
“Enaknya jadi anak kecil,” ejek Adira dengan suara pelan. Ia, Firda, dan Aron kini memulai perjalanan menembus wilayah yang cukup dihuni banyak zombie. “Kamu hanya perlu merengek sedikit, menatap sedikit, terisak sedikit, maka semua orang akan langsung menuruti kemauanmu.”
“Sssttt! Ada apa denganmu?” tegur Firda dengan suara yang sama pelannya. Wajahnya merengut menahan amarahnya terhadap Adira sambil membetulkan posisi buntalan cukup berat yang ada di punggungnya. “Jangan banyak mengeluh! Bukan kamu yang harus menggendong anak laki-laki yang bisa berteriak kapan saja!”
“Kamu sendiri yang mengajukan diri.” Adira memutar bola matanya dengan malas. “Jangan berlebihan. Aron sudah kita tutup matanya, bahkan hampir seluruh wajah dan tubuhnya. Dia tidak akan bisa melihat apa-apa, tidak mungkin dia tiba-tiba berteriak.”
“Kamu tidak tahu rasanya. Coba gantian!”
“Tidak mau.”
Firda mendengkus keras. Sejak matahari terbenam, ia sudah menggendong Aron dengan susah payah. Meskipun terlihat kecil, Aron ternyata cukup berat hingga Firda berkali-kali meminta istirahat. Adira sendiri mengabulkan permintaannya, tetapi sambil menggerutu. Firda hanya membiarkannya, berpikir bahwa Adira hanya membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan bahwa mereka kini benar-benar telah mengambil tanggung jawab atas nyawa Aron.
Kini setelah langit benar-benar gelap sepenuhnya, tanpa keberadaan bintang yang mungkin tertutup awan mendung maupun polusi, Adira masih saja bersikap tidak acuh dan bahkan semakin banyak melempar komentar sinis. Firda sendiri merasa sangat tidak nyaman interaksi dengan sahabatnya berubah drastis seperti ini, tetapi mau bagaimana lagi? Ia tidak bisa mengabulkan keinginan egois Adira begitu saja.
“Bukan aku yang egois, tapi kamu yang munafik.” Firda masih mengingat dengan jelas kalimat yang dilontarkan Adira saat ia kelepasan mengatai Adira. “Kamu mungkin tidak ingin mengakuinya, tapi aku tahu kalau jauh di dalam hati kamu cukup menyesal karena memaksakan diri untuk menjaga Aron.”
Mungkin ucapan Adira ada benarnya, sebab kini Firda mulai menyesali keputusannya serta merindukan saat-saat ia dan Adira saling menyemangati dan menguatkan. Mereka begitu perhatian satu sama lain dan sangat jarang berkata dengan ketus. Berbeda dengan saat ini.
Namun, seandainya Adira bisa sedikit mengalah dan memendam semua kekecewaannya sendiri tanpa bersikap kejam kepada Firda, apa Firda akan menyesali semuanya?
Tentu tidak.
__ADS_1
‘Jadi, kesimpulannya, bukan aku yang munafik. Tapi memang sifat Adira yang sangat merepotkan,’ putus Firda final.
Mereka kini sampai di wahana yang memiliki tiang besar dan tinggi di tengah-tengah serta banyak ayunan dengan rantai yang besar dan panjang ada di sekelilingnya. Adira tertegun. Wahana itu adalah wahana kesukaannya semasa kecil. Meskipun ia sendiri tidak pernah bisa mengingat nama wahananya, karena setiap Taman Bermain memberi nama yang berbeda-beda.
Firda membulatkan matanya kebingungan saat Adira keluar dari persembunyian begitu saja. Gadis itu melihat ke sana kemari dengan wajah sendu. Tanpa memedulikan sejumlah zombie yang tersangkut di beberapa ayunan merentangkan tangan dan berusaha meraihnya.
“Cari apa, Dir?” Saat Adira menoleh ke arahnya, Firda bertanya dengan hanya menggerakkan murut, tanpa mengeluarkan suara.
“Papan keterangan wahana,” jawab Adira lantang. Tampaknya ia terlalu fokus kepada keinginannya hingga lupa untuk bersikap waspada. “Aku ingin tahu nama wahana ini. Aku ingat pernah menaikinya saat SD dulu.”
Firda mengangkat salah satu alisnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa Adira pernah pergi ke Taman Bermain. Selama ia mengenal sang gadis, Firda terus menganggap Adira sebagai gadis yang hanya tertarik dengan hal-hal yang mampu meningkatkan kualitas diri dan nilainya di sekolah. Namun, seharusnya Firda tahu bahwa Adira tetap hanya manusia biasa.
Dan sepertinya, wahana ayunan raksasa ini memiliki kenangan tersendiri bagi Adira. Karena kalau bukan begitu, tidak mungkin ia memaksakan diri seperti ini hanya untuk mengetahui nama sebuah wahana yang kini terbengkalai.
“Aron pegal, Kak,” jawab sang bocah dengan sedikit merengek.
Firda menarik napas dalam guna menahan emosinya. Pasalnya, ia pikir Aron sama sekali tidak ada hak untuk mengeluh pegal di saat tugasnya hanya diam digendong oleh Firda. “Tahan sedikit lagi, ya. Nanti di tempat yang lebih sepi, Aron boleh jalan sendiri,” jawab Firda yang masih berusaha untuk sabar.
Selama beberapa saat Aron hanya terdiam. Membuat Firda berpikir bahwa anak itu sudah memahami ucapannya. Namun, tidak lama kemudian, Aron kembali merengek hingga Firda harus sedikit mengayunkan tubuhnya untuk menenangkan sang bocah.
“Ada apa lagi?” Dengan panik Firda melihat ke belakang punggungnya sebelum kembali melihat ke depan. Ia harus meladeni Aron sambil mengawasi Adira. Firda sungguh merasa telah menjadi Ibu Rumah Tangga saat ini.
__ADS_1
“Mau pipis.”
Napas Firda tercekat. Apa yang harus ia lakukan? Ia belum pernah membantu seorang anak untuk buang air kecil sebelumnya. Apalagi mereka kini tidak sedang berada di situasi di mana mereka bisa langsung pergi ke toilet terdekat. Firda sendiri tidak tahu di mana lokasi kamar kecil saat ini.
Ditambah lagi, Firda sedikit curiga bahwa Aron hanya mengatakan itu agar ia memperbolehkan sang bocah untuk turun dari punggungnya. Karena belum lima menit berlalu sejak Aron mengeluh pegal.
Terlalu lama menuggu, Aron kini mulai meronta, memaksa Firda untuk segera melepaskannya. Anak itu bahkan berusaha membuka kain yang menyelubungi tubuhnya serta melepas ikatan penutup mata yang terpasang melingkari kepalanya. Tentu saja tangan kecilnya tidak bisa melakukan semua itu dengan cepat. Firda dengan cekatan menurunkan Aron dan menggendong anak itu di bagian depan dengan memeluknya. Dengan posisi ini, sang gadis lebih bisa mengawasi Aron dengan baik.
Terdengar suara langkah pelan mendekat yang membuat Firda sempat panik. Kedua matanya membelalak dan baru kembali relaks setelah memastikan bahwa suara langkah itu adalah milik Adira yang kini kembali berdiri di dekatnya.
“Apa? Apa kamu kira aku zombie? Para zombie tidak berjalan dengan benar sepertiku.” Adira terkekeh meremehkan. Namun, seketika keningnya berkerut setelah menyadari Firda yang kesulitan menggendong Aron di depan tubuh. “Ada apa dengan Aron?”
“Aku mau pipis!” Aron mulai berteriak tidak sabar. Firda sampai harus meraba wajah Aron dari luar kain dan membekap bagian mulut Aron.
“Kalau kamu terus begitu, bisa-bisa dia mati kehabisan napas.” Adira mendecakkan lidah sambil menggelengkan kepala. Ia mengulurkan tangannya, seolah bersedia untuk mengambil giliran menggendong Aron.
Firda yang sudah terlalu lelah lantas menyerahkan bocah itu kepada Adira. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa Adira justru membiarkan Aron berdiri dan melepaskan seluruh kain yang menutupi sang bocah.
“Apa?” Adira tersenyum jahil. “Dia laki-laki. Dia harus belajar berdiri di atas kakinya sendiri.”
***
__ADS_1