
“Hah … aku sudah berusaha, tapi mereka bersikukuh bahwa tidak ada seorang pun yang boleh melewati barikade,” keluh Irwan setelah ia kembali memasuki mobilnya. Ia bersandar lemah pada sandaran kursi yang didudukinya. “Mereka juga tidak mau memberitahukan apa pun karena seluruh informasi yang mereka miliki belum dikonfirmasi kebenarannya. Kurasa kita tidak akan mendapatkan apa pun dengan berdiam di sini.”
Selama beberapa detik, Irwan terdiam. Menunggu istri maupun anaknya memberikan tanggapan atas informasi yang baru saja ia sampaikan. Namun, tidak ada satu pun yang bersuara. Keheningan yang terasa menyesakkan membuat Irwan membuka kancing teratas kemejanya, lalu berbalik untuk melihat keadaan Adnan dan Dewi.
Kedua mata Irwan lantas membelalak mendapati bahwa di kursi belakang hanya ada Dewi yang terkulai lemas. Melihat ke arahnya dengan kelopak mata yang menggantung. Dewi hanya bisa menyunggingkan senyum tipis guna menyampaikan bahwa ia baik-baik saja. Meskipun begitu, Irwan tetap bergegas menghampirinya dan duduk di sisinya.
“Ada apa ini? Ke mana Adnan?” Pria itu bertanya dengan gelisah. Kedua tangannya meraih tubuh Dewi dengan hati-hati, mengarahkan istrinya itu untuk bersandar ke pundaknya, sementara ia memastikan bahwa suhu tubuh Dewi masih berada dalam batas normal. “Sejak kapan kamu sendirian di sini? Kenapa Adnan tidak izin kepadaku sebelum pergi?”
Dewi memejamkan matanya sejenak. Tubuhnya sungguh terasa tidak bertenaga dengan semua kekhawatiran yang membuatnya sesak. Sedalam apa pun ia menarik napas, tidak pernah terasa cukup. Bahkan usapan lembut sang suami di kepalanya tidak membuatnya merasa nyaman.
Mungkin karena ia tahu, bahwa Adira di luar sana sama sekali tidak bisa menikmati kenyamanan seperti ini. Mungkin karena Dewi tidak bisa berhenti membayangkan betapa tersiksanya anak bungsunya itu saat ini, sementara ia hanya terkulai lemah tidak berdaya.
“Aku … sungguh tidak berguna,” lirih Dewi kemudian.
Irwan yang tengah sibuk merutuki Adnan tidak mampu menangkap ucapan sang istri. “Kamu bilang apa?”
“Aku … tidak. Kita ini orang tua yang tidak berguna.” Dewi mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk menegakkan posisi duduknya. “Di luar sini, kita hanya bisa pasrah dan menyerahkan segalanya kepada pihak berwajib. Padahal anak kita sedang memperjuangkan hidupnya.”
Mendengar itu, Irwan lantas mengembuskan napas berat. “Kukira kita sudah selesai membicarakan ini.”
__ADS_1
“Tidak, tidak akan pernah selesai.” Air mata mulai mengalir dari sudut mata Dewi. “Dan jika sampai terjadi sesuatu kepada Adira, aku tidak akan pernah melupakan betapa payahnya kita ini.”
Irwan bergerak menjauh dari Dewi. Otomatis membuat tangannya tidak lagi merangkul sang istri. Pria itu memilih untuk melihat ke luar jendela, memperhatikan bagaimana para orang tua lain masih berjuang untuk bernegosiasi dengan para petugas kepolisian. Di dalam kepalanya, Irwan terus merendahkan tindakan para orang tua itu, karena ia tahu bahwa tidak akan ada yang bisa mengubah keputusan pihak berwajib. Namun, jauh di lubuk hati, ia cukup merasa kagum kepada kegigihan dari orang-orang itu.
Mungkin memang benar, bahwa ia bukanlah sosok orang tua terbaik yang bisa dibanggakan oleh kedua anaknya. Bahwa ia dan Dewi masih mempunyai banyak kelemahan hingga seringkali menyakiti maupun mengecewakan anak-anak mereka tanpa sengaja. Meski terpaksa, Irwan harus mengakui itu, karena biar bagaimanapun, menjadi orang tua adalah proses belajar seumur hidup. Tidak peduli seberapa banyak buku panduan membesarkan dan mendidik anak yang bertebaran di luar sana, tetap saja membutuhkan pengalaman serta keteguhan diri untuknya menjadi ayah terbaik.
Sayangnya, Irwan sering melupakan semua itu karena rasa lelah serta pengendalian emosinya yang masih rendah membuatnya seringkali tenggelam dalam amarah, dan melampiaskan kekesalannya kepada Adnan dan Adira.
“Bagaimana aku tidak kesal? Mereka selalu mengecewakanku, terutama Adnan,” keluh Irwan dalam hati. Ia mulai mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakannya, seperti biasa. “Lihat saja! Sekarang dia pergi entah ke mana, meninggalkan ibunya yang jelas-jelas sedang terkulai lemah seperti ini.”
“Ya, sudah. Kamu tenang dulu, ya. Sekarang aku harus cari Adnan dulu,” ucap Irwan akhirnya sambil mencari-cari ponsel di sakunya. Dengan segera ia mencari nomor kontak sang anak sulung dan menunggu hingga nada sambung tidak lagi terdengar. “Ke mana, sih, tuh anak? Bisa-bisanya bikin orang tua tambah pusing! Awas aja nanti, begitu dia kembali, aku akan beri dia pelajaran!”
Irwan merapatkan bibir. Menahan dirinya untuk tidak menanggapi ucapan sang istri, karena ia tahu, sekali berdebat ia tidak akan mampu berhenti. Apalagi saat ini Adnan tidak kunjung mengangkat panggilannya, Irwan bisa merasakan gemuruh amarah siap untuk meledak di dalam dadanya.
***
“I … lo-love you! I love … you!”
Adnan memandang sebuah boneka beruang yang terus mengeluarkan suara lemah di dekat kakinya. Pemuda itu memandang ke sekeliling, melihat banyak sekali aksesoris taman bermain tergeletak di berbagai tempat. Sebagian besar di antaranya tidak lagi dapat ia kenali bentuknya, sementara sebagian lainnya cukup beruntung karena terjatuh di pinggir jalan. Jauh dari risiko terinjak maupun diserang zombie.
__ADS_1
Seperti boneka beruang yang kini Adnan genggam dengan kedua tangan. Boneka itu hanya sedikit terkena noda tanah dan darah di beberapa tempat. Bagian belakangnya yang berisi baterai juga terlihat terbuka, dengan beberapa kabel mencuat ke permukaan. Tampaknya sang boneka malang sempat terlempar dan jatuh menghantam jalanan dengan keras. Membuat beberapa fungsinya rusak.
Namun, sepertinya ia tidak akan menyerah untuk menebarkan kasih sayang ke seluruh sudut Taman Bermain Cakrabuana yang sudah kacau. Terbukti dengan suaranya yang terus menyatakan kata cinta hingga membuat Adnan sedikit menyunggingkan senyum.
“Kakak! Berhenti menekan perut bonekanya seperti itu! Kita menarik perhatian semua orang di sini!”
Lagi-lagi ia kembali mengingat kenangannya dengan Adira, yaitu saat di mana mereka mengunjungi Pasar Raya tidak jauh dari rumah. Pasar itu hanya hadir satu kali per bulan di wilayah mereka, sehingga Adnan selalu memastikan bahwa ia sempat membawa Adira ke sana sebelum terlambat.
Satu hal yang selalu menjadi perhatian utama Adira adalah berbagai makanan dan minuman yang dijajakan di sana. Adnan selalu memastikan bahwa isi dompetnya cukup untuk membelikan apa pun yang Adira inginkan. Ia bahkan sebenarnya ingin Adira untuk meminta sesuatu yang jauh lebih berharga dibandingkan camilan.
“Lihat boneka ini! Dia bisa mengucapkan I love you, Dir! Apa kamu yakin, gak mau beli?” Saat itu Adnan terus merayu Adira sambil menekan perut boneka beruang, yang pada akhirnya, ia hanya menerima pukulan ringan di pundak sebagai balasan.
“Aku tidak mau! Lebih baik aku membeli buku pengetahuan seperti Kakak! Aku akan menyukai apa pun yang Kakak sukai! Aku juga akan terus belajar dengan giat agar bisa seperti Kakak!”
Mendadak Adnan jatuh terduduk. Boneka di tangannya terlepas begitu saja, berguling menjauh darinya dan berhenti bersuara. Pemuda itu terdiam selama beberapa saat, memperhatikan kakinya yang penuh noda merah dan mulai menimbulkan bau tidak sedap. Kedua tangannya lantas mengusap wajahnya dengan kuat.
“Aku ini Kakak yang payah, Dir. Jangan mau menjadi sepertiku.”
***
__ADS_1