Monster In Me

Monster In Me
Melihat Lebih Jelas


__ADS_3

Adnan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia memang sudah berjalan cukup jauh sejak memasuki Taman Bermain Cakrabuana, tetapi sebelumnya ia terlalu sibuk menghindari zombie hingga tidak sempat memandangi sekitar. Kini, di saat ia kembali melanjutkan perjalanan bersama Zean yang telah berjalan lebih dulu beberapa meter darinya, Adnan akhirnya dapat benar-benar merasakan kengerian yang suasana Taman Bermain itu berikan kepadanya.


Semuanya sungguh jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan apa yang ia bayangkan sebelumnya.


Awalnya, Adnan pikir, dengan adanya manusia yang saling menyerang, situasi yang paling mengerikan hanyalah banyak jasad tidak bernyawa bergeletakan dengan cairan merah pekat yang mewarnai permukaan aspal di sekitarnya. Namun, ternyata tidak hanya itu.


Ke mana pun Adnan memandang ia bisa melihat jasad yang tidak lagi utuh, maupun potongan tubuh yang tidak diketahui pemiliknya. Bau amis terus mendesak masuk ke pernapasannya, dan Adnan membutuhkan seluruh kemampuan pengendalian diri miliknya untuk menahan agar apa pun yang masih menghuni perutnya tidak mendesak ke luar begitu saja. Pemuda itu bahkan sudah tidak memedulikan ke mana ia menginjakkan kaki. Sensasi hangat yang menyelimuti kakinya di balik sepatu tidak lagi membuatnya merasa merinding.


Dan di atas semua itu, Adnan masih tidak habis pikir mengapa banyak wahana Taman Bermain bisa hancur begitu saja.


“Apa para zombie itu mengamuk dan menyerang dalam kelompok?” tanyanya tanpa berteriak, tetapi cukup bisa didengar oleh Zean. “Tenaga mereka pasti besar sekali jika banyak wahana berhasil mereka rusak seperti ini. Sepertinya wahana yang masih bertahan hanyalah beberapa wahana terbesar di Taman Bermain ini.”


Zean berhenti berjalan agar Adnan bisa menyusulnya. Sejenak ia melihat ke kanan dan kiri sambil mengerutkan kening. Ia barus sadar bahwa jumlah zombie yang mereka temui semakin berkurang. Apa ada seseorang yang telah membantai mereka semua?


“Aku juga tidak tahu banyak.” Tanpa menanyakan keingintahuannya, Zean mencoba menjawab pertanyaan Adnan. “Tapi sejauh yang kutahu, para zombie itu bertindak sangat agresif saat pertama kali serangan terjadi. Mereka menerjang semua yang ada di depan mata mereka, bahkan benda mati sekalipun. Mereka juga sempat menggigit sesama zombie. Atau mungkin aku yang salah lihat? Entahlah. Yang pasti, mereka tidak lagi seagresif itu sekarang dan hanya menyerang manusia.”


Adnan mengangguk selama beberapa saat sebelum kembali merengut. “Tapi aku pernah melihat zombie yang bergerak-gerak sendiri seolah sedang sengaja mematahkan setiap tulang di tubuhnya. Apa dia jenis zombie yang langka?”

__ADS_1


“Tidak. Setahuku mereka memang terus bergerak seperti itu setiap kali tidak ada suara atau sosok manusia yang memancing mereka.”


Zean kembali berhenti berjalan dengan mendadak. Hampir membuat Adnan menabrak tubuhnya jika saja kakak Adira itu tidak mempunyai refleks yang bagus. Sang pemuda baru saja akan mengomeli Zean saat ia tanpa sengaja melihat apa yang mungkin membuat Zean kini membeku di tempat.


Meski tubuh yang kini tergeletak di atas aspal itu dalam posisi meringkuk serta tertutupi berbagai noda, Adnan masih bisa melihat pakaian seperti apa yang dikenakan jasad itu.


Warna kuning terang dengan gambar maskot bunga matahari kecil tersebar di beberapa titik. Itu adalah seragam resmi petugas yang mengoperasikan setiap wahana di Taman Bermain Cakrabuana.


Selain hal itu, hal apa lagi yang bisa membuat Zean dan Adnan kini menatap dengan iba? Tentu saja posisi mayat itu.


“Pria malang. Padahal dia hanya ingin bekerja mencari nafkah,” ucap Zean pelan. Ia berjongkok untuk mengamati pria itu dengan lebih dekat. Wajahnya yang terlihat dari balik celah tangan yang menutup kepalanya terlihat jauh lebih muda dari Zean. Hal itu membuat sang pemuda semakin menarik napas dalam. “Kuharap pihak Taman Bermain memberi kompensasi yang cukup untuk keluarganya.”


Sementara itu, Adnan hanya mengendikkan bahu dan memilih berjalan berkeliling. Ekspresi iba tidak lagi terlihat di wajahnya. Kini ia kembali terlihat dingin dengan kedua mata yang fokus menatap sekitar. Langkahnya pasti saat ia mendekati sebuah kotak besi kecil dengan lingkaran besar di atasnya.


Kedua matanya lantas berbinar setelah mengenali benda apa itu.


“Pergerakan zombie memang tidak bisa ditebak,” ucapnya lantang hingga menarik perhatian Zean. “Semua barang-barang besar, seperti tiang, pohon, sampai wahana mereka terjang. Tapi, lihat! Mesin permen kapas ini sama sekali tidak tersenggol. Yah, walaupun tetap saja terkena banyak noda.”

__ADS_1


Zean meringis jijik sambil merengut saat melihat Adnan menyelidiki mesin permen kapas itu lebih lanjut. Pemuda itu tampak membuka setiap laci kecil di sana hingga menemukan laci yang berisi bubuk berwarna-warni. Mulai dari warna putih, merah jambu, hijau, dan ungu. Semua itu adalah gula yang menjadi bahan dasar permen kapas, dan merupakan benda yang sedari tadi Adnan cari. Namun, wajah pemuda itu sama sekali tidak senang melihatnya.


“Gula-gula ini sudah terkontaminasi. Lihat! Beberapa bahkan mulai menyatu karena basah,” gerutu Adnan sambil mengibaskan tangan, meminta Zean untuk segera menghampirinya dan melihat semua itu. “Sepertinya, gula yang warna ungu ini tidak seharusnya berwarna ungu. Tapi campuran dari warna biru dan merah dari—“


“Iya, iya. Aku mengerti,” potong Zean sedikit terburu-buru. Ia sungguh tidak ingin mendengar penjelasan Adnan lebih jauh. Isi perutnya kini terasa berputar-putar di dalam tubuhnya. “Lagipula, siapa juga yang mau membuat permen kapas di saat seperti ini?”


“Aku. Adira sangat menyukai camilan ini.”


“Jangan! Jangan nekat! Biarpun kelihatannya masih ada gula yang bersih, jangan lakukan apa pun!”


Adnan memutar bola matanya jengah mendengar itu. Padahal belum lama ia bertemu dengan Zean, tetapi Zean kini telah bertingkah layaknya seorang kakak yang terus berusaha untuk melindunginya. Adnan sangat ingin protes dan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak butuh perlindungan. Hanya saja, ia masih membutuhkan petunjuk jalan dari Zean yang sudah lebih lama berada di tempat mengerikan tersebut. Adnan pikir ia bisa lebih banyak menghemat waktu dan bisa menemukan Adira lebih cepat dengan bantuan Zean.


Meskipun tetap saja ia terus mempertahankan kewaspadaannya. Biar bagaimanapun, Zean tetaplah orang asing baginya.


“Oke. Aku hanya akan melihat-lihat di sekitar sini. Aku tidak akan menyentuh apa pun,” jawab Adnan akhirnya, dengan sedikit ketus. Dengan sengaja ia mengangkat kedua tangannya ke atas, meniru gerakan penjahat yang tengah ditodong senjata oleh polisi dalam film. Selama beberapa saat, ia berkeliling dengan mempertahankan posisi itu.


***

__ADS_1


__ADS_2