
Ternyata untuk masuk ke dalam keluarga Sean sangatlah tidak mudah. Terlebih anggota keluarga Sean tidak menyukai kehadiran Laluna yang memiliki status sosial yang lebih rendah dari mereka.
Mereka menganggap Laluna hanyalah wanita yang mengincar harta. Sehingga tidak cocok bersanding dengan Sean.
"Kenapa aku merasa aneh dengan pandangan orang-orang, ya? Sepertinya mereka tidak menyukaiku."
Mengerti jika Laluna tidak nyaman, Sean mengajak Laluna untuk pergi ke balkon.
"Ikut aku ke balkon, sekarang!"
"Untuk apa?" tanya Laluna kebingungan.
Sean mengedipkan sebelah matanya, lalu segera menarik lengan Laluna. Otomatis Laluna mengikuti kemana Sean melangkah.
Ternyata udara di balkon lebih segar. Apalagi tadi di ruang makan, seolah pasokan oksigen lebih cepat habis karena tatapan tidak bersahabat dari Chryst dan juga Leo. Seolah bisa membaca isi pikiran dari Laluna, Sean selalu ada di saat-saat terpenting Laluna.
"Maaf untuk sikap dari kedua kakakku tadi," ucap Sean sambil memandang hamparan taman di hadapannya.
Laluna menghela nafasnya kasar, ternyata Sean benar-benar menghiburnya saat ini.
"Iya, sangat wajar kok, jika kalian bersikap demikian, apalagi aku hanyalah orang biasa."
"Tapi aku nggak mau kamu kecewa karena ucapan mereka, sekali lagi aku minta maaf kepadamu atas nama kedua kakakku."
Sean menghadap ke arah Laluna, menatap intens pemilik mata indah yang selalu mengusik hari-hari. Laluna tersipu akan tatapan dari Sean itu. Entah kenapa tatapan Sean selalu menyihir hati dan pikiran Laluna.
"Sebagai permintaan maaf dariku, malam ini kamu menginaplah di sini!"
Seketika Laluna menyilangkan kedua tangannya. Rasanya ia tidak mau merepotkan Sean lagi, terlebih baru saja ia memperbaiki suasana hatinya. Tidak mau jika dengan menerima permintaan dari Sean akan memperburuk situasi di Kediaman Tuan John.
"No, nggak baik anak gadis nginep di rumah orang yang nggak ada hubungan darah sama sekali."
Sean terkikik akan ucapan Laluna.
"Kata siapa, bukankah cepat atau lambat kamu akan menjadi bagian dari keluargaku.
Seketika Laluna membuang muka karena malu.
"Eh, tapi itu, 'kan belum terjadi?"
"Akan segera terjadi!" ucap Sean sambil memajukan wajahnya pada Laluna.
__ADS_1
Reflek tangan Laluna seketika mendorong tubuh Sean hingga membuatnya sedikit terhuyung.
"Ma-maaf, aku nggak sengaja!"
Laluna merasa salting ketika Sean bersikap manis. Sebenarnya hati Laluna bergetar ketika mendengar ucapan Sean barusan.
Tidak bisa dipungkiri jika Sean sudah mulai mengisi hati Laluna, meskipun belum lama mereka saling mengenal. Hanya saja setelah melihat respon dari keluarga Sean, hatinya kembali meragu.
Meskipun begitu, Sean justru mendekatkan tubuhnya ke arah Laluna hingga membuat Laluna bergeser karena takut kedengaran detak jantungnya yang berdegup sangat kencang.
"Bagaimana jika Sean bisa mendengarnya, pasti akan sangat memalukan jika itu sampai terjadi."
Di dalam hati, Sean berjanji akan selalu melindungi Laluna. Baginya dunia Sean akan menjadi lebih indah ketika Laluna berada di sisinya.
Dari sudut ruangan, rupanya ada Leo dan Chryst melihat interaksi Sean dan Laluna. Chryst menyunggingkan senyuman, lebih ke arah menyeringai sebenarnya. Namun, Leo tidak menyadari hal itu.
"Sudah kamu lihat sendiri, bagaimana Sean begitu melindungi gadisnya?" tanya Chryst pada kakak laki-lakinya itu.
Leo mengangguk.
"Sepertinya menggunakan dia juga tidak masalah."
"Terserah apa maumu, yang jelas gadis itu juga mulai menarik perhatian dari Papa."
"Betul sekali, Kak. Sebaiknya kita berjaga-jaga."
Hal yang dipikirkan Chryst tidak sesimple itu. Ia bahkan mempunyai sebuah rencana lagi untuk adiknya. Setidaknya jika dilakukan lebih cepat, maka keuntungan yang akan didapatkan pasti akan lebih banyak lagi.
"Lihat apa yang akan aku lakukan setelah ini, Kak. Setelah aku membereskan mereka, maka aku akan melenyapkan dirimu, ha ha ha."
Chryst benar-benar licik. Bagaikan manusia bermuka dua, tidak akan ada yang menyangka jika ia bisa mencelakakan anggota keluarganya sendiri.
Lagi pula, ia sudah mengetahui siapa Laluna sebenarnya. Maka dari itu sepulang dari rumah Sean, ia berencana untuk melenyapkan mereka sepasang kekasih itu.
“Akan lebih baik jika kedua orang ini langsung hilang seketika,” itulah hal yang dipikirkan oleh Chryst kakak angkat Sean.
Benar saja sepulang dari acara makan malam, Laluna tidak mau menginap. Alhasil Sean harus mengantarkan kembali Laluna pulang.
"Maafkan aku, lebih baik kita sendiri-sendiri saja setelah ini."
"Apa kamu bilang, sendiri? Nggak mau! Setelah kamu mengetahui siapa sebenarnya aku, justru kamu tega mau ninggalin aku!"
__ADS_1
Laluna menatap Sean dengan raut wajah yang sendu. Hatinya teriris ketika mengatakan hal tadi. Akan tetapi setelah pertemuan dengan Leo tadi di lorong, seolah keinginan untuk bersama Sean musnah seketika.
"Meskipun aku juga mencintaimu, tetapi rasanya sungguh sulit untuk kita dapat bersama."
Belum juga mobil melaju terlalu jauh. Sean merasa ada yang tidak beres dengan mobil yang ia kendarai. Padahal posisi mereka ada di jalan tol.
"Ada apa ini?"
Melihat kepanikan Sean, Laluna juga ikut panik. Ia pun menoleh kepada Sean.
"Kenapa, Sean?"
"Cepat telepon Jo dan kirim lokasi kita kepadanya, sekarang!" teriak Sean sambil melempar ponselnya ke arah Laluna.
Beruntung dengan sigap ia sudah menangkap ponsel Sean dan melakukan apa yang dia inginkan.
"Berdoa saja supaya kita selamat, karena mobil ini akan aku banting stirnya ke kiri."
"Kenapa?" tanya Laluna panik.
"Remnya blong!"
"Astaga!" pekik Laluna.
Dalam sekejap mobil Sean benar-benar mengalami kecelakaan kembali. Beruntung airbag mengembang pada saat genting. Sehingga beberapa benturan yang terjadi tidak terlalu menyakiti Sean dan Laluna.
Mengetahui ada chat dari Pak Bos, Jo langsung mengecek GPS yang terpasang pada jam tangan Sean.
"Kenapa GPS Pak Bos tidak bergerak, jangan-jangan--"
Seketika firasat buruk menghantui Jo. Dengan cepat ia meraih kunci mobilnya dan menyusul ke lokasi. Apa yang ditakutkan Jo benar-benar terjadi, ia menemukan Laluna dan Sean pingsan di dalam mobil.
Percikan api sudah terlihat di bagian depan mobil. Meskipun kesusahan, Jo menarik paksa keduanya. Hanya berselang beberapa detik kemudian, mobil mereka kembali meledak.
"Jadi begitu cara kerjamu! Baiklah aku akan segera mendapatkan dalang di balik semua kecelakaan ini!" ucap Jo bersungut-sungut.
Dalam sekejap ia segera meninggalkan lokasi kejadian. Suasana malam yang begitu pekat terganti oleh kepulan asap tebal yang membubung tinggi di angkasa. Belum lagi apinya belum juga padam.
Untuk yang kedua kalinya Sean menghilang dari peredaran. Jo membawa Sean dan Laluna ke suatu tempat. Tidak lupa ia memanggil pihak medis untuk mengobati luka Sean dan Laluna.
"Aku pastikan kali ini kalian tidak akan selamat!" gumam Jo sambil melihat Sean diobati.
__ADS_1