MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)

MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)
Part 15. SALAH PAHAM


__ADS_3

"Maaf," cicit Angel.


Dalam sekejap Sean mendorong tubuh Angel hingga ia jatuh terjengkang. Bantalan pinggul milik Angel menyentuh lantai lebih dahulu, hingga membuatnya meringis. Namun, Sean tidak menolongnya.


"Jadi ini wujud asli kamu!" ucap Sean di dalam hati.


Ia tidak menyangka jika seorang wanita dari keluarga terhormat justru tidak mempunyai attitude.


"Jaga sikapmu, Angel! Kau tahu sikapmu ini sama seperti wanita murahan!"


Angel mencoba bangun dengan sendirinya. Awalnya ia ingin menarik simpati Sean, sayang ia justru mematik api kemarahan di dalam dirinya. Angel lepas kendali.


"Apa katamu! Aku ini calon tunanganmu Sean, kenapa kamu berkata seperti itu?"


"Sejak kapan kamu menjadi calon tunanganku, apa kamu tidak bisa melihat berita terkini. Calon istriku adalah Laluna, paham!"


Angel mengepalkan tangannya. Matanya berkaca-kaca, tetapi kemarahan dan rasa kecewa lebih mendominasi.


"Kamu jahat, Sean!"


Seketika Angel meraih tas miliknya lalu berjalan pergi keluar dari ruangan CEO. Ia benar-benar merasa telah dipermalukan oleh Sean.


"Semua gara-gara kamu Laluna!"


Selepas Angel pergi, Sean teringat janji makan siang dengan Laluna. Dilihatnya arloji di pergelangan tangan.


"Kenapa, Lun-Lun belum datang?"


Selepas Angel berlalu, Jo segera masuk ke dalam ruangan Sean. Ia tidak mengulas senyum sama sekali. Tentu saja Sean terheran-heran dengan sikap asistennya yang selalu slengekan itu.


"Ada apa denganmu, Jo? Lagi datang bulan?"


Jo sama sekali tidak merubah mimik wajahnya. Hingga membuat rahang Sean mengeras. Padahal biasanya ia akan marah jika Sean mengatakan demikian.


"Paijooooo! Jawab pertanyaanku atau aku kirim ke Afrika!"


Tentu saja Jo tersentak karena ucapan kasar dari Sean. Ia pun membenarkan posisinya lalu mengatakan apa yang baru saja dilihat.


"Nona Muda baru saja datang kemari Pak Bos, aku mohon Tuan segera menyusul Nona untuk menjelaskan situasinya!"


Sean mendekati Jo dan menarik kerah lehernya.


"Kapan Nona Muda kemari, kenapa aku bisa melewatkan hal itu?"


"Anda tadi masih bermesraan dengan Nona Angel dan Nona Muda melihatnya."


Sean terlihat menahan amarahnya, "Ku potong gajimu bulan ini!"


"Lah, kok dipotong, Bos?"


"Tanyakan pada rumput bergoyang apa yang jadi kesalahanmu!"


Sean berbalik dan mengambil ponselnya. Tidak lama kemudian ia pergi keluar ruangan untuk mencari Laluna. Melihat Jo masih terdiam di tempatnya, Sean menoleh.


"Masih tidak bergerak? Siapkan kopermu untuk berangkat ke Afrika besok pagi!"

__ADS_1


"Jangan dong, Bos ...." rintih Jo dengan muka memelas.


Seketika otaknya baru saja connect, lalu ia menoleh ke arah Pak Bosnya.


"Saya siap mengerahkan semua anak buah kita untuk mencari Nona Muda, sekarang!"


Seketika Jo melampaui langkah Sean dan segera menyiapkan semua anak buahnya untuk mencari Laluna.


"Baru juga mulai pacaran, udah berani selingkuh! Awas aja kamu Mr. Arogant!" omel Laluna sepanjang jalan.


Beberapa kali terdengar jika Laluna mengumpat kesal karena ternyata ada pengganggu dalam hubungan cintanya bersama Sean. Tentu saja Lalula meradang. Meskipun ia belum pernah pacaran, tetapi ia sering kali mendapat curhatan dari teman kerjanya ketika ia diselingkuhi oleh pasangannya.


Apalagi yang dekat dengan Sean adalah saudaranya sendiri. Merasa tidak bisa menahan amarahnya Laluna pergi menenangkan diri.


"Angel, aku tidak menyangka kamu melangkah sejauh ini."


Demi mengusir kemarahan di dalam hatinya, Laluna pergi ke taman kota. Di sana ternyata ia bertemu dengan Leo, kakak angkat Sean.


"Bukankah itu gadis kecil milik Tuan Muda Sean?" gumam Leo.


"Mendekatinya tidak akan menjadi masalah, 'kan?"


Leo mulai melangkah mendekati Laluna.


"Selamat siang Nona Laluna," sapa Leo mencoba ramah.


Sebelum Laluna menoleh, ia mengusap sudut matanya yang berair.


"Leo?"


"Ha ha ha, mana mungkin saya melupakan kakak orang penting di kota ini."


Leo menoleh ke kanan dan kiri. Seolah ia sedang mencari seseorang di sana. Namun ternyata Leo tidak menemukan siapapun dan hanya menemukan Laluna seorang diri.


"Sendirian?"


Laluna mengangguk.


"Tumben? Kemana Mr. Arogant milikmu itu?"


Laluna terkikik karena sebutan yang dilontarkan oleh Leo barusan.


"Bagaimana Tuan bisa menyebut adik Anda seperti itu?"


"Itu semua karenamu, Nona Laluna."


"Eh, terlepas dari semua ini, bolehkah aku duduk di sini untuk menemanimu?"


"Boleh, silakan, nggak bayar kok. Gratis!"


Leo tersenyum mendapatkan keramahan dari Laluna, sepertinya ia memang gadis yang baik diluar semua praduga yang sering dibisikkan oleh Chryst.


Obrolan mereka terjadi dan terkesan santai. Dari sana terlihat jika keduanya mulai dekat dan bertukar informasi. Meskipun Laluna pernah kenal dengan Leo, sepertinya dia lupa ingatan sehingga ia melupakan status kakak angkat Sean yang pernah melukai Sean.


Sandiwara Angel berkelanjutan. Melihat Sean keluar perusahaan, Angel berpura-pura sakit.

__ADS_1


Ia memegangi kepalanya. Sean yang semula tidak melihat membuat Angel mencari cara lain. Angel pura-pura terjatuh dan terkilir.


"Arghhhh!"


Seketika pandangan Sean menoleh ke arah sumber suara.


"Angel?"


"Nona Angel?" teriak beberapa karyawan.


"Tolong saya ...." ucapnya berpura-pura.


Para karyawan tidak ada yang berani menolong Angel karena tahu bahwa ia bukan tunangan Bos-nya lagi. Merasa iba, Sean mendekati wanita itu.


"Ada apa dengan kakimu?"


"Sakit, Sean ...."


Sean menghela nafasnya, lalu meminta beberapa karyawati memapah Angel ke dalam mobilnya.


"Bawa Nona Angel ke mobilku."


"Baik, Tuan."


Beberapa karyawan mendekati Angel hendak melakukan perintah Tuannya. Sayang, semuanya salah paham.


"Kenapa kalian maju, yang aku suruh karyawati, paham!"


Para karyawan yang maju tadi segera memundurkan langkahnya dan berganti dengan karyawati. Terpaksa Sean mengantar pulang Angel. Hal itu diketahui oleh Chryst, dan ia pun memotret hal itu dan mengirimkannya pada John.


Rupanya jalan yang dilalui Sean melewati taman kota. Secara tidak sengaja Sean melihat Laluna tersenyum pada Leo. Ia pun cemburu, tetapi saat mau mendekatinya, Angel menahannya.


"Sepertinya alam membantuku," gumam Angel.


"Dengan cara ini aku bisa menghasut ayah, dan mengatakan jika Laluna justru bukan calon istri yang baik."


Sean menatap tajam ke arah Angel.


"Lepaskan tanganku!"


Sean menghempaskan tangan Angel. Ia bahkan mengusap bekas tangan Angel yang mengenai bajunya dengan tisu. Angel melihat hal itu dan mencoba menahan amarahnya.


"Maaf, aku hanya tidak ingin kamu kecewa dan langsung melabrak Laluna."


Angel melihat api cemburu di mata Sean. Ia pun semakin menuang minyak dipercikan api hingga membuatnya semakin berkobar.


"Apa maksud dari kata-katamu barusan!"


"A-aku hanya ingin mengatakan hal seperti itu sudah biasa dilakukan oleh Laluna. Tentu saja buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Jika ibunya bisa melakukan hal seperti itu, pasti anaknya akan mewarisi sikap ibunya."


"Maksudmu?" Sean menoleh ke arah Angel.


"Jika ibunya pelakor maka sudah pasti anaknya juga pelakor."


Plak!

__ADS_1


__ADS_2