ponselnya di atas lantai kamarnya, ia kembali menyadari bahwa tidak pernah ada pesan maupun panggilan telepon dari Adira sejak kemarin.


***


__ADS_2