Monster In Me

Monster In Me
Waspada


__ADS_3

“Benar. Aku melihatnya dengan jelas, karena aku penasaran kenapa Evan dan Karsa mendadak mau bicara satu sama lain.” Abian berbicara dengan antusias. “Tampaknya mereka sempat berbaikan. Karena saat Karsa bilang ia haus, Evan memberikan salah satu botol minum miliknya dengan cuma-cuma.”


Trisha tampak berpikir beberapa detik sebelum menatap Evan penuh curiga. “Benarkah itu, Van? Kalian berbaikan?”


“Apa aku harus menjawabnya? Kami bukannya bermusuhan selama puluhan tahun,” jawab Evan ketus. “Sudahlah! Kenapa kalian membahasnya seolah ini permasalahan yang besar? Ayo, kembali bahas yang kalian bahas tadi! Tentang apa? Oh, tentang membuang Karsa ke tempat yang jauh dari sini!”


Trisha mengusap wajahnya frustrasi. Dengan lemas ia menyandarkan tubuhnya ke pundak Danita. “Sudah kuduga. Mana mungkin Evan bersikap baik.”


Danita mengamati pertukaran kata yang terjadi di antara siswanya. Jauh di dalam hati ia menyalahkan dirinya sendiri atas tidak akrabnya Trisha dengan Evan, serta atas sikap tertutup sang pemuda. Entah kenapa ia merasa semua itu akibat kesalahannya yang tidak memperhatikan para murid dengan baik. Meskipun ia sendiri bukan guru wali kelas Trisha dan Evan, tetapi ia sering berinteraksi dengan mereka berdua saat mengajar. Seharusnya ia bisa menyampaikan beberapa nasihat soal pertemanan sehingga perdebatan seperti ini tidak akan pernah terjadi.


Gunawan yang sedari tadi terus terdiam akhirnya berdeham sebelum berbicara. “Anak-anak, mungkin yang akan Bapak katakan ini bukanlah nasihat yang terbaik, tetapi Bapak rasa Bapak perlu mengatakan ini,” ucapnya dengan wajah murung. “Saat ini, kita tidak punya cukup banyak energi untuk memperdebatkan hal yang masih bisa kita bicarakan nanti. Sebaiknya, kita fokus saja kepada apa yang harus kita lakukan di waktu ini. Kita selesaikan semuanya satu per satu. Mulai dari memastikan kesehatan diri dan orang lain.”


“Pak Gunawan benar. Tidak ada gunanya kita membicarakan kesalahan masa lalu. Sekarang, kita harus memastikan keamanan dan kenyamanan bersama. Kalau ada yang merasa kurang sehat, bilang kepada Ibu atau Pak Gunawan, ya. Untuk sementara waktu, kita akan beristirahat di tempat ini.” Danita menambahkan dengan semangat baru. Kehadiran Gunawan benar-benar menguatkan dirinya yang tidak lagi merasa harus berjuang seorang diri. “Nah, sekarang … Ibu boleh minta salah satu air minummu, Evan? Untuk Trisha, kasihan dia.”


“Untukku juga! Aku mohon,” pinta Abian sambil menempelkan kedua telapak tangan di depan wajahnya. Tubuhnya sedikit membungkuk kepada Evan. “Rasanya tenggorokanku berubah menjadi kertas saking keringnya. Tolonglah! Beri aku beberapa teguk saja.”


Evan tampak mengerutkan kening, dan beberapa kali menghela napas berat. Sepertinya, sangat sulit baginya untuk berbagi saat ini. Tidak sedikit pun ia merasa iba melihat Abian dan Danita yang memohon kepadanya. Ia tetap bersikap seperti Evan yang biasanya, yang menatap siapa pun dengan pandangan datar.

__ADS_1


Namun, kali ini berbeda. Evan memendam alasan lain yang membuatnya tidak bisa membagikan air minumnya begitu saja.


“Kita harus berhemat,” ucapnya sambil membuka ritsleting tasnya dengan pelan. Sengaja berlama-lama untuk mengulur waktu. Berharap Danita dan Abian akan berubah pikiran, tetapi hal itu sungguh tidak mungkin. “Jangan pikir aku egois. Yah, meskipun aku tidak akan pernah peduli pada pandangan kalian terhadapku. Tapi aku serius! Kita tidak tahu sampai kapan kita akan terjebak di tempat ini. Jadi, jangan boros!”


Terdapat sekitar 5 botol air mineral di dalam tas Evan. Lambang khas Taman Bermain Cakrabuana tampak menghiasi empat di antaranya. Trisha akui, ia sempat ingin merebut semua itu dari Evan, seperti yang Abian coba lakukan saat ini. Namun, gadis itu urung melakukannya karena ia benar-benar tidak sanggup lagi jika sampai harus mendengarkan omelan Evan lagi.


Selain itu, ada hal aneh yang kini mengusik benaknya. Evan bersusah payah mengambil botol yang ada di bagian paling dasar tasnya, dan melewatkan botol-botol lainnya. Ia menyerahkan botol berwarna hitam yang Trisha duga sebagi botol pribadi milik pemuda itu.


“Ini. Isinya masih ada lebih dari setengah botol. Jangan dihabiskan,” pesan Evan kepada Trisha.


Abian mengerutkan kening melihat itu. Bukankah Evan menyukai Trisha? Rupanya pengalaman antara hidup dan mati membuat seseorang bisa bersikap pelit bahkan kepada gadis pujaannya sendiri.


Dengan cemas Trisha memandang air di dalam botol itu. Warnanya yang gelap membuatnya tidak bisa melihat bagian dasarnya. Seandainya Evan menaruh sesuatu di sana, Trisha tidak akan pernah mengetahuinya.


‘Ah, masa bodoh! Mati karena racun atau mati karena dehidrasi! Biar bagaimanapun, aku akan mati!’ pikir gadis itu sebelum akhirnya ia meneguk air minum itu dengan rakus.


“Sudah cukup! Giliranku!” Bukan Evan, melainkan Abian yang merebut botol hitam itu dari genggaman Trisha.

__ADS_1


Trisha mendecakkan lidah dengan kesal, tetapi ia sendiri merasa berterima kasih. Sebab jika Abian tidak merebut botol itu, mungkin Trisha kini sudah menghabiskan semua isinya.


“Wah! Rasanya nyawaku bertambah setengahnya!” seru Abian setelah ia minum dengan puas. Menyisakan sedikit sekali air di botol Evan. “Bu Danita, sama Pak Gunawan juga mau minum?” tawarnya. Seolah ia sedang menawarkan botol minumnya sendiri dan bukannya sedang menguasai air minum Evan.


“Tidak, Ibu tidak usah.”


“Bapak juga tidak usah.”


Mendengar itu, dengan cepat Evan mengambil botol minumnya lagi dari Abian. Sedikit berdecak kesal ketika mendapati bahwa isinya berkurang banyak. Namun, ia tidak mengatakan apa pun dan hanya memasukkan botol itu kembali ke dalam tasnya. Setelah itu, ia menempatkan tas itu di punggungnya, memastikan bahwa tidak ada orang lain yang bisa membukanya selain dirinya.


Semua tingkah lakunya tentu tidak luput dari pengamatan Trisha. Apalagi setelah konsentrasi gadis itu kembali berfungsi penuh setelah ia memenuhi kebutuhan cairan tubuhnya. Dalam diam Trisha mengingat kembali sikap Evan yang ia kenal saat ini. Terutama tentang bagaimana karakter sang pemuda selama mereka belajar di ruang kelas yang sama di sekolah.


Evan dikenal sebagai pemuda yang pintar dalam segala hal, tetapi cukup pelit untuk berbagi barang terkecil sekalipun. Trisha bahkan pernah menyaksikan bagaimana Evan menolak meminjamkan alat tulis kepada teman sekelasnya. Padahal pemuda itu memiliki cukup banyak pensil dan pulpen di dalam tempat pensilnya. Hampir semua orang membencinya karena itu, tetapi Evan tidak pernah memedulikannya.


‘Mungkin karena sifat buruknya jugalah, Evan dan Karsa bermusuhan sampai saat ini,’ pikir Trisha. ‘Aku pun tidak tahan jika harus terus berada di dekat pemuda yang memuakkan sepertinya.’


Semua hal itulah yang kini membuat Trisha semakin mewaspadai Evan. ‘Bagaimana bisa, pemuda yang terkenal tidak pernah mau meminjamkan barangnya, mendadak mau berbagi air minum miliknya? Baiklah. Mungkin Evan berbaik hati kepada Trisha dan Abian karena dipaksa, tetapi bagaimana dengan Karsa? Abian jelas-jelas mengatakan bahwa Evan memberi Karsa minum secara cuma-cuma.’

__ADS_1


***


__ADS_2