Monster In Me

Monster In Me
Rencana yang Kacau


__ADS_3

Malam semakin gelap, dan penerangan yang terus menyala sejak malam sebelumnya kini mulai meredup. Evan melihat sekeliling dengan mata memicing. Sulit sekali baginya untuk melihat dengan jelas. Apalagi sejak awal ia memang memiliki penglihatan yang kurang baik.


Pemuda itu terlihat cukup santai dibandingkan dengan teman-teman serta para guru yang masih bertahan bersamanya. Tentu saja. Karena kini Evan berdiri di tengah-tengah mereka yang sibuk menghalau banyak zombie.


“Kenapa kita selalu berakhir seperti ini?” keluh Abian sambil menjerit. Kedua tangannya sibuk memegangi pagar kawat yang tampaknya tidak akan melindungi mereka lebih lama. Belum lagi ia harus terus waspada untuk menghindari para zombie yang ingin menggigit jari-jarinya dari balik pagar. Abian mulai berpikir bahwa hidupnya telah dikutuk dari seberapa sering ia tertimpa kesialan.


“Jangan mengeluh dan dorong saja!” tegur Trisha yang kini menahan pagar menggunakan punggungnya. Dengan begitu, ia pikir tidak akan ada bagian tubuhnya yang mencuat ke luar pagar. Sama sekali lupa bahwa para zombie itu juga mempunyai tangan untuk menarik baju maupun rambutnya. Trisha berakhir terus berteriak karena tidak bisa melepaskan diri dari tarikan para zombie.


Danita yang sudah berada di lantai dua kantor Pusat Informasi menyaksikan semuanya dengan gelisah. Selain Evan, hampir semua orang kesulitan di bawah. Termasuk Gunawan yang kini berusaha memukul mundur para zombie sambil memanjat pagar yang sudah melengkung ke luar. Semakin lama, tubuh Gunawan semakin turun mendekati para zombie. Tidak butuh waktu lama sampai Gunawan benar-benar akan terjatuh ke dalam lautan mayat hidup itu. Danita harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa hanya fokus melakukan tugasnya sendiri sementara para murid dan guru seniornya tersiksa.


Evan yang menyaksikan bagaimana Danita berdiam dengan gelisah di bagian luar jendela kantor Pusat Informasi yang baru saja gurunya panjat itu lantas berdecak kesal. Evan berteriak kepada dengans sekuat tenaga. “Apa yang Ibu lakukan? Cepat siarkan sesuatu!”


Danita menggelengkan kepala cepat. Di tengah penerangan remang-remang, Evan bisa melihat dengan jelas kilap air mata yang membasahi wajah sang guru. “Ibu tidak bisa diam saja sementara kalian berjuang di sana! Apalagi setelah kita menyalakan speaker, akan ada lebih banyak zombie yang datang! Ibu harus melakukan sesuatu!”


“Yang harus Ibu lakukan hanyalah menyelesaikan misi kita ini secepat mungkin!” Evan mengusak rambutnya dengan frustrasi. Sama sekali tidak ada rasa hormatnya tersisa untuk Danita.

__ADS_1


“Tidak bisa!” Danita tetap bersikukuh. Ia mengintip ke dalam jendela kantor, memastikan bahwa ruangan itu kosong. “Bagaimana kalau kalian semua lari masuk ke dalam gedung ini? Mungkin pintunya akan cukup kuat untuk menahan semua zombie itu!”


“Tidak mungkin! Kalau kita melakukan itu, semua peralatan di dalam hanya akan rusak oleh para monster tidak berotak ini!” Evan kini sudah sepenuhnya mengamuk. Ia tidak lagi menahan diri untuk pergi memanjat tangga darurat di luar gedung Pusat Informasi.


Tidak butuh waktu lama hingga ia sampai ke dekat Danita. Dengan tangannya ia berusaha menyuruh sang guru untuk menyingkir agar ia bisa memasuki lantai dua kantor itu.


Gelagapan, Danita mencoba untuk bergeser. Namun, posisinya yang hanya berpijak di atas bagian tembok yang sedikit mencuat ke luar membuatnya kesulitan untuk bergerak cepat. Belum lagi kondisi tubuhnya yang tidak sedang berada dalam kondisi terbaik. Kedua kaki perempuan itu terus bergetar sementara kedua tangannya berpegangan ke dinding dengan sangat putus asa. Danita menggeser posisinya dengan kecepatan yang sangat lamban dan ia bisa merasakan bahwa Evan tidak lagi bisa bersabar menunggunya.


Evan mungkin manusia dengan hati paling dingin di dunia. Tidak. Bahkan mungkin sejak awal, hatinya terbuat dari batu. Tanpa perasaan ia membuka jendela dengan sekuat tenaga, tanpa memedulikan Danita yang lantas terdorong hingga hampir terjatuh dari posisinya. Jerita guru muda itu mengalahkan semua jeritan yang terdengar dari bawah, tetapi Evan sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun. Sedikit pun ia tidak merasa bersalah telah membuat Danita hampir celaka.


Danita menengadah dan melihat Evan memasuki lantai dua dengan mudahnya. “Guru macam apa yang mengembankan tugas penting ke muridnya?” gumam Danita di sela-sela ringisannya. Dengan hati-hati ia mengamati lukanya. Memastikan bahwa lukanya tidak cukup dalam untuk membuatnya kehilangan nyawa. “Ayo, berpikir, Danita! Apa yang sebaiknya kamu lakukan sekarang?”


Terdengar suara barang-barang jatuh dari lantai dua membuat Danita seketika menegakkan tubuh. “Evan tidak mungkin langsung menyalakan speaker-nya, kan? Ini tidak bagus. Pak Gunawan, Trisha, dan Abian masih ada di bawah sana!”


Meskipun takut setengah mati, segera Danita meluncur turun, mengabaikan kakinya yang masih terasa perih luar biasa. Ia berakhir bergelantungan di ujung atap sebelum pasrah menjatuhkan diri ke atas tanah. Jeritan keras keluar dari bibirnya saat tubuhnya menghantam aspal yang keras. Namun, ia memaksakan diri untuk berjalan menghampiri Trisha yang berada paling dekat dengan posisinya saat ini.

__ADS_1


“Aku harus memperingatkan mereka,” gumamnya sebelum mendapati situasi Trisha yang terancam bahaya. Gadis itu sudah menangis terisak-isak karena rambutnya sudah ditarik banyak zombie. Pakaiannya juga koyak, dan ia cukup beruntung karena bagian-bagian penting tubuhnya masih tertutupi dengan baik. Dengan panik Danita melihat sekeliling, dan mendapati potongan seng yang berada tidak jauh dari sana.


Danita mengambil potongan itu dan mulai memotong rambut Trisha dengan hati-hati. Dalam hati ia merasa bersalah karena akan membuat sang siswi kehilangan sebagian besar rambut indahnya. Namun, haru bagaimana lagi? Nyawa Trisha lebih penting dibandingkan dengan penampilannya.


Tidak butuh waktu lama hingga Trisha berhasil terlepas. Setelah itu mereka bekerja sama untuk menyelamatkan Abian, dengan mendorong beberapa tong besi berisi solar untuk menggantikan Abian menahan pagar.


“Baiklah. Selanjutnya Pak Gunawan!” seru Danita kepada Trisha dan Abian yang lantas mencari keberadaan gurunya itu. Namun, seketika mereka membeku saat melihat tubuh Gunawan yang telah ambruk. Tenggelam disambut oleh uluran tangan mengerikan para zombie.


“Pak Gunawaaan!” Danita berteriak dan berusaha berlari menuju sang senior, tetapi tubuhnya ditahan dengan kuat oleh Trisha dan Abian.


Mereka harus merelakan Gunawan jika tidak ingin korban jiwa bertambah.


Tepat di saat itu, suara gemeresak serta denging nyaring mulai terdenagar dari pengeras suara yang terpasang di beberapa tiang di dekat mereka. Kedua mata Danita melebar. Evan telah mengeksekusi rencana mereka.


***

__ADS_1



__ADS_2