Monster In Me

Monster In Me
Impas?


__ADS_3

Taka sibuk menertawakan Zean dan Helsa sambil berjalan mundur ke belakang, bermaksud untuk mengubur sosoknya di balik banyaknya pohon yang tumbuh dengan rapat di sekitar mereka. Pemuda itu sama sekali tidak menyadari keberadaan zombie setengah tubuh yang kini merangkak semakin dekat ke kakinya.


“Cepat atau lambat, zombie-zombie itu akan mampu masuk ke tempat ini,” ucap Zean sambil mengerutkan kening. Ia lantas berbalik dan memegang pundak Helsa dengan erat. “Kamu tunggu di sini sebentar. Ada yang harus Kakak lakukan.”


“Tidak mau! Kakak mau ke mana?” Helsa menahan tangan Zean sekuat tenaga. “Tungguh apa lagi? Ayo, kita segera pergi dari sini!”


“Iya, kita akan pergi setelah Kakak melakukan satu hal penting.” Dengan berat hati Zean mencoba melepas genggaman Helsa. Ia menatap sang adik dengan penuh keyakinan. “Percaya sama Kakak. Kakak perlu melakukan ini untuk memastikan keselamatan kita.”


Tidak ada waktu yang tersisa. Zean tahu bahwa ucapannya sulit dimengerti Helsa, tetapi ia harus bergerak cepat. Jika tidak, nyawa mereka yang akan menjadi taruhannya. Apalagi setelah ia melihat bahwa cukup banyak zombie tengah berusaha berjalan mendekati mereka saat ini.


Oleh karena itu, meskipun Helsa berteriak, Zean berlari sekuat tenaga ke arah Taka yang kini memandangnya dengan heran. Ia sama sekali tidak sempat bereaksi saat tiba-tiba Zean mendorong dan menahan tubuhnya di atas tanah.


“Ini lagi?” tanya Taka meremehkan, meskipun ia sempat terlihat panik saat Zean merebut peluitnya dan melemparnya ke sembarang arah. “Kupikir kita sudah selesai berkelahi seperti anak kecil tadi?”


“Benar, sudah selesai. Aku hanya harus melakukan ini sebagai aksi penutup.” Zean melepas paksa dasi yang terpasang dengan longgar di leher Taka. Menyatukannya dengan ikat pinggang miliknya sendiri lalu mengikatkannya ke kedua tangan sang pemuda serta kepada pohon dengan batang tidak terlalu besar di dekatnya. Tentu saja Taka memberontak dengan kuat. Namun, tekad bulat Zean membuatnya bisa menahan semuanya dengan mudah.


“Diam di sini dan sapalah para bawahanmu. Mungkin dengan begitu, ikatan ‘Dewa dan penyembah’ di antara kalian juga akan semakin kuat,” ucap Zean dengan angkuh saat ia berdiri tegap di depan Taka yang terikat ke pohon.


“Jangan bercanda! Lepaskan aku!” bentak Taka sambil berusaha menendang Zean dengan kedua kakinya.


“Tidak akan! Jangan kira aku tidak tahu manusia macam apa kamu itu!” Zean mengambil dahan ranting terdekat dan menyentuhkannya ke wajah Taka. Memberikan sedikit goresan kecil di kulit sawo matang itu. “Orang-orang seperti kalian sangat senang bermain-main dengan kelemahan orang lain! Aku mungkin akan membiarkanmu jika kamu hanya menggangguku, tapi kamu juga membahayakan adikku!”

__ADS_1


Zean mengambil kembali ranselnya yang tergeletak di samping Taka. Memeriksa isinya sebelum melemparkan sebuah roti ke depan sang pemuda. “Ambil itu. Jika setelah ini kamu mempunyai rasa lapar yang besar, mungkin kamu bisa memakan roti itu, alih-alih daging manusia lain.”


“Apa maksudmu?”


“Lihat ke belakang.”


Saat Taka menuruti perintah Zean, ia langsung disambut geraman keras serta bau tidak sedap zombie setengah tubuh yang tiba-tiba berada di dekatnya. Refleks Taka berteriak dan mulai menendang zombie itu dengan keras. Ia juga berusaha melepaskan ikatan di kedua tangannya, hingga kulitnya memerah dan menderita banyak luka lecet.


“Sial! Aku sudah menyelamatkan kalian!” Taka terus menyumpahi Zean dan adiknya dengan kata-kata tidak pantas. “Lepaskan aku! Kamu tidak mungkin membiarkan adikmu melihat kakaknya membunuh orang lain!”


Mendengar itu, Zean lantas melihat ke arah Helsa yang terus menyaksikan semuanya sedari tadi. Helsa tampak berlinang air mata dan menggelengkan kepalanya tanpa henti. Meminta sang kakak untuk berhenti melakukan hal yang tidak biasa ia lakukan. Zean merasakan sesak di hatinya setelah menyadari bahwa ia telah memberikan kenangan buruk untuk adik tercintanya.


Tidak ada satu pun kakak di dunia yang mau memperlihatkan sisi terburuknya di hadapan adiknya. Seumur hidup, Zean selalu mencoba memberikan yang terbaik untuk Helsa. Meskipun ia sendiri harus tersiksa, Zean tidak peduli selama Helsa terus memandangnya dengan binar kebanggaan terpancar jelas di wajahnya.


Maka dengan membuang sebagian besar kepercayaan lama yang selama ini ia anut, Zean memalingkan pandangan dari Helsa dan kembali fokus kepada Taka. “Kamu menyelamatkan kami hanya untuk mempermainkan kami kembali ketika bosan.” Zean berhenti sebentar sebelum menggelengkan kepala. “Tidak perlu mengkhawatirkan aku dan adikku. Sebaiknya kamu mulai berdoa, semoga Tuhan akan menerimamu di akhirat sana.”


Setelah mengatakan itu, Zean berlari kembali kepada adiknya. Dengan terlebih dahulu menendang beberapa pohon yang lebih kecil untuk memberikan akses kepada para zombie. Dengan cekatan ia meraih tubuh Helsa dan menggendongnya. Berlari sekuat tenaga dengan hanya insting yang menuntun jalan mereka.


Teriakan minta tolong Taka mengantarkan perjalanan mereka.


“Turunkan aku!” teriak Helsa sambil memukul pundak Zean. “Turunkan aku, Kak!”

__ADS_1


“Tidak sekarang, Ca,” jawab Zean lembut meskipun pukulan Helsa cukup terasa sakit untuknya. “Kita harus cari tempat aman dulu.”


“Untuk apa?” Helsa mulai berteriak. Ia menangis sejadi-jadinya sambil terus memberontak di dalam gendongan sang kakak. “Untuk menyelamatkan nyawa kita sendiri tanpa memedulikan orang lain? Aku tidak mau hidup seperti itu, Kak! Lebih baik kita mati saja!”


“Eca! Tolong diam! Kakak juga sudah sangat lelah!” Tanpa sengaja Zean membentak Helsa. Pikirannya saat ini sungguh tidak bisa fokus kepada sang adik. Jalan asing yang bercabang, serta pepohonan yang menutup penglihatannya membuatnya semakin gelisah. Zombie bisa saja menyerang sewaktu-waktu, dari arah yang mungkin tidak akan pernah ia duga sebelumnya. Zean harus waspada dan mengurangi hal-hal yang memecah konsentrasinya.


Termasuk Helsa yang terus merajuk di gendongannya.


Zean harus menguatkan hatinya. Meskipun kini ia telah mendengar isak tangis sang adik, ia tidak boleh goyah. Keselamatan mereka berdua bergantung kepadanya.


“Kakak itu kakak terbaik untukku.” Zean mendengar Helsa berkata dengan lirih, tetapi ia berpura-pura tidak mendengarnya. “Aku selalu mengagumi Kakak. Kakak tahu itu.”


‘Iya. Aku tahu’, jawab Zean di dalam hati.


“Aku tidak butuh apa pun asalkan aku bersama Kakak.” Helsa terbatuk-batuk. Ia mulai kesulitan bernapas karena tangisannya yang tidak kunjung berhenti. Wajah gadis itu juga mulai terlihat pucat, dengan tangan yang tidak lagi bertenaga untuk memukul Zean. “Tapi kenapa … kenapa Kakak membuatku takut seperti tadi?”


“Maaf.” Zean akhirnya kelepasan berbicara.


Helsa mengangkat wajahnya untuk menatap wajah sang kakak. Membuat Zean hampir meringis melihat kekecewaan yang terlukis jelas di wajah Helsa.


“Jangan lakukan itu lagi, Kak. Atau aku tidak akan mau diselamatkan oleh Kakak lagi.”

__ADS_1


***


__ADS_2