Monster In Me

Monster In Me
Mencari Zombie


__ADS_3

“Suara apa itu?” tanya Firda dengan kedua mata membelalak waspada.


“Entahlah. Tapi tetaplah berhati-hati! Kemungkinan besar itu zombie!” jawab Adira yang kini menarik baju Firda dengan erat. Entah untuk menahan sahabatnya itu di tempat, atau untuk menyalurkan ketakutannya sendiri. “Kamu yakin mau turun sekarang?”


“Kita lihat dulu itu apa, baru nanti kita putuskan.” Firda melepas pegangan Adira perlahan-lahan, sebelum kembali menjulurkan kaki ke arah dahan pohon besar di bawahnya. Cukup sulit baginya meraih dahan itu karena jarak yang cukup jauh. Belum lagi kemungkinan bahaya seperti terpeleset dan jatuh. Akhirnya, Firda merentangkan tangannya. Bersiap-siap untuk melompat dan hinggap pada batang pohon yang lebih kokoh itu.


Bruk!


“Aw!”


Berhasil. Firda berhasil melingkarkan kedua tangan dengan erat kepada batang pohon yang sedikit terlalu besar untuk ia peluk. Apalagi ia cukup tersiksa dengan nyeri di dadanya yang menghantam pohon kokoh itu dengan cukup keras. Namun, ia hanya meringis sebentar dan mencoba untuk kembali fokus. Bagaimanapun, ia belum sampai ke daratan yang aman.


Setelah menyamankan posisinya, Firda menoleh ke belakang dan menengadah. Bermaksud untuk memberitahukan keadaannya yang baik-baik saja kepada Adira yang masih berada di atas dinding.


Seperti biasanya, Adira tidak tampak terlalu khawatir, tetapi Firda tetap mengacungkan ibu jari ke arahnya.


“Hati-hati! Jangan melompat sekuat tenaga, atau kamu akan membuat tulang rusukmu retak!” teriak Firda memperingatkan, dan Adira hanya mengangguk sebagai jawaban. “Dan perhatikan sekitarmu! Di sebelah kiri ada bangunan toko yang atapnya punya tombak runcing mencuat ke luar. Jangan sampai kamu tersangkut!”


Firda menatap bangunan yang ia sebut barusan satu kali lagi. Ia tidak pernah memperhatikan sebelumnya, tetapi bangunan yang mungkin meniru konsep bajak laut itu benar-benar terlihat mengerikan dari atas dengan tombak yang mencuat serta tiruan ombak yang tampak ganas. Posisinya juga cukup berdekatan dengan pohon, hingga seandainya atap bangunan itu terlihat cukup aman, ia dan Adira mungkin akan memilih melompat ke atasnya. Sayangnya, hal itu sangat tidak memungkinkan.


Akhirnya dengan menarik napas panjang, Firda mulai bergerak turun dengan melonggarkan pelukannya pada pohon sedikit demi sedikit. Kedua kakinya juga siaga menahan bobot tubuhnya agar tidak terjun bebas begitu saja. Tekstur kulit pohon yang kasar menorehkan goresan pada setiap permukaan kulitnya yang tidak terlindungi kain apa pun, tetapi Firda sama sekali tidak peduli. Sepertinya seluruh pengalaman mengerikan yang ia dapat dalam waktu lebih dari satu hari membuat fisik dan mentalnya semakin kuat.

__ADS_1


Satu meter di atasnya, Adira juga telah menyamankan posisinya di batang pohon. Menunggu saat yang tepat untuknya turun agar ia tidak berakhir bertabrakan dengan Firda.


Kedua mata Adira terus melihat Firda yang bergerak lincah di bawahnya. “Rupanya benar. Firda itu bisa benar-benar percaya diri setelah diberi kepercayaan oleh orang lain,” gumamnya pelan sambil menyunggingkan senyum tipis. “Aku jadi merasa bersalah karena tidak pernah memujinya selama ini.”


Selama pertemanan mereka yang belum berjalan satu tahun, Adira menyadari bahwa selama ini ia seringkali bersikap seenaknya. Melakukan apa pun yang ingin ia lakukan tanpa memedulikan orang lain, termasuk Firda, teman yang selalu setia berada di sisinya. Setiap kali Firda mengajaknya melakukan sesuatu, Adira pasti menolak dengan alasan ia hanya ingin fokus belajar. Namun, ketika Adira membutuhkan bantuan Firda, ia pasti memaksa temannya itu dengan mengatakan puluhan alasan yang bisa membuat Firda mengalah.


Setelah mengingat semua itu, kini berbagai ingatan kembali ke kepala Adira. Ingatan yang paling menonjol adalah saat-saat di mana Firda melindunginya dari Karsa yang terus berusaha mendekatinya tanpa tanda-tanda akan menyerah. Pemuda itu akan melakukan berbagai cara, mulai dari merayu hingga terus mengekorinya ke mana pun. Membuat Firda harus bekerja ekstra dengan memasang tubuhnya sendiri sebagai benteng pertahanan Adira maupun sebagai kesatria yang selalu memperingatkan sang putri akan berbagai bahaya yang mengancam.


“Ngomong-ngomong soal Karsa, bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia dan teman-teman lain masih bertahan sepertiku dan Firda?” gumam Adira lagi sambil meluncur ke bawah. Hendak menyusul Firda yang telah berdiri dengan selamat di atas aspal Taman Bermain Cakrabuana.


Sayangnya, terlalu banyak melamun membuat konsentrasi Adira sedikit berkurang. Ia meluncur terlalu cepat sehingga dengan panik ia memeluk pohon dengan sekuat tenaga. Kakinya yang refleks meronta untuk mencari pijakan berakhir menyentuh ujung replika tombak yang baru saja Firda peringatkan kepadanya. Adira mengaduh saat merasakan betisnya tergores cukup dalam.


“Apa? Kamu mengatakan sesuatu?” Firda mengangkat salah satu alisnya sambil bersedekap dada.


“Sepertinya tidak ada zombie di sekitar sini.” Firda mengedarkan pandangannya ke sekitar. “Tidak banyak jasad juga. Aku curiga ada yang memancing para zombie itu menjauh dari sini.”


“Yah, apa pun itu, kita beruntung kali ini.” Susah payah Adira menahan suaranya agar tidak bergetar. Padahal ia sungguh ingin meringis saat ini juga karena rasa perih luar biasanya di kakinya. Ia bahkan bisa merasakan ada yang mengalir membasahi pergelangan kakinya yang sedikit tertutup celana panjang yang ia gunakan. “Ayo, cepat kita pergi sebelum ada zombie yang datang!”


Firda mengangguk dan mulai kembali memimpin perjalanan. “Jangan lupa lihat sekeliling. Siapa tahu ada makanan yang bisa kita ambil. Sudah beberapa jam berlalu sejak terakhir kali kita mengisi perut dengan makanan ringan.”


“Oke,” jawab Adira pelan.

__ADS_1


Dengan sedikit tertatih ia mengikuti langkah Firda. Namun, tiba-tiba ia tersandung kakinya sendiri hingga terjatuh. Sepertinya ia mengaduh cukup keras karena kini Firda berlari dan berlutut di sisinya dengan panik.


“Astaga! Darah dari mana ini, Dir?” tanya Firda dengan suara yang sedikit melengking. Tanpa permisi ia menyingkap bagian bawah celana Adira dan membelalakkan mata karenanya. “Kapan kamu mendapat luka ini? Kenapa gak bilang apa-apa kepadaku?”


“Aku hanya tergores. Bukan apa-apa.” Adira menahan tangan Firda sebelum temannya itu menyentuhnya lagi. “Kita harus terus bergerak. Aku hanya akan membalutnya setelah aku menemukan kain bersih.”


Firda sama sekali tidak terlihat senang mendengar itu. Ia justru semakin mengernyitkan keningnya hingga wajahnya merengut sepenuhnya. Menatap Adira dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. “Rupanya kamu belum benar-benar memercayaiku,” keluhnya sambil kembali berdiri.


“Apa? Bukan begitu!” Terburu-buru Adira bangkit dan meraih kedua tangan Firda.


Ia sangat terkejut saat Firda mengentakkan tangan untuk melepaskan genggamannya, tetapi rupanya Firda hanya ingin menaruh telunjuknya di depan mulut.


“Dengar baik-baik! Suara itu terdengar lagi,” ucapnya setengah berbisik.


Adira merapatkan bibir dan mulai mencoba mengarahkan seluruh fokus kepada kedua telinganya. Firda benar. Ia kembali mendengar suara geraman yang sempat mereka berdua dengar dari atas dinding. Namun, kali ini suara itu terdengar lebih lemah, serta diiringi dengan suara yang menyerupai … isak tangis? Adira tidak tahu pasti, sehingga kini ia mulai melangkah mencari sumber suara.


Tanpa komando, mereka berdua mulai berpencar. Firda menghampiri toko yang replika tombaknya sempat menyakiti Adira dan mencari di setiap ruangan yang bisa ia masuki. Tidak banyak tempat untuk bersembunyi. Hampir seluruh bagian toko itu telah hancur seperti baru saja disapu oleh ombak tsunami. Potongan kayu, pasir dan batu semuanya berserakan memenuhi lantai. Firda refleks menutup hidungnya dengan lengan karena tidak ingin bersin berkali-kali jika sampai ia menghirup semua debu di sana.


Karena tidak kunjung menemukan sesuatu yang mencurigakan, Firda lantas keluar dan mencari Adira. Temannya tersebut tampak sedang berjongkok di dekat sebuah drum solar kosong yang telah terbagi menjadi dua. Tingginya hanya mencapai kurang lebih setengah meter. Firda menghampiri Adira dengan kebingungan.


“Sedang apa kamu, Dir? Sudah ketemu zombienya?” tanya gadis itu sambil menepuk pundak Adira.

__ADS_1


“Sssttt!” Terburu-buru Adira menarik Firda agar berjongkok juga di sampingnya. “Dengar,” bisiknya pelan.


***


__ADS_2