
Bruk!
Abian berhasil menerjang mayat hidup yang sempat menyerang Gunawan. “Rasakan! Dasar zombie jelek! Jangan ganggu kami!” teriaknya dengan berani. Tampaknya situasi mendesak membuat keberaniannya meningkat beberapa kali lipat. Kedua tangannya menahan leher zombie itu sementara tubuhnya menimpa sang mayat hidup.
Buru-buru Gunawan bangkit dan mencegah zombie itu menggigit Abian. Ia mendaratkan beberapa tendangan sebelum akhirnya mereka berlari ke arah lain, menyusul Danita dan dua siswa lainnya.
Lagi-lagi langkah mereka terhenti karena beberapa zombie mulai menampakkan diri di jalan yang akan mereka lalui. Dengan sangat terpaksa Gunawan kembali mengarahkan rombongan untuk berbelok ke arah berlawanan.
Namun, di arah yang ditunjuknya justru ada lebih banyak zombie. Danita akhirnya mengusulkan mereka untuk kembali dan melalui jalan yang berbeda dari sebelumnya.
Dan banyak zombie kembali menghentikan pergerakan mereka. Mereka berbelok arah, tetapi kembali terhenti dengan alasan yang sama.
Dan lagi.
Dan lagi.
Mereka terjebak.
“Argh! Sudah kubilang, seharusnya kita menyusun rencana sematang mungkin sebelum turun ke sini!” gerutu Evan sambil menggunakan ranselnya di depan tubuh. Menjadikannya sebagai tameng pelindung. “Sekarang kita harus bagaimana? Tidak mungkin kembali ke balkon tadi! Jalannya sudah penuh oleh zombie!”
“Kenapa mereka ada yang banyak sekali? Sebenarnya, mereka datang dari mana?” Abian terus bertanya, sementara ia mengangkat kedua tangannya di depan tubuh. Bersiap dalam posisi kuda-kuda. Ia dan yang lainnya berdiri dalam pola lingkaran, masing-masing menghadap ke luar. Dengan sangat terpaksa berhadapan dengan para zombie yang bergerak sedikit lebih lambat dari mereka. Pipa besi tergeletak begitu saja di dekat kaki mereka. “Ini pasti akhirnya! Kita akan mati di sini! Saat ini juga! Tidaaak!”
Teriakan putus asa Abian tentu saja membuat para penyintas lainnya semakin gelisah. Tubuh mereka mulai bergetar, terutama Trisha. Gadis itu telah menangis tersedu-sedu dan terus merapatkan diri ke tubuh Danita. Sang guru sendiri tengah sangat berusaha untuk menyembunyikan ketakutannya.
“Tentu saja! Kenapa tidak pernah terpikirkan olehku!” Tiba-tiba Evan memukuli kepalanya sendiri. “Jumlah kita terlalu banyak! Sepertinya, hampir seluruh zombie di dekat sini mengarah kepada kita karena kita bergerak dalam kelompok yang cukup besar! Kita tidak akan bisa ke mana pun karena mereka semua akan memperlambat pergerakan kita!”
__ADS_1
“Tidaaak! Jangan bicara seperti itu!” Trisha menjerit. Tubuhnya meronta saat salah satu zombie mengulurkan tangan ke arahnya.
“Aku hanya mengatakan fakta!”
“Lebih baik kamu diam!”
Danita menggigit bibir bawahnya tanpa sadar. Tampaknya tidak ada satu pun dari mereka yang masih mampu berpikir dengan jernih di situasi saat ini. Apalagi lingkaran mereka semakin lama semakin mengecil karena kumpulan zombie yang mendekat. Cepat atau lambat para zombie itu akan mampu meraih mereka dan detik berikutnya, mereka akan tinggal nama.
Tidak pernah satu kali pun Danita membayangkan bahwa menjadi guru membuatnya juga bertanggung jawab atas nyawa para murid, membuatnya harus menjaga mereka dari serangan zombie yang datang dari antah berantah. Jika ia tahu semua ini sejak awal, mungkin ia tidak akan pernah memilih karir mengajar.
Tidak. Danita tahu bahwa tidak mungkin baginya untuk memilih karir lain. Saat ini ia hanya sedang sangat putus asa sehingga pikirannya kacau.
“Tenang, anak-anak!” teriakan Gunawan membuat Danita menghentikan lamunannya. Ia melihat ke arah Gunawan berada, tepat di sampingnya. Tangan kanan sang guru senior kini tengah menekan sisi pinggangnya sendiri yang mulai mengeluarkan cairan merah. Tampaknya, pergulatannya dengan zombie yang menyergapnya tadi memberinya luka yang cukup dalam. Namun, Gunawan belum ada waktu untuk memikirkan luka itu.
“Konsentrasi! Jangan biarkan mereka menggigit atau memukulmu sedikit pun! Kita akan coba menerobos mereka!” ucap Gunawan lagi. Dengan cekatan ia mengambil pipa besi panjangnya kembali dan meminta yang lainnya untuk memegangnya juga. “Dalam hitungan ketiga! Maju sekuat tenaga!”
“Kalau begitu kita harus cepat sebelum zombie di belakang menyusul!”
“Mana mungkin bisa!”
“Satu … dua, tiga!”
Setelah mendengar hitung mundur Gunawan yang sedikit terburu-buru, semuanya refleks mendorong pipa besi ke depan. Dengan sangat terpaksa menjulurkan tangan mereka yang memegang pipa itu ke arah rombongan zombie yang terus menganga dengan wajah mengerikan. Suara tulang-tulang retak terdengar dari sana-sini, tetapi Gunawan, Danita, dan para murid tidak gentar sedikit pun. Mereka harus berani jika masih ingin lolos dari sini sebagai manusia yang berakal.
Sesuai dugaan Evan, usaha mereka ini tidak membuahkan hasil yang banyak. Mereka hanya cukup beruntung karena terdapat sebuah parit besar tidak jauh di hadapan mereka. Setelah mereka mendorong dan terus mendorong, beberapa zombie mulai terjatuh ke dalam parit itu. Sekuat tenaga Gunawan berteriak, memerintahkan semuanya untuk mengerem agar tidak turut terjatuh.
__ADS_1
Tangan-tangan para zombie di depan mereka masih terangkat, berusaha menarik mereka ke dalam kolam neraka itu. Wajah Gunawan memucat saat menyadari bahwa mereka kembali terjebak. Dan tidak butuh waktu lama untuk zombie di belakang mereka berhasil menyusul.
Hingga akhirnya, Abian berbalik. “Sekarang tinggal dorong zombie di belakang sampai ada celah!” teriak sang penyuka film zombie itu.
Tanpa bertanya, Gunawan, Danita, Trisha, dan Evan lantas melakukan apa yang Abian perintahkan. Meski kali ini dorongan mereka jauh lebih lemah dari sebelumnya, mereka berhasil menciptakan jalan untuk mereka melarikan diri. Kelima manusia itu terus berlari sampai mereka menemukan tempat yang cukup aman untuk mengatur napas.
“Gila! Kalian semua gila!” Evan mulai mengumpat setelah ia bisa kembali bernapas dengan normal. “Tadi itu nyaris sekali! Nyawa kita sudah ada di ujung kerongkongan! Jika jumlah zombienya sedikit saja lebih banyak, kita tidak akan berhasil keluar hidup-hidup!”
“Setidaknya kita sudah berhasil!” balas Trisha dengan ketus. “Tidak bisakah kamu mensyukurinya saja, dan menggunakan sisa tenagamu untuk memikirkan langkah kita selanjutnya?”
“Apanya yang berhasil? Lihat Pak Gunawan!”
Trisha, Abian, dan Danita lantas menoleh ke arah sang guru senior. Sementara Gunawan sendiri hanya bisa menunduk. Ia sudah tahu ke mana pembicaraan ini akan mengarah.
“Pak, sepertinya luka Bapak semakin parah,” ujar Danita hati-hati. Ia sempat akan merobek bagian lengan panjang pakaiannya sebelum Gunawan mencegahnya.
“Tidak apa-apa. Saya bukannya tertusuk benda tajam, hanya tergores, tapi cukup dalam,” jawab Gunawan tenang.
“Pak Gunawan terluka, tapi kenapa kamu yang ribut?” protes Abian kepada Evan.
“Karena seharusnya Pak Gunawan jadi pemimpin dan pelindung kita di sini!” Evan mulai berteriak frustrasi. Sedikit pun ia tidak peduli bahwa mereka belum berada di tempat yang benar-benar aman. “Tapi sekarang apa? Pak Gunawan tidak banyak berguna! Dan sekarang Bapak terluka, Bapak hanya akan memperlambat kami semua!”
Gunawan hanya bisa terdiam mendengar kekecewaan anak muridnya. Diam-diam merutuki dirinya sendiri yang tidak berguna.
Sementara itu, Danita tampak menatap Evan dan Gunawan secara bergantian, sebelum ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. ‘Kacau sudah.’
__ADS_1
***