
Merasa jika Laluna sangat membenci dirinya, Ale berniat untuk mengubah sikap agar bisa diterima oleh Laluna. Setidaknya membuang kebencian itu dan mulai menerima keberadaannya.
"Ternyata kamu masih membenci diriku, Luna. Ok, no problem. Aku akan membuktikan jika diriku layak untukmu!"
Entah mengapa perhatian Ale terhadap Laluna sama sekali tidak pernah berubah. Dari kecil ia selalu mencoba mendapatkan perhatian dari Laluna. Meskipun ujung-ujungnya Laluna kesal dan membenci dirinya.
"Kamu benar-benar tidak mempunyai muka, bisa-bisanya terus mengejarku meski sudah aku tolak berkali-kali!" umpatnya kesal.
Bayangan kemarahan Laluna kecil begitu menggemaskan di dalam bola mata Ale. Tidak seperti Angel yang selalu menyebalkan, Laluna kecil sangat manis di matanya.
"Aku kangen banget sama kamu, Luna. Tidak bisakah kau kembali untukku?"
"Hatchi!"
"Siapa yang ngomongin gue?"
Laluna menggosok hidungnya berkali-kali hingga membuat Sean menatapnya dengan tatapan aneh.
"Kamu kenapa? Sakit?"
Laluna menggeleng, "Sepertinya tidak? Akan tetapi aku tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi? Mungkin ada yang kangen sama aku!"
Sontak Sean berdiri dari kursinya lalu mendekati Laluna.
"Katakan siapa yang berani kangen sama wanitaku ini?"
"Heleh, biasa aja kali, kan cuma seandainya saja, belum tentu iya!"
"Nggak bisa, nggak bakal ada kata seandainya! Paham!"
"Kamu kenapa sih, lagi PMS kah? Kok sensi banget?"
Sean yang sangat posesif merasa jika dirinya tidak bersikap berlebihan. Justru ia bersikap wajar sebagai seorang pacar.
Laluna yang heran dengan sikap Sean yang sensitif akhir-akhir ini membuatnya gemas sekaligus cemas.
"Aku suka sih sikap kamu yang seperti ini, hanya saja terkadang aku risih dan sikap kamu yang aneh selalu saja menyudutkan aku!"
Sean menatap Laluna dengan wajah tanpa dosa, sehingga hal itu membuat Laluna kesal.
"Semoga saja nanti sikap kamu bisa lebih dewasa dari ini, ya?"
__ADS_1
"Kenapa menatapku? Minta dicium?"
"Heh, kata siapa? Sapi kali yang minta dicium sama kamu!"
Laluna mencebik kesal karena Sean semakin arogant menurutnya. Sementara itu di apartemen milik Ale.
Ale mengakui jika semasa kecil ia memang sangat jahil, bahkan tanpa disadari justru membuat kenangan buruk di dalam memory Laluna. Namun, sekarang Ale merindukan masa-masa itu dan masih mengingat setiap moment yang dihabiskan bersama Laluna kecil.
Lamunan Ale harus terusik ketika ponselnya berdering. Terlihat jika ada nomor tidak dikenal di layar ponselnya.
"Siapa, sih! Ganggu banget!" ucapnya dengan nada kesal.
Ale yang kesal lebih memilih untuk menghabiskan waktunya dengan menatap layar datar di hadapannya saat ini dan membiarkan ponselnya berdering.
Ale lebih suka mencari informasi tentang siapa sosok laki-laki yang membawa Laluna pergi tadi pagi daripada harus meladeni nomor yang tidak ia kenal.
Satu persatu akun pebisnis muda ia buka, tetapi Ale belum menemukan informasi yang cocok apalagi dengan semua ciri-ciri yang ia tulis.
"Kenapa sulit sekali melacak keberadaan lelaki itu?"
"Apakah dia seorang yang sangat penting hingga informasinya sangat sulit didapatkan?"
"Jika lelaki itu tidak bisa aku ketahui latar belakangnya, tidak ada cara lain lagi untuk bisa mendekatimu. Sebaiknya aku memilih jalan ini!" ucapnya penuh semangat.
Tidak mau membuang waktu lebih lama lagi, Ale bergegas mengambil ponselnya dan memilih untuk pergi keluar. Suasana hati yang tidak menentu membuatnya tidak bisa berpikir jernih dan lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di sebuah klub.
Sementara itu Sean masih marah dengan Laluna yang baru saja berdekatan dengan lelaki lain tanpa sepengetahuan dirinya. Laluna yang menyadari kesalahannya hanya bisa menunduk sambil mengigit bibir bawahnya.
"Kenapa Sean semarah itu? Bukankah kami tidak saling mengenal satu sama lain?" gumamnya.
Tidak mau membuat suasana menjadi lebih keruh lagi, Laluna lebih memilih untuk mendiamkan Sean. Namun, hal itu ditanggapi lain oleh Sean.
"Apakah dia tidak bisa mempunyai etika baik, untuk meminta maaf, misalnya?"
Namun hal yang terjadi justru sebaliknya. Kesalahpahaman sepertinya akan berlanjut mejadi lebih panjang. Tidak adanya percakapan sama sekali di antara keduanya membuat hubungan mereka sedikit renggang.
Sikap posesif dari Sean memang diluar batas. Sehingga terkadang Laluna yang lebih banyak mengalah dalam hal ini.
Akhirnya mereka tiba di apartemen. Sean yang marah membanting pintu mobilnya lalu berjalan mendahului Laluna. Tidak seperti biasa yang selalu membuka pintu mobil untuk Laluna.
"Astaga, ternyata kalau marah menakutkan? Aku kira Sean selalu bersikap lembut," ucap Laluna sambil bergidik ngeri.
__ADS_1
Akan tetapi mau bagaimana lagi, karena Laluna harus menurunkan egonya demi sang pacar, ia pun harus bersikap patuh kali ini. Melihat kemarahan Sean, tentu saja Laluna tidak berani berkata apapun atau bertindak yang sesuka hati.
Laluna lebih memilih untuk berjalan di belakang Sean sambil menundukkan kepala. Ia sama sekali tidak berani menatap Sean dengan amarah seperti itu.
Sesampainya di dalam lift Sean mengukung tubuh Laluna dan menatapnya tajam. Sorot mata Sean sungguh menakutkan dirinya.
"Siapa lelaki tadi?"
"Itu Ale, Sean. Dia keponakan Bibi Hana."
"Kenapa dia mendekatimu, dari sorot matanya aku bisa memastikan jika dia menaruh asa kepadamu!"
"Sean, Sayang. Seberapa banyak laki-laki di luaran sana yang mendekati aku, tidak akan mampu mengurangi kadar cintaku kepadamu."
Laluna yang sadar dengan hal ini segera mengusap kedua pipi Sean dengan tangannya. Sikap posesif Sean membuat Laluna sadar jika cepat atau lambat Sean akan membuat perhitungan dengan Ale. Sebelum itu terjadi ia lebih memilih agar Sean mengerti siapa Ale sebenarnya.
"Jadi kamu sudah mengerti, kan? Siapa yang seharusnya berada di hatimu?" ucap Sean sambil terus berjalan mendekatinya.
Bagaimanapun sikap posesif Sean ada baik dan buruknya. Baiknya adalah ia selalu dilindungi, sedangkan buruknya adalah ketika Sean mulai cemburu.
Akan tetapi di luar semua itu, Sean emang seorang cowok yang sangat bertanggung jawab. Pemikirannya juga lebih dewasa ketimbang lelaki di usianya. Maka dari itu Laluna merasa nyaman ketika berada di dekatnya.
"Kapan kamu mau ke kantor? Besok ada presentasi yang harus melibatkan dirimu."
"Iya juga ya, aku sampai lupa, tapi ...."
"Tapi apa?"
"Kamu sudah tidak marah lagi denganku, bukan?"
Laluna memainkan kancing kemeja Sean hingga membuat Sean gemas. Ditatapnya Laluna dengan penuh rasa cinta lalu ia mulai bertanya sesuatu pada Laluna.
"Memangnya kamu mau bukti tentang aku yang sudah tidak marah padamu?"
Tentu saja Laluna mengangguk setuju, tanpa menunggu lebih lama lagi Sean mengecup kening Laluna.
"Aku sangat mencintai kamu."
"Jangan pernah mencoba lari dariku karena aku pasti akan menangis."
"Iya, Mr. Arogantku tersayang," ucap Laluna sambil memeluk erat tubuh Sean.
__ADS_1