MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)

MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)
Part 82. KEPLESET


__ADS_3

Beberapa menit kemudian Sean baru sampai di rumahnya. Ia bergegas turun dari mobil untuk masuk ke rumah. Belum sempat ia membuka pintu rumah, sudah terdengar teriakan istrinya.


"Akkhhh... tolong ..." jerit Laluna.


Dengan tergopoh-gopoh Sean segera masuk ke dalam rumah. Ia berlari mencari sumber suara tersebut dengan segera.


"Astaga, Sayang ... kamu kenapa?"


Mendengar teriakan dari Sean, bergegas ART mereka berlari ke atas. Mbak Sari yang sedang memasak segera mematikan kompor dan berlari mengikuti tuannya ke kamar atas.


Sampailah ia di tempat Laluna berada. Ternyata ia terpeleset di kamar mandi. Terlihat dirinya masih memegangi perut sembari meringis menahan sakit.


Dilemparnya tas kerja milik Sean ke sembarang arah, lalu ia berlari menuju istrinya. Direngkuhnya tubuh sang istri dan digendongnya ia menuju tempat tidur.


Mulut Sean sudah gatal karena ingin segera bertanya banyak hal kepadanya. Hanya saja agar Laluna tidak semakin panik, maka ia hanya menanyakan keadaannya saat ini.


"Apa yang sakit sayang? sebentar biar aku panggilkan dokter!"


Laluna mengangguk setuju, lalu salah satu tangannya meraih telepon. Tentu saja andalannya saat ini adalah dokter Clara, pacar dokter Michael sahabat Sean. Sedangkan Mbak Sari mengambilkan air putih agar bisa diminum segera oleh Laluna.


"Ini Nyonya silakan diminum dulu," ucapnya sambil menyerahkan air putih itu.


"Terimakasih, Mbak."


Dengan perlahan Laluna meneguk air putih yang baru saja dibawakan asisten rumah tangganya itu. Setelahnya ia pun permisi untuk kembali memasak.


Di sudut ruangan Sean sedang menelpon dokter Michael untuk menghubungi dokter Clara.


"Hallo ..." ucapnya.


"Hallo Michael! ini aku Sean! Bisa nggak tolong panggilkan kekasihmu untuk segera datang ke rumahku sekarang?" ucap Sean sangat hati-hati.


"Bisa sih, memangnya kenapa?"


"Laluna baru saja terpeleset di kamar mandi, aku nggak tau harus bagaimana lagi?"


"Ya, sudah. Biar aku telepon dia, dan mengantarnya ke rumah kamu."


"Baiklah, aku tunggu dalam waktu kurang dari satu jam kamu harus kesini."


"Oke, aku usahakan!"


Saat ia hendak mengucap beberapa kata lagi, ternyata Sean sudah menutup sambungan teleponnya. Tentu saja hal itu membuat dokter Michael kesal.


"Semoga saja, my queen bisa menjadi menerima orderan mendadak dari Mr. Arogant itu. Huft, meski menyebalkan tetapi sumber keuanganku berasal darinya."


Beberapa saat kemudian ia memang menghubungi kekasihnya, beruntung jadwalnya sedang kosong, maka dari itu ia segera mengiyakan panggilan dari kekasihnya.

__ADS_1


"Jemput aku di depan Rumah Sakit ya, Sayang."


"Baiklah, dengan senang hati."


Setelah berhasil menjemput dokter Clara, maka dokter Michael segera melajukan mobilnya ke rumah Sean Alinskie.


Dua puluh menit kemudian, mobil mercedes benz c-class hitamnya sudah terparkir rapi di halaman rumah Sean. Beruntung jalanan tidak macet, sehingga kurang dari satu jam mereka sudah sampai di sana. Dokter Michael bergegas membuka pintu sebelah untuk kekasih hati.


"Silakan Nona Manis."


"Terima kasih banyak, Sayang."


Ternyata kedatangan mereka sudah disambut oleh Mbak Sari. Seorang asisten rumah tangga utusan Tuan John untuk menantu kesayangan.


"Silakan masuk, dokter. Anda sudah ditunggu oleh Tuan Sean di lantai atas."


"Terima kasih banyak, Mbak."


Dengan segera kedua dokter cantik dan tampan itu melangkahkan kakinya menuju kamar Sean sambil membawa peralatan medisnya.


Meskipun Sean terkesan menyebalkan, tetapi ia juga begitu khawatir terhadap istri sahabatnya itu. Bagaimana pun ia turut bangga ketika seorang Mr. Arogant bisa menjadi sosok laki-laki lembut ketika bersama dengan Laluna.


"Permisi ...." ucap kedua dokter itu kompak.


Sontak saja Laluna dan Sean segera menengok ke arah pintu. Sean langsung melihat ke arah arlojinya.


Dokter Clara segera menghampiri tempat tidur Laluna. Mencoba memeriksa kandungannya.


"Hmm, kalian keluar dulu, biarkan aku memeriksa istri dan janin di dalamnya!" ucap dokter Clara pada Sean dan dokter Michael.


Agar tidak mengganggu pekerjaan kekasihnya, dokter Michael mengajak Sean keluar kamar. Dengan telaten dokter Clara memeriksa Laluna.


Saat teringat ketika Laluna memegangi perutnya sembari meringis, Sean yang melihatnya sedikit ngilu karenanya. Ia seolah menjadi saksi bisu bagaimana Laluna berjuang dalam kehamilannya.


Lima menit kemudian, dokter Clara telah selesai memeriksa Laluna. Peralatan medis yang ia gunakan sudah ia kemasi kembali dalam tas kerjanya.


"Bagaimana Nyonya Laluna, apakah sudah merasa baikan?"


Laluna mengangguk setuju akan hal itu. Rupanya dengan bantuan dokter Clara, kekhawatirannya sudah mulai menurun dan keadaannya sudah berangsur-angsur membaik.


Dokter Michael dan dokter Clara tampak menghela napas. Sementara itu Sean dan Laluna yang melihatnya penasaran akan hasil pemeriksaannya tadi.


"Bagiamana keadaan istri dan calon anakku, dokter?"


"Puji Tuhan, kamu beruntung Laluna, dia bayi yang kuat. Untung saja saat kamu jatuh kamu bisa menahan berat tubuhmu sehingga ia aman."


"Alhamdulillah, lalu kenapa ekspresimu seperti itu?" tanya Sean keheranan.

__ADS_1


"Tapi aku hawatir pada Laluna. Otot-otot di perutnya pasti masih tegang, tapi tenang akan aku berikan obat untuknya."


"Terima kasih, dokter."


Lalu dokter Clara segera menuliskan resep obat untuk Laluna.


"Oh ya, sebaiknya segera buat janji para dokter Clara untuk pemeriksaan selanjutnya, agar ia bisa memeriksa istrimu secara berkala," ucap dokter Michael sambil menyerahkan kertas resep obatnya.


"Terima kasih, sahabat."


"Sama-sama," ucap dokter Michael pada Sean.


"Biarkan istrimu istirahat, dan jangan lupa nanti besok segera bawa ke dokter Clara."


"Oke."


Dokter Michael menoleh, "Aku pamit dulu Lun, semoga segera pulih."


"Cepat sembuh ya, Nyonya Laluna," pamit dokter Clara padanya.


"Terima kasih dokter," ucap Laluna sambil tersenyum ke arahnya.


Sean meminta ijin pada istrinya untuk mengantarkan sahabatnya itu sampai lantai dasar. Laluna mengangguk sebagai tanda ia memberikan ijin pada suaminya.


Di sepanjang perjalanan mereka sesekali mengobrol.


"Maaf Tuan Sean, aku berbohong sesuatu hal padamu," ucap dokter Clara setelah sampai di pintu utama.


Sean pun menoleh, "Memangnya kenapa, dok?"


"Nyonya Laluna sepertinya mengalami indikasi hipertensi. Takutnya jika dibiarkan begitu saja akan semakin parah, dan aku sebagai dokternya tidak bisa menjamin anakmu akan lahir sesuai HPL awal."


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Sean terlihat hawatir.


"Semoga obat yang aku resepkan tadi mampu menurunkan kadar hipertensi yang terjadi. Akan tetapi jika tidak berkurang, maka hanya ada satu kemungkinan yaitu ..."


"Please, tolong katakan padaku ..." ucapnya menatap sendu ke arah kedua dokter di hadapannya saat ini.


"Kemungkinan terburuk istrimu harus segera melahirkan, hal itu untuk mengurangi resiko yang terjadi di kemudian hari nanti."


Dari perkataan dan raut wajah dokter Clara, Sean bisa memutuskan jika hal ini sangat urgent.


"Aku harus segera mengambil keputusan!"


Salah sedikit ia melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan. Hal itu bisa mempengaruhi kesehatan Laluna maupun bayinya.


Sean pun tidak mau ambil pusing dan ia pun menuruti perkataan dokter Clara dan berjanji akan memantau kesehatan Laluna lebih teliti lagi.

__ADS_1


__ADS_2