Monster In Me

Monster In Me
Menelusuri Lagu


__ADS_3

“Aaah! Suara apa ini?” Adira memekik hebat saat mendengar suara nyaring yang berdenging dengan sangat menyakitkan. Gadis itu menekan kedua telinganya menggunakan tangan dengan kuat. Berharap tindakannya bisa sedikit mengurangi penderitaannya. Namun, tidak bisa. Suara itu tetap menembus hingga membuat kepalanya seolah akan meledak.


“Apa katamu?” Firda yang tidak bisa mendengarnya terus bergerak mendekat bersama Aron. Sang bocah sendiri kini telah menangis kencang sambil memeluk Firda erat.


Sadar bahwa suaranya tidak akan sampai ke telinga Firda, Adira hanya bisa menggelengkan kepala. Ia menoleh ke sana kemari, berusaha mencari tempat yang cukup tertutup untuk mereka menghindari suara-suara itu. Namun, yang ia lihat justru para zombie yang meronta hebat beberapa meter dari tempat mereka berada.


Zombie-zombie itu terlihat sangat tersiksa karena terus mengejang di atas aspal. Bukan pemandangan yang aneh, karena Adira dan Firda sendiri sering bertemu dengan zombie yang sibuk mengamuk sendiri. Hanya saja, kali ini bukan hanya satu sampai dua zombie yang melakukan itu, melainkan hampir seluruhnya.


Adira menatap dengan ngeri hingga lupa penderitaannya sendiri. Kedua matanya membelalak saat melihat para mayat hidup itu mencakar wajah dan sebagian besar tubuh bagian atas mereka sendiri dengan kuat. Di saat itu juga, Adira baru menyadari bahwa para zombie itu masih bisa mengeluarkan darah jika terluka, seperti manusia biasa. Padahal menurut cerita Abian dulu, tubuh zombie hanyalah tubuh manusia yang membusuk. Jadi, apa mungkin Abian telah salah memberi informasi?


Tidak lama kemudian, suara berdenging itu berhenti. Adira dan Firda langsung bernapas lega sementara Aron masih sedikit merengek meskipun kini ia tidak lagi membenamkan wajahnya ke baju Firda.


Sejak Adira melepas semua kain yang menutupi Aron, bocah itu mulai cukup terbiasa melihat pemandangan mengerikan termasuk para zombie. Di luar dugaan, Aron juga sangat lincah dan lihai bersembunyi. Adira tidak akan pernah mau mengakuinya, tetapi ia pikir sepertinya membawa Aron bersama mereka tidak akan semerepotkan yang ia kira.


“Sudah berhenti,” gumam Firda pelan. “Apa itu tadi?”


Adira menggelengkan kepala, masih sambil melihat sekitar. Kali ini ia melihat para zombie yang kembali berkeliaran dengan tenang walaupun sesekali masih mengejang di tempat, seperti biasa. Setelah itu, Adira menengadah. Dan melihat banyak pengeras suara yang terpasang di atas tiang tinggi. Tersebar di beberapa titik. “Entahlah. Mungkin semua speaker itu rusak,” jawab sang gadis akhirnya.


Tiba-tiba terdengar bunyi lain yang menyerupai sebuah musik. Mengalun pelan, hampir tidak tertangkap oleh telinga. Adira, Firda, dan Aron yang memang tengah waspada mampu mendengar suara itu dengan jelas.


Hingga suara itu kembali berubah, kali ini menjadi suara yang kedua gadis itu kenali.


“Sial! Aku harus nyalakan yang mana? Tombolnya terlalu banyak!”

__ADS_1


Adira dan Firda sontak saling menatap. “Evan?” tanya mereka bersamaan.


Seharusnya mereka merasa lega mendapati salah satu teman mereka masih hidup. Bahkan kemungkinan besar Evan masih bertahan bersama teman-teman lainnya. Namun, yang menjadi masalah adalah suara latar yang turut terdengar bersama dengan umpatan Evan tadi.


Suara raungan banyak zombie dan jeritan perempuan.


Bahkan Adira yakin bahwa ia juga mendengar suara seperti banyak besi yang terjatuh ke atas aspal.


“Di mana Evan bisa menyiarkan suaranya seperti itu?” Adira bertanya dengan mata membelalak. Mendesak Firda untuk segera menjawab pertanyaannya.


“A-aku juga tidak tahu,” jawab Firda panik. Jelas sekali bahwa ia juga mulai berpikir yang tidak-tidak mengenai situasi yang mungkin dihadapi Evan saat ini.


Tidak perlu berpikir keras untuk mengetahui bahwa Evan tengah terdesak. Berbeda dengan posisi Adira dan Firda yang sudah paham betul cara untuk menghindari kontak dengan zombie. Mereka hanya harus bersabar menanti saat yang tepat sebelum mengendap-endap. Bersembunyi dari satu reruntuhan ke reruntuhan lainnya.


Adira tahu bahwa ada sesuatu yang mencurigakan di balik tersiarnya suara berdenging dan suara Evan. Maka dari itu, ia ingin segera mengetahui posisi pemuda itu. Bukan karena khawatir, tetapi murni karena ingin tahu.


Sejak malam pertama serangan zombie terjadi, Adira sudah memutuskan bahwa ia tidak akan mengkhawatirkan siapa pun, kecuali Firda yang memang terus berada di sampingnya. Aron? Adira masih mempertimbangkannya.


“Dir, sepertinya Evan sengaja menyiarkan ini,” ucap Firda sambil menepuk pundak Adira yang langsung berhenti merenung sendiri.


Adira mengerutkan kening. Kali ini lagu khas Taman Bermain Cakrabuana terdengar keras dengan nada riang yang sangat bertolak belakang dengan suasana malam ini. Adira sendiri sangat mengenali lagu itu, karena ia beberapa kali menemukan boneka rusak yang mengalunkan nada yang sama. Dan satu hal yang Adira sadari terus terjadi setiap lagu itu terdengar.


Para zombie sepertinya sangat tertarik dengan lagu tema Taman Bermain ini.

__ADS_1


“Mayat-mayat hidup itu langsung mendekati speaker terdekat.” Adira memicingkan matanya agar dapat terus mengamati dengan teliti. “Apa mereka sangat menyukai lagu itu? Padahal setahuku, ketertarikan mereka terhadap suara tidak akan bertahan lama jika suara itu bukan berasal dari manusia. Ternyata salah.”


“Suara yang terus berbunyi secara konsisten juga biasanya mereka abaikan, kan?” Firda mengerutkan kening dan tanpa sadar mengeratkan genggamannya pada tangan Aron. Aron yang mengerti hanya terus terdiam, tidak ingin mengganggu kedua gadis itu berpikir.


Mendadak Firda membelalakkan mata sebelum menepuk-nepuk pundak Adira dengan heboh. “Mereka bergerak lagi!”


Adira mengikuti arah yang ditunjuk Firda menggunakan mata. Seketika ekspresinya meniru ekspresi sang sahabat. Bagaimana tidak? Kali ini ia melihat sendiri para zombie bergerak teratur seolah tengah berbaris. Berjalan ke atu arah yang sama meskipun sesekali barisan mereka kacau karena ada zombie yang terjatuh atau kejang-kejang di tempat.


Dengan seluruh kemampuannya, Adira mencoba mempertajam pendengarannya. Ia bahkan sengaja menutup matanya beberapa saat untuk mengurangi distraksi. Mempercayakan keselamatannya kepada Firda sepenuhnya.


Setelah mengetahui kemungkinan penyebab perilaku aneh para zombie, Adira membuka matanya kembali. “Beberapa pengeras suara di dekat sini mati. Zombie-zombie itu pasti pergi ke tempat lagu itu terdengar lebih jelas.”


“Ke mana?”


Adira menggigit bibirnya beberapa saat sambil berpikir. “Entahlah. Di mana kira-kira Evan mengatur semua ini? Oh!”


“Apa? Kenapa? Kamu terpikirkan sesuatu?” tanya Firda semangat. Bahkan Aron juga kini menatap penuh ingin tahu. Tampaknya anak itu mulai tidak tahan hanya berdiri diam di tempat.


“Ke mana kita akan pergi jika kita tersesat atau kehilangan sesuatu?” Adira balas bertanya tanpa benar-benar menatap sang sahabat. Ia sibuk menggali ingatannya tentang peta Taman Bermain yang belum lama ini hilang. “Kurasa aku tahu ke mana kita harus pergi.”


***


__ADS_1


__ADS_2