Monster In Me

Monster In Me
Saat Terakhir


__ADS_3

Zean terisak dan meringis penuh kepedihan saat ia menekan luka yang mengalirkan cairan merah dengan deras. Berkali-kali pemuda itu menambahkan kain untuk menghentikan alirannya, tetapi nihil. Ia bisa merasakan bahwa perlahan-lahan tarikan napas adiknya semakin melemah. Pandangan Zean mulai buram, baik oleh air mata maupun oleh kepanikan yang menenggelamkan seluruh kesadarannya.


“K-kak, tidak apa-apa. Eca … baik-baik aja, kan?” tanya Helsa terbata-bata. Sesekali ia terbatuk dan mengerang keras. Merasakan sakit luar biasa yang belum pernah ia alami sebelumnya. Ingin rasanya ia meronta dan meminta Zean untuk berhenti menekan perutnya, tetapi ia tahu bahwa sang kakak tengah sangat berusaha untuk membuatnya tetap sadar. Helsa tahu semua ini dari banyaknya film aksi yang dibintangi Zean. “Awas, Kak. Kakak jahat itu mungkin ma-masih di sekitar sini.”


Kepala Zean menggeleng dengan cepat. “Tidak, Ca. Tenang aja. Orang itu rupanya benar-benar pengecut. Dia kabur setelah terluka cukup parah.” Zean mengusap wajahnya menggunakan sebelah tangannya yang tidak sedang menekan luka Helsa. Senyum tipis terbentuk di wajahnya. “Kakak tidak tahu kamu mampu bertarung. Tadi itu lemparanmu sungguh jitu. Orang jahat itu langsung kesakitan dan memegangi kepalanya yang terkena batu.”


Helsa mengerucutkan bibirnya. Ekspresi yang biasanya terlihat menggemaskan bagi Zean. Sayang, kali ini yang Zean lihat hanyalah raut wajah lemah dan tidak berdaya dari adiknya. Kedua mata Helsa tampak menggantung. Jelas sekali sang adik tengah bersusah payah menahan kantuk luar biasa yang kini menyerangnya.


“Aku takut … aku takut Kakak terluka lagi.”


Mendengar ucapan lemah Helsa membuat Zean tidak dapat lagi menahan diri. Ia menangis meraung sambil merangkul sang adik dengan erat. Rasa bersalah, takut, cemas, dan menyesal berkumpul dalam benaknya. Namun, Zean berusaha untuk tetap berpikir jernih. Ia tidak boleh bersikap egois.


“Kakak tidak terluka. Kakak justru menyakitimu hanya karena ingin kamu terus bersama Kakak.” Zean mengusap kepala Helsa. Dengan seluruh kekuatannya, ia mencoba menahan rasa terkejutnya saat mendapati bahwa bukan hanya perut Helsa yang terluka parah. Rupanya ia benar-benar tidak bisa lagi menahan Helsa di sisinya. “Terima kasih karena sudah bertahan sejauh ini, Ca. Kakak tidak akan memaksamu untuk tersiksa di tempat seperti ini lebih lama.”


Zean menarik napas panjang sebelum kembali berbicara. “Maaf, Kakak tidak bisa melindungimu dengan benar.”


Perlahan, Zean kembali membaringkan Helsa. Kini wajah adiknya itu terlihat jauh lebih pucat dari sebelumnya. Namun, ada yang berbeda. Entah mengapa, Zean merasa Helsa tampak jauh lebih tenang, dengan senyum tergurat sangat tipis di bibirnya.

__ADS_1


Dada pemuda itu sontak terasa menyempit. Ia harus melakukan sesuatu yang sangat tidak ia inginkan, tetapi merupakan yang terbaik untuk adiknya. “Kamu boleh pergi, Ca. Kakak janji akan pulang dengan selamat dan menjaga Ayah dan Ibu seumur hidup Kakak.”


Helsa sudah berhenti menangis. Hanya satu sampai dua tetes air mata yang masih tampak mengaliri pipinya. Zean merasa waktu berjalan sangat lambat, hingga ia bisa melihat tetesan itu turun hingga membasahi jalanan yang kini berwarna merah oleh darah sang adik. Pemuda itu menyaksikan semuanya dengan perhatian penuh. Tidak ingin sedikit pun melewatkan saat-saat terakhir bersama Helsa.


Kelopak mata Helsa hampir tidak lagi terangkat, tetapi bibir gadis itu bergerak pelan. “ … seperti Kakak menjagaku.”


Setelah itu, seluruh cahaya di dunia seolah padam. Bersamaan dengan wajah Helsa yang tampak semakin meredup setelah jiwanya pergi meninggalkan raganya.


Zean menggigit bibir bawahnya saat ia mengusap pelan wajah Helsa. Membuat kedua matanya yang masih tampat sedikit terbuka kini menutup rapat. Pemuda itu berusaha keras untuk tidak menangis, tetapi tubuhnya yang bergetar menunjukkan dengan jelas seberapa dalam kesedihan yang ia rasakan saat ini. Seumur hidup, tidak pernah satu kali pun ia membayangkan akan melihat sang adik pergi lebih dulu.


“Aku tahu Kakak itu sibuuuk sekali.” Zean masih bisa mendengar suara ceria Helsa, seolah adiknya itu memang tengah berbicara kepadanya saat ini. “Dan aku juga tahu betapa Kakak selalu senang memanjakan aku. Tapi aku berharap Kakak juga tidur yang cukup, karena aku tidak mau pergi ke mana pun bersama Kakak yang terlihat sangat pucat.”


Kedua mata Zean menatap sendu ke arah sang adik yang telah tertidur damai di pangkuannya. Tanpa tanda-tanda akan terbangun. “Kamu sekarang terlihat jauh lebih pucat dari Kakak, Ca. Jangan khawatir, kamu tetap terlihat sangat cantik.”


Zean berdiri setelah membaringkan Helsa di atas jalan aspal yang lembap. Ia melihat sekeliling, di mana zombie-zombie yang tidak lagi bergerak, bergeletakan. Menjadi satu-satunya bukti bagaimana ia telah berusaha keras untuk melindungi sang adik. Namun, takdir memang tidak bisa ia lawan.


Beberapa menit setelah Taka menemukan tempat persembunyian mereka, Zean harus berhadapan dengan banyak zombie yang ternyata sengaja Taka bawa untuk menghabisi Zean dan Helsa. Zean mengerahkan seluruh kekuatan dan kemampuannya untuk menghalau setiap zombie yang mendekat. Hingga ia melewatkan Taka yang ternyata mengincar adiknya.

__ADS_1


Zean baru menyadarinya tepat di saat Helsa melemparkan batu besar ke arah Taka. Dalam keadaan tubuh yang telah bersimbah darah.


“Seandainya … seandainya aku lebih kuat dan cepat. Akankah semuanya berbeda?” gumam Zean sambil berjalan menjauh dari Helsa.


Pemuda itu mendekati semak-semak serta pepohonan penuh bunga yang tumbuh mengelilingi Taman Bermain Cakrabuana. Dengan hati-hati ia memetik beberapa bunga yang terlihat indah. Sama sekali tidak memedulikan duri yang menggores jari-jarinya. Luka itu tidak seberapa dengan cedera di hatinya.


Sejenak ia menatap bunga-bunga di tangannya tanpa berkedip. “Aku tidak tahu ini bunga jenis apa, dan apa arti yang dimilikinya,” gumam Zean lagi. “Tapi tidak mungkin pihak Taman Bermain menanam bunga berarti buruk di tempat bisnisnya, kan?”


Setelah merasa cukup, Zean kembali menghampiri Helsa. Menempatkan beberapa bunga yang masih mempunyai sedikit batang di tangan sang adik yang telah ia posisikan di atas tubuh. Sementara itu, bunga lainnya ia susun mengelilingi tubuh Helsa. Membuatnya sosoknya seolah diabadikan dengan bingkai penuh warna. Warna merah jambu, kuning, ungu, serta hijau dari dedaunan yang menempel bersama bunga terlihat kontras dengan permukaan jalan tempat Helsa terbaring kaku.


Zean berjongkok sambil meremat jari-jarinya sendiri dengan erat. Merapalkan doa dengan mata yang tertutup. Dalam hati ia mengucapkan berbagai harapannya untuk sang adik serta mengatakan ucapan selamat tinggal satu kali lagi.


“Kakak ingin membawamu pergi, tapi Kakak tahu kamu tidak akan suka itu.” Zean mengusap rambut adiknya sebelum bangkit.


Pemuda itu berbalik. Mengambil satu langkah menjauh dari adiknya, untuk yang terakhir kali.


***

__ADS_1


__ADS_2