Monster In Me

Monster In Me
Aron


__ADS_3

“Kalau begini terus, kamu akan mati kelelahan daripada mati diserang zombie,” celetuk Adira yang kini terus berjalan sambil bersedekap dada. Sesekali matanya memicing melihat Firda yang kesulitan menggendong bocah kecil di punggungnya.


Firda membetulkan posisi anak yang digendongnya sebelum menghembuskan napas panjang. “Seingatku, kamu ini masih temanku. Jadi, jangan sumpahi aku seperti itu!”


“Aku hanya mengatakan fakta! Seharusnya kamu tinggalkan saja dia!”


“Adira! Kamu kejam sekali! Dia hanya anak kecil!”


“Justru karena hanya anak kecil!”


“Kamu—eh diam dulu.” Terburu-buru Firda berjalan ke salah satu sudut berdinding batu tebal yang tidak jauh dari sana. Bersembunyi di balik replika mobil ambulans. Gadis itu bergerak dengan lihai karena sudah hafal betul situasi di gua yang untuk ke sekian kalinya mereka datangi. Mereka sengaja berputar demi mencari tempat yang aman untuk beristirahat bersama anak yang kini mereka bawa, dan pilihan jatuh kepada tempat yang cukup mereka kuasai.


Meskipun Adira sangat menentang keputusan sepihak Firda, tetapi ia masih saja mengikuti dan membantu sang sahabat. Seperti saat ini, ia membantu Firda untuk menurunkan bocah kecil lalu membaringkannya dengan hati-hati.


“Dik, kamu sudah bangun?” tanya Firda sambil menepuk pipih sang bocah dengan pelan.


Adira mengangkat salah satu alisnya. “Dik?”


“Iya, Adik. Lantas aku harus panggil dia dengan sebutan apa?” Firda mendengkus keras. Ia sudah sangat tidak tahan dengan sikap Adira yang mempertanyakan hampir segala hal. Firda bahkan mempertimbangkan untuk membungkam Adira menggunakan kain hasil pungutan mereka yang biasanya mereka pakai untuk menyumpal mulut zombie.


“I-ibu … Ayah ….”


“Dir! Dia bicara!” Refleks Firda menempatkan telinganya tepat di depan mulut bocah asing itu. Seketika ia merasa tenang mendapati napas sang bocah berhembus lebih kencang dibandingkan sebelumnya.

__ADS_1


Namun, bocah itu tidak kunjung bangun. Firda mulai berpikir bahwa memang alam bawah sadar bocah itu tidak memperbolehkannya untuk segera sadar agar ia tidak perlu menghadapi situasi mengerikan yang terjadi saat ini.


Semakin lama anak itu tidak terbangun, semakin gencar pula Adira meminta Firda untuk meninggalkannya. Firda harus segera mencari cara untuk menemukan jalan keluar terbaik untuk mereka semua.


Hingga akhirnya kedua mata bocah itu mengerjap. Perlahan-lahan mata bening itu terbuka, bersamaan dengan satu dua tetes air mata yang mengalir. Anak itu terisak sebelum menangis hebat. Susah payah ia bangkit dari posisinya duduk dan bergeser mundur dengan cepat. Menjauhi Adira dan Firda yang sama sekali tidak ia kenali.


“Aaah! Ayah! Ibu! Tolong Alon!” teriaknya. Kini ia mulai berdiri dan berjalan mundur dengan terhuyung. Kedua matanya bergetar, menatap sepasang sahabat yang masih menatapnya kebingungan.


Melihat anak itu ketakutan di depan matanya, Adira menjadi tidak tega. Wajah gadis itu merengut, dengan bibir yang terus membuka dan menutup dengan gelisah. Nalurinya mengatakan bahwa ia harus bisa menenangkan anak itu segera. Jangan biarkan bocah sekecil itu menderita lebih lama lagi.


Adira memijat keningnya, berusaha memaksa otaknya untuk segera memikirkan ide bagus. Namun, ide itu tidak pernah datang. Tentu saja karena sebelumnya Adira sangat jarang berhadapan dengan anak kecil. Selama ini, setiap ada kerabat yang mempunyai anak balita datang ke rumahnya, hanya Adnan yang meladeni anak itu. Adira hanya akan terdiam di sudut ruangan dan memperhatikan dengan malas.


Setidaknya Adira memperhatikan.


Akhirnya, tanpa pikir panjang Adira berlutut. Ia memasang ekspresi paling ramah yang bisa ia tunjukkan sementara kedua matanya menatap ingin tahu kepada sang anak kecil. “Hai, Dik! Aku Kak Adira. Kakak paling keren di Taman Bermain ini.” Susah payah Adira menahan mual. Ia sungguh tidak menyukai apa yang sedang ia lakukan saat ini. “Nama Adik siapa? Tadi Kakak denger Adik bilang ‘Alon’? Itu nama Adik?”


“Ah, benar!” sahut Firda semangat. “Tadi aku juga dengar. Pasti namanya Alon!”


Sang bocah laki-laki tampak terdiam mendengar kedua gadis itu memanggil namanya. Tidak ada lagi suara tangis yang keluar dari bibirnya. Ia kini memainkan ujung baju kumalnya sambil merengutkan wajah. “Bukan Alon. Tapi Alon!”


Refleks Adira dan Firda saling memandang. Ekspresi mereka tampak serupa satu sama lain. Kening berkerut, serta mata yang terbuka lebar. Mereka sungguh tidak mengerti apa yang baru saja anak itu katakan.


“Baiklah, Alon. Aku Kak Firda, temannya Kak Adira ini.” Kali ini Firda yang mencoba mendekat. Kedua tangannya ia remat di depan tubuhnya, menahan agar tidak terlihat bergetar hingga mungkin kembali memancing rasa takut anak kecil di hadapannya. “Alon jangan takut, ya. Kita berdua ini kakak yang baik!”

__ADS_1


Selama beberapa saat, anak itu hanya terdiam. Menatap Adira dan Firda secara bergantian. Para gadis itu pikir, sang bocah mulai merasa tenang saat bocah itu menghisap jarinya sendiri. Mereka baru saja menarik napas lega saat tiba-tiba bocah itu kembali berteriak.


“Namaku Alon! Alon! Kenapa salah telus?” amuk sang bocah hingga kini ia berteriak.


Terpaksa Adira dan Firda berlari ke sisi bocah itu. Berusaha membuatnya diam dengan menutup mulutnya. Firda memeluk tubuh kecil itu untuk menenangkannya.


Sampai akhirnya mereka mengerti apa yang sebenarnya menjadi masalahnya.


“Ternyata namanya Aron,” bisik Adira kepada Firda yang lantas menganggukkan kepala. Rupanya Aron sedikit kesulitan mengucapkan huruf ‘R’, tetapi kini setelah Adira dan Firda menyadarinya, mereka mulai bisa menangkap ucapan Aron dengan lebih jelas. Bocah itu hanya mengucapkan ‘R’ dengan sedikit berbeda.


Sepertinya mereka berdua telah gagal membangun kesan pertama yang bagus. Beruntung, Aron tidak lagi mengamuk setelah mereka memanggil namanya dengan benar.


Kini mereka bertiga tengah duduk berjajar sambil berselonjor. Aron memegang sebungkus coklat batang yang bungkusnya sudah sedikit terkoyak. Adira menemukannya di perjalanan, dan awalnya berniat menyimpannya untuk keadaan darurat. Namun, semakin lama ia bersama Aron, semakin melembut pula hatinya. Adira kini mengerti mengapa Firda bersikeras ingin membawa Aron bersama mereka.


‘Biar bagaimanapun, menjadi lucu, menggemaskan, dan terlihat polos adalah salah satu daya tarik sekaligus strategi pertahanan anak kecil,’ pikir Adira. ‘Semua bayi dan anak kecil mempunyai semua poin itu agar para orang dewasa di sekitarnya tergoda untuk merawatnya. Tidak kusangka aku juga akan terkena jebakan seperti itu.’


“Jadi, Aron,” Firda berdeham sebentar untuk mempersiapkan diri. Setelah beberapa menit hanya mengajak Aron mengobrol santai, kali ini ia akan mencoba untuk menggali sedikit informasi dari sang bocah, “kamu datang ke Taman Bermain ini dengan siapa? Apa dengan Ayah dan Ibumu?”


Wajah Aron yang semula telah terlihat relaks kini kembali menegang. Tangannya yang masih memegan coklat terdiam di udara, sama sekali tidak bergerak menghampiri mulutnya yang menganga. Lama kelamaan bibir Aron tampak bergetar, hingga Firda mulai panik dan berusaha meralat kembali pertanyaannya.


***


__ADS_1


__ADS_2