Monster In Me

Monster In Me
Rencana Evan


__ADS_3

“Pokoknya, kita harus menyalakan lagu yang nyaring dan punya nada yang beragam! Ingat saat terakhir kali aku minta kamu ikut denganku mengamati zombie? Di saat itu kita melihat bahwa para zombie itu mengabaikan suara speaker yang sudah terlalu lama menyala.” Evan memberi petunjuk dengan semangat yang membara, hingga ia sendiri kesulitan mengatur napasnya. “Sebagian dari kita akan ke sana. Atau semuanya juga terserah! Aku sudah tidak peduli! Yang pasti, kita harus segera memancing para zombie itu menjauh dari gerbang keluar. Atau kita tidak akan pernah bisa meloloskan diri dari sini.”


“Baiklah,” jawab Abian setelah bersusah payah menelan ludahnya sendiri. “Jadi, aku harus pergi ke tempat Bu Danita, Pak Gunawan, dan Trisha untuk menyampaikan ini? Kenapa kita gak gabung kayak sebelumnya aja, sih?” Abian terus menggerutu sambil melihat ke bawah dari tempatnya dan Evan bertengger kini. Mereka berada jauh di atas, menaiki salah satu wahana balon udara yang tampaknya tersangkut atau rusak sehingga tidak pernah mendarat. Balon udara itu terus saja berayun heboh setiap kali Evan dan Abian sedikit bergerak. Entah sudah berapa kali Abian menggigit lidahnya sendiri agar tidak menjerit ketakutan.


“Sudah kubilang, kita terus menjadi sasaran empuk para zombie karena kita bergerak dalam kelompok yang cukup besar. Kamu pikir ada berapa banyak orang yang selamat di Taman Bermain ini?”Evan mendengkus keras sebelum lanjut berbicara. “Aku jamin, siapa pun itu, mereka hanya bergerak sendirian atau berdua. Tidak ada yang berlima!”


“Tapi katamu tidak apa-apa kalau kita pergi ke Pusat Informasi bersama-sama?”


“Itu karena kali ini kita memang ingin memancing para zombie itu untuk mengejar kita sebelum mereka semuanya akhirnya tertarik karena suara.” Evan tiba-tiba berdiri, membuat keranjang balon udara bergoyang hebat, tanpa memedulilkan Abian yang akhirnya merengek ketakutan. “Untuk sekarang, sampaikan saja dulu hasil diskusi kita. Sampaikan juga kalau dalam 10 menit kita harus sudah siap berangkat. Aku akan mengawasi dari sini sebelum menyusul ke sana.”


Abian lantas bergidik ngeri. Ia sendiri sudah tidak ingat bagaimana caranya ia dan Evan bisa naik ke balon udara. Sekarang, ia harus turun begitu saja? Apa mungkin ia bisa melompat dan mendarat dengan berguling layaknya tokoh utama dalam film aksi? Namun, manusia berbeda dengan kucing yang mampu mendarat dengan aman tidak peduli seberapa tinggi ia melompat.


Akhirnya, dengan tegas Abian menggelengkan kepala. “Tidak mau. Kamu saja yang turun, aku yang akan menunggu di sini. Kalau ada zombie mengikutimu, aku akan memberi sinyal suara.”


Evan tampak tidak senang mendengar itu. Rahangnya mengeras sementara posisi duduknya bertambah tegak seiring dengan hembusan napasnya yang terdengar keras. Abian tetap pada pendiriannya, karena biar bagaimanapun, para zombie di luar jauh lebih menakutkan dibandingkan Evan. Saat Evan tiba-tiba tersenyum sinis kepadanya, barulah Abian mempertimbangkan kembali keputusannya.

__ADS_1


“Kamu yakin mau berjaga?” tanya Evan dengan nada meremehkan. “Kamu harus memberiku sinyal suara jika ada zombie, tapi itu berarti kamu memancing zombie untuk pergi ke arahmu. Kalau sampai kamu ragu atau takut dan tidak memperingatkan aku, nyawaku akan berakhir di tangan zombie dan kamu akan menanggung perasaan bersalah seumur hidup.”


“Evan! Jangan nakut-nakutin!”


“Aku serius!”


“Enggak! Kamu gak serius! Kamu cuma berusaha bikin aku mundur karena kamu gak mau ada perubahan pada rencanamu sedikit pun!”


Evan dan Abian mendadak terdiam setelah Abian meledak begitu saja. Padahal sang pemuda masih menjaga agar suaranya tidak terdengar terlalu nyaring, tetapi tetap saja efek dari keluhannya membuat Evan tertegun. Pemuda angkuh itu tampak kesulitan menanggapi Abian untuk beberapa detik sebelum ia mendecakkan lidah.


“Memangnya kenapa kalau aku begitu? Aku jauh lebih baik dibandingkan kamu yang tidak bisa melakukan apa pun dan hanya terus merengek minta diselamatkan.”


Mungkin karena secara tidak langsung Evan menancapkan taring ke hatinya. Menorehkan luka di sana yang membuat harga diri Abian langsung terjun ke lantai paling dasar.


Tanpa berkata apa-apa, akhirnya Abian berdiri perlahan, sambil berpegangan kepada ujung keranjang balon udara. Menoleh ke sana kemari sampai akhirnya ia menemukan tali tambang tebal dan besar yang menahan balon tersebut agar tidak melambung jauh ke langit. Di saat itulah baru Abian ingat kalau memang ia dan Evan menaiki balon udara dengan memanjat tali itu.

__ADS_1


Sekarang Abian hanya perlu meluncur turun sambil berpegangan. Seharusnya, itu lebih mudah dilakukan daripada memanjat, bukan?


Namun, tubuh Abian, terutama tangan dan kakinya tidak kunjung berhenti gemetar. Gigi-giginya juga akan bergemeretak dengan keras jika saja ia tidak mengatupkan rahangnya dengan kuat. Abian sungguh ketakutan dan tidak ingin melakukan ini. Sayang sekali ia harus melakukannya jika masih ingin punya muka di hadapan Evan. Sebenarnya, sejak awal, kenapa Abian mengikuti Evan? Semuanya pasti akan jauh lebih baik jika ia memilih bergabung dengan Trisha dan kedua gurunya.


“Mau nyerah?” tanya Evan sambil bersedekap dada. Ia mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi meremehkan. “Masih belum terlambat. Aku tidak keberatan menggantikanmu, selama kamu juga tidak keberatan menanggung risikonya.”


“Sudah diam! Kamu tidak perlu terus mengingatkan aku!” amuk Abian kepada Evan yang telah mengganggu konsentrasinya. Abian sungguh membutuhkan waktu untuk mengumpulkan semua keberaniannya, tetapi suara Evan terus membuyarkan fokusnya.


Tidak ingin terus mendengar suara menyebalkan temannya yang tidak pernah bersikap seperti teman, akhirnya Abian menarik napas panjang dan mulai merangkak keluar dari keranjang. Terlebih dahulu ia mengulurkan tangan dan menggenggam erat tali tambang yang menjadi harapan terakhirnya saat ini. Setelah merasa cukup stabil, Abian mulai bergerak maju, dengan maksud untuk melingkarkan kedua kakinya kepada tali.


“Aaaakh!”


Abian terpeleset hingga kini ia justru berakhir bergelantungan. Dengan panik ia terus meronta, mencoba mengangkat kakinya ke atas agar bisa menyangkut pada tali. Namun, semuanya jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Telapak tangannya yang bergesekan pada tambang terasa panas seperti terbakar, sementara lengannya yang menanggung beban tubuhnya seolah tertarik ke bawah dan hampir putus. Setiap kali Abian mencoba mengarahkan kakinya ke atas, ia merasakan ngilu luar biasa di bagian perut.


Kedua mata pemuda itu kini mulai berair. Membuang segala gengsi dan rasa malu, akhirnya Abian memanggil Evan untuk meminta tolong.

__ADS_1


Wajah Evan muncul dari balik keranjang dengan ekspresi sangat tidak menyenangkan. Dengan santai ia berjalan menghampiri Abian dan menyentuh pelan tangan temannya itu yang masih berpegangan. “Kamu masih belum jauh! Lihat? Aku bahkan bisa menyentuh tanganmu dari sini dengan mudahnya. Jangan panik berlebihan! Kalau tidak sanggup, kembali saja ke sini atau terjun ke bawah sekalian!”


***


__ADS_2