MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)

MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)
Part 11. MR. AROGANT YANG BUCIN


__ADS_3

"Ternyata ngebucin itu indah," ucap Sean sambil senyam-senyum sendiri.


Entah apa yang merasuki Sean kala itu karena rasanya sangat aneh ketika seorang CEO arogant bisa berubah dalam sekali waktu. Tidak kurang dari enam bulan ia menjadi sangat lembut ketika bertemu dengan seorang wanita. Bisa dibilang ini adalah sebuah keajaiban.


Sesekali Jo tersenyum mendapati Bosnya sering memberikan bonus tambahan itu untuknya. Apalagi ia bisa membantu dirinya di masa-masa sulit, maklum Paijo adalah master of cinta.


"Sebuah anugerah ketika bisa melihat senyuman dari Pak Bos. Rasanya aku bisa meminta cuti setelah membantunya. Oh Tuhan, aku sungguh bahagia!" ucapnya terharu.


Jo sampai beberapa kali menggelengkan kepalanya. Terlebih permintaan Sean kadang di luar akal sehat. Terkadang pula, Sean mengusir Jo secara tiba-tiba karena hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Laluna.


"Bos, Bos, dulu aja suka ngeledek gue, eh sekarang dia justru yang lebih bucin daripada gue, astaga gue terhura ... eh terharu!"


Sejak tinggal serumah, Laluna sering spot jantung ketika Sean selalu muncul tiba-tiba di sisi Laluna. Sama seperti saat ini ketika ia sedang ingin membuat kopi karena kedinginan, secara tidak sengaja Sean muncul dan memeluknya dari belakang.


Tentu saja hal itu membuat Laluna panik dan tidak sengaja air panasnya tumpah mengenai kaki Laluna.


"Arghh!" pekik Laluna.


"Maaf," cicit Sean sambil melihat kaki Laluna memerah karena terkena tumpahan air panas.


Seketika Sean langsung memapah Laluna dan mengarahkan kakinya ke wastafel. Awalnya Laluna panik dan menarik kakinya.


"Hei, apa yang mau kamu lalukan!" teriak Laluna panik.


"Diam dan nggak usah banyak komen!" bentak Sean.


Namun, Sean menahan dan membuka kran dengan cepat hingga kaki Laluna yang baru saja terkena air panas tersiram oleh air dari kran yang mengalir.


"Adem, 'kan?"


"Adem!"


Dalam sekejap Sean yang biasanya manis menjadi terlihat lebih tegas. Tentu saja Laluna langsung kicep dan berubah menjadi kelinci manis dalam sekejap.


Sesekali Sean meniup kakinya. Cukup lama Sean melakukan itu hingga dirasa lebih membaik, ia mengangkat tubuh Laluna dan menggendongnya ke atas sofa.


"Eh," Laluna hendak berteriak tetapi tertahan.


Setelah memastikan Laluna nyaman, Sean mengambil kompres dan mengobati kaki Laluna yang sakit. Perlakuan lembut dari Sean membuat Laluna tersentuh dan memperhatikan semua tingkah laku Sean tanpa berbicara satu kata pun.


"Bukankah biasanya dia akan mengomel panjang kali lebar, tetapi kenapa justru diam?" batin Sean.


Sesekali Sean mencuri pandang, begitu pula dengan Laluna. Sekalinya tatapan mereka bertemu, detak jantung keduanya berdetak ribuan kali lebih cepat. Belum lagi pasokan oksigen yang tiba-tiba terhambat, hingga membuat mereka ngos-ngosan.


Beberapa kali membuang buka atau mengalihkan pandangan, hasilnya sama saja, tetap cenat cenut di hati. Ingin hati mulutnya berbicara tetapi hasilnya sama saja.

__ADS_1


"Kenapa jantung gue nggak bisa diajak kompromi sih!" rutuk Laluna di dalam hati.


Bahkan ketika ia mendengar Sean menelpon Jo hanya demi menyuruhnya datang dan membeli salep luka di tengah malam, mulut Laluna tetap terkunci rapat.


"Segera datang kemari dan jangan lupa membeli salep untuk luka yang terkena air panas. Usahakan beli juga obat penghilang luka sekalian, agar lukanya tidak berbekas dan datang secepatnya!"


"Jika sampai terlambat satu menit saja maka kamu akan aku kirim ke Afrika, paham!"


"Paham, Pak Bos!"


"So sweet banget!" ucap Jo keceplosan.


"Paijooooo!"


"Saya Pak Bos."


"Jangan banyak komen dan cepat pergi!"


"Ok."


Jo merutuki mulutnya yang selalu tidak punya rem, sehingga terkadang menyulut emosi di hati Sean. Memastikan jika semua informasi sudah sangat jelas, Jo bergegas pergi ke apotek dan membeli semua sesuai instruksi dari Sean.


"Oke, semuanya lengkap. Let's go!"


Merasa tidak kurang satu apapun seketika Jo langsung menuju rumah persembunyian Sean dan Laluna.


"Gimana, masih ada yang sakit?"


Laluna menggeleng.


"Makanya hati-hati, kalau mau apa aja tinggal panggil aku, bisa 'kan?"


"Dih, dasar oon, bukannya tadi terjadi akibat dia yang peluk-peluk gue, apa otaknya konslet lagi, sih!"


"Ditanya kok diam? Sariawan atau kurang vitamin C?"


"Kurang vitamin C, puas?"


Mulut Laluna yang bergerak-gerak membuat Sean gemas lalu mendekati Laluna.


Cup.


"Nih, vitamin C gratis!"


Berhasil membuat Laluna salting, Sean justru berlari meninggalkannya.

__ADS_1


"Jangan ngambek lagi ya, Sayang. Tunggu sebentar aku mau mengambilkan obat untuk luka kamu."


Seketika Laluna meraba bibirnya yang habis dikasih vitamin C. Sebelum pergi Sean menoleh dan bahkan mengedipkan salah satu matanya hingga membuat Laluna merona dan salting.


"Dih, sapa juga yang mau menunggu kamu, pede!"


"Mana cium-cium pula, asem!"


Laluna membuang muka, sementara itu Sean tersenyum senang. Laluna yang malu segera menutupi wajahnya dengan bantal.


"Oh, Tuhan. Apa-apaan ini, kenapa jantungku selalu tidak sehat ketika berada di dekatnya? Panjangkan umurku, Ya Rabb."


Di luar kamar Sean sudah jenuh dengan persembunyiannya. Ia berniat untuk mengajak Laluna keluar. Lagipula persediaan makanan hampir habis sehingga mau tidak mau harus membelinya.


"Bukankah jam segini biasanya dia kelaparan hingga tidak bisa tidur?"


Kekhawatirannya membuat Sean menerobos masuk ke dalam kamar Laluna. Untuk memastikan luka Laluna tidak bertambah parah, Sean meletakkan tangannya di kening Laluna.


"Syukurlah ia tidak demam, biasanya kalau lukanya dalam bisa demam, berarti lukanya tidak terlalu parah."


Sayangnya beberapa saat kemudian, salah satu tangan Laluna bergerak dan menarik tubuh Sean yang ia kira itu adalah guling.


BRUK


Sean tentu limbung karena posisinya tidak stabil. Akan tetapi, kecelakaan manis itu membuat Sean tersenyum simpul. Ia bahkan mengira jika Laluna menginginkan dirinya.


"Jangan salahkan aku yang bertindak macam-macam sama kamu, Lun-Lun, karena kamu sendiri yang memulainya," gumam Sean yang merapatkan tubuhnya ke arah Laluna.


Tangan Sean terulur untuk memeluk tubuh Laluna dan malam itu keduanya tidur bersama.


Keesokan harinya.


Merasa ada yang aneh dengan tidurnya, Laluna mengerjapkan matanya.


"Sean, ngapain kamu di dalam kamarku?"


Seketika pikiran Laluna traveling dan melihat ke bawah selimut.


"Untunglah pakaian kami masih lengkap!"


"Tapi ngapain dia tidur di sini? Perasaan semalam gue tidur peluk guling, woah, jangan-jangan yang semalaman gue peluk adalah Sean dan bukan guling, huaaaa ...."


Mendengar keributan di kamarnya Sean membuka mata dan terlihat Laluna yang baru bangun tidur.


"Lun-lun, ngapain kamu di kamar gue?"

__ADS_1


"Sue, harusnya gue yang tanya kenapa kamu tidur di kamar gue, dudul!"


"Pergi lu jauh-jauh, gue benci!" pekik Laluna kesal sambil memukulkan bantal ke kepala Sean.


__ADS_2