
Mendengar jika Sean hari ini ada pertemuan dengan Frans, tanpa diketahui olehnya Laluna mengikuti kemana Sean pergi. Laluna merasa khawatir jika membiarkan Sean keluar sendirian, padahal yang menjadi burunon adalah Laluna.
Namun, justru ia yang mendapatkan masalah saat ini.
"Anak sial, ternyata kamu di sini?"
Sontak saja Laluna menoleh, terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Angel," ucap Laluna terkejut.
"Ya ini aku, apakah kau terkejut akan kedatanganku?" ucap Angel sambil bersedekap dada.
Angel tampak sekali ingin membuat kesal Laluna sekaligus mengetes sampai di mana batas rasa cinta Laluna untuk Sean.
Laluna bergegas merubah mimik wajahnya agar Angel tidak terlalu curiga.
"Untuk apa kau ke sini?"
Dari ucapannya Angel bisa mengetahui jika Laluna adalah anak yang tidak mudah ditindas. Maka dari itu ia menguji kelayakannya.
"Mau apa aku ke sini, tentu saja untuk membawamu kembali ke hadapan Ibu!"
"Heh, mimpi kali, ya?"
"Sampai kapan pun, aku nggak pernah mau kembali ke rumah! Camkan itu!"
"Berani kamu membentakku!"
Laluna tidak menjawab, melainkan hanya memandang rendah ke arah Angel. Ia tidak menyangka jika saat ini, Sean justru khawatir karena sudah tahu jika Laluna mengejarnya.
"Luna, kenapa kamu justru membuat dirimu dalam bahaya?"
Tiba-tiba saja dari arah belakang ada seorang anak kecil yang menabrak tubuh Sean.
"Hei! Kau ini, ya?"
Bukannya takut, anak itu justru meninggalkan Sean sendirian. Pada saat yang sama sebuah ide terlintas di sana. Dengan cepat Sean mengejar anak kecil tersebut.
"Hei, jangan lari!"
Grep
Sean dengan mudah bisa menangkap tubuh anak kecil tersebut.
"Bisakah Kakak minta tolong kepadamu?"
Sontak anak laki-laki itu menoleh, "Asalkan ada uang aku mau!"
Seketika Sean mengeluarkan beberapa lembaran uang merah lalu menyerahkan padanya.
"Cukup?"
Anak lelaki itu tersenyum, "Cukup!"
__ADS_1
"Tolong buat kesal wanita berambut pirang itu lalu dorong wanita yang memakai outer polka itu!" tunjuk Sean pada keberadaan Laluna dan Angel.
"Hanya itu saja?"
Sean mengangguk lalu segera menyerahkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah pada anak itu.
Selepas memberikan hormat kepada Sean, ia berlari ke arah Laluna. Sesuai dengan permintaan Sean ia melakukan semuanya dengan sangat baik.
"Cepat pulang atau aku seret!"
"Nggak mau, aku nggak akan pernah pulang!" pekik Laluna kesal.
Setibanya anak kecil itu di tempat Laluna mereka sedang berdebat. Tidak mau ambil pusing, anak kecil itu berlari kencang ke arah Angel dan menabraknya hingga membuat ia hampir oleng.
"Hei, kalau lari lihat jalan, dong!" maki Angel sangat kesal.
Namun, saat Angel hendak menampar pipi anak kecil itu Laluna menghalanginya.
"Stop, jangan kasar sama anak kecil! Itu nggak baik!"
"Minggir, biarkan aku memberikan pelajaran untuk dia!"
Langit yang semula cerah kini berganti dengan mendung yang sangat tebal. Tidak lama kemudian rintik hujan pun turun, sehingga Angel yang mempunyai alergi dengan air hujan segera berlari ke arah mobilnya.
Sebelum pergi, ia sempat mengancam ke arah Laluna. "Kalau kau berani, temui aku di rumah!"
Lalu setelahnya ia masuk mobil.
"Aku harap kamu mengerti dengan maksudku kali ini Lun."
Anak kecil itu sempat tertegun dengan sikap Laluna yang sangat berbeda dengan Angel tadi. Namun, tugasnya sudah selesai ia pun berniat pergi.
"Kakak cantik, terima kasih bantuannya. Ibuku pasti sedang mencariku, aku pergi dulu ya."
"Ta-tapi ini masih hujan, Dek. Kembalilah!"
Anak kecil itu terus berlari meninggalkan Laluna.
"Bahkan anak kecil pun enggan berdekatan denganku, apakah aku sungguh menjadi manusia pembawa sial?" tanya Laluna dalam hatinya.
Tangannya menengadah ke atas sambi menikmati rintik air hujan.
"Bahkan kamu juga menindasku, apakah mau membuatku basah kuyup dengan menurunkan hujan?" tanya Laluna kepada langit.
Laluna pun lupa dengan tujuan utamanya membuntuti Sean. Hingga saat ia masih menikmati air hujan dengan memejamkan kedua matanya, tiba-tiba hujan terhenti, tetapi anehnya rintik hujan masih terdengar jelas di kedua telinganya.
Laluna membuka matanya, "Eh, kok ada payung?"
Laluna jelas-jelas terheran-heran dengan kejadian tersebut.
"Nona cantik, bolehkah aku menculikmu?" tanya Sean sambil tersenyum manis.
"Sean ...." ucap Laluna terharu.
__ADS_1
Tanpa menunggu waktu lama, Laluna segera memeluk tubuh Sean. Lalu ia teringat jika ada orang-orang Nyonya Hana yang masih mengejar dirinya.
"Sean, kenapa kamu ada di sini? Apa tidak masalah jika terlihat di depan umum seperti saat ini? Aku tidak akan membiarkanmu terlihat seperti ini" ucap Laluna dengan sangat khawatir.
"Ucapanmu benar, jangan sampai orang lain bisa menikmati kecantikanmu saat ini, Lun-Lun."
"Maaf telah membuatmu menderita dan maafkan aku yang tidak becus melindungimu."
Cup, Sean langsung mencium Laluna di bawah payung diantara gemericik air hujan. Tentu saja Laluna tersipu dan juga bahagia. Di langit yang masih gelap dan bumi yang basah, keduanya saling menumpahkan kasih sayang.
"Tidak Sean, bertemu denganmu saat ini saja aku sudah sangat bahagia."
"Seberapa keras mereka berusaha untuk memisahkan kita, tidak akan pernah merubah pandanganku terhadapmu."
"Kamu adalah orang yang baik, aku sangat beruntung bertemu dan memilikimu, Sean. Kali ini ijinkanlah aku berjuang bersamamu."
"Lun-Lun, kamu benar-benar gadis bodoh, bagaimana bisa aku tidak mencintaimu."
Sean kembali memeluk Laluna. Sebuah rasa aman dan hangat mengalir ke dalam nadi Laluna. Keduanya menoleh untuk melihat situasi.
"Eh, hujannya berhenti, Sean?"
"Lun-lun cepat lihat ke arah sana!" tunjuk Sean pada sebuah pelangi yang baru saja muncul.
"Itu pelangi ...."
"Apa itu artinya alam sedang memberitahu aku, selama berpegang teguh, akan ada sesuatu yang indah setelah badai melanda?" ujar Laluna di dalam hati.
Sean yang melihat Laluna bengong segera memeluknya dari belakang, menaruh dagunya di bahu Laluna.
"Lun-lun, ada aku di sini, tidak akan aku biarkan kamu menghadapi masalah ini sendirian."
Sementara itu Jo sedang melihat hal itu dari kejauhan. Begitu pula dengan Frans yang melihat adegan mesra mereka.
"Bagaimana bisa Laluna dekat dengan lemari es itu, apakah tidak ada lelaki lain lagi yang lebih pantas darinya?"
Bukan hanya berkomentar pada Laluna, Frans juga mengomentari sikap Sean.
"Sean benar-benar gi-la, bagaimana bisa ia tertarik pada wanita itu?"
"Hei, jangan sekali-kali mengatakan jika atasakanku gi-la!" pekik Jo kesal.
Keduanya saling berdebat satu sama lain.
"Lihatlah, Nona Muda sudah dikelilingi oleh para pengawal Nyonya Hana. Jika mereka semua bisa melihat kita, maka akan menjadi ga-wat ini!"
"Ya sudah, aku bawa pergi Laluna, kamu ambil saja lemari es itu!"
Frans segera berlari mendekati Laluna dan Sean ketika banyak pengawal Nyonya Hana yang menemukan mereka. Ia menarik salah satu lengannya.
"Pinjam cewek kamu dulu, Bro!"
"Eh ...." Sean baru menyadari jika mereka hampir saja dikepung untung saja Frans cepat membaca situasi.
__ADS_1
Sean segera berlari meninggalkan area tersebut. Sayang, Laluna pergi ke arah yang salah, ia hampir saja tertangkap oleh salah satu pengawal, beruntung sebuah tangan menariknya hingga Laluna hampir jatuh.
"Arghhh ...."