
Akhirnya Sean menuruti perkataan dari dokter Richard dan mengunjungi dokter Obgyn untuk memeriksa kehamilan Laluna.
"Kamu serius mau ngajak aku untuk mengunjungi dokter Obgyn hari ini?"
"Kenapa tidak, bukankah dokter Richard sudah menyarankan hal seperti itu lebih cepat akan lebih baik."
"Emang sudah bikin janji sama dokter Obgyn?"
"Sudah, tadi direservasi sama dokter Richard."
"Oke."
Seketika mulut Laluna mengerucut. Ia paling tidak suka jika disuruh pergi ke Rumah Sakit. Terlebih lagi ketika ia mencium bau aneh maka perutnya akan bergejolak lagi.
"Kenapa? Apakah ada yang terasa tidak nyaman lagi?"
"Enggak ada sih, cuma aku paling tidak suka jika mencium bau-bau tertentu."
"Apakah yang kamu maksud adalah entah itu bau enak atau busuk tetap saja bikin mual?" tanya Sean keheranan.
"Iya, aku juga nggak tau kenapa hal seperti ini bisa terjadi."
Sean mengusap bahu istrinya, "Sabar, semua akan kita lewati bersama. Jadi sudah bisa dipastikan jika semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu."
"Baiklah kalau begitu ayo kita bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit."
Laluna mengangguk. Setelah berhasil membujuk Laluna, maka saat ini keduanya sedang bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit. Dengan bantuan dari dokter Richard, mereka telah membuat janji temu.
Sebenarnya kecurigaan Sean cukup beralasan. Namun, ia tidak bisa mengajak Laluna serta merta karena tidak ada bukti. Atas saran Jo yang budiman ia pun berinisiatif dengan memanggil dokter Richard.
Berharap jika istrinya mau diajak untuk konsultasi atau mengecek kesehatannya selama ini. Sebelumnya jika Laluna mengalami mual-mual, ia mengatakan jika asam lambungnya kambuh.
__ADS_1
Akan tetapi firasat Sean mengatakan hal lain. Beruntung dokter Richard membantunya. Hingga akhirnya ia mengajak Laluna untuk pergi ke Rumah Sakit saat ini.
Di ruang prakteknya, dokter Richard mengumpat asal karena selalu direpotkan oleh sepasang suami istri itu. Sean bahkan mengancamnya. jika hal itu terjadi maka dokter Richard akan kehilangan pendapatan tertingginya di Rumah Sakit.
"Orang kaya memang selalu benar, untung saja sahabat, kalau enggak sudah aku geprek sejak pertama kenal!" umpat dokter Richard kesal.
Sementara itu saat ini, salah seorang wanita cantik sedang berjalan ke arah ruang praktek dokter Richard. Ia adalah dokter Laura, seorang dokter teman satu perguruan dengan Sean dan Richard selama beberapa tahun.
Kini dengan kualitas kerjanya yang bagus ia juga masuk ke dalam Rumah Sakit milik Keluarga Tuan John. Ia adalah salah seorang dokter Obgyn terbaik di kota tersebut. Maka dari itu kini ia sedang memastikan kedatangan temannya itu.
Handle pintu telah disentuh oleh dokte Laura, kini ia bahkan telah masuk ke dalam ruangan dokter Richard.
"Selamat sore, dokter?"
"So-sore, dokter Laura. Apa ada yang bisa saya bantu?"
Dokter Laura tersenyum. "Tentu saja ada, yaitu aku ingin memastikan apakah saat ini Sean beserta istrinya sudah datang?"
"Oh, ya?"
"Hu-um. Memangnya kenapa kau sampai rela datang kemari hanya untuk memastikan kedatangannya?"
"Tentu, karena ia pasti akan terkejut ketika menyadari jika yang akan memeriksa kondisi istrinya adalah aku!"
"Mungkin saja iya, mungkin saja tidak."
"Akan tetapi entahlah, yang pasti dia baru saja memastikan kedatangan hari ini. Saat ini ia sedang dalam perjalanan ke ruang praktekmu."
"Baiklah, kalau begitu aku akan bersiap-siap saat ini."
"Good luck."
__ADS_1
"Thank's dear."
Benar saja sesuai dugaan kini Sean berserta Laluna sedang berjalan ke arah ruang praktek dokter Laura. Sementara itu dokter Laura sudah menunggu kedatangan mereka.
"Jauh banget, Sayang. Kenapa aku merasa lelah."
"Sabar, bentar lagi sampai."
Tidak berlangsung lama, mereka akhirnya diperbolehkan masuk karena telah melakukan reservasi lebih awal.
"Silakan Tuan dan Nyonya, dokter Laura sudah menunggu."
"Baik, terima kasih, suster."
"Sama-sama."
Sean berjalan di depan lalu sesaat kemudian ia membuka pintu. Tampaklah seorang dokter yang sangat cantik di sana. Tersenyum menatap kedatangan pasien yang istimewa baginya.
"Silakan duduk, Tuan dan Nyonya Alinskie."
"Terima kasih dokter."
Sean awalnya belum curiga sampai saat dokter mulai membuka masker dan memperkenalkan dirinya hingga membuat Sean melongo karena keheranan.
"Ka-kau ...."
......................
Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini ya, makasih
__ADS_1