
Merasa jika kehidupannya sudah bahagia, maka Laluna mencoba menikmati keindahan rumah miliknya itu. Meskipun sudah ada tukang kebun tetapi Laluna tetap membantu sesekali, hitung-hitung sebagai hiburan dan olah raga.
"Nyonya kenapa masih suka membantu saya, nanti Tuan marah."
"Nggak mungkin, Pak. Lagi pula Sean juga belum kembali."
Laluna tampak melangkahkan kakinya perlahan di atas rumput sintetis di halaman rumahnya. Di bagian tepi terdapat beberapa macam aneka bunga yang menghiasi halaman itu. Sejauh mata memandang hanya ada bunga dan tanaman hias lebih dominan warna hijau.
"Ya, sudah jangan lama-lama, Pak. Takutnya saya pegel juga kalau melakukannya sendiri."
Benar saja, belum sempat ia bergerak lebih lama saat di taman ternyata perut Laluna kram. Selang air yang miliknya terlepas begitu saja. Sean baru saja memasuki pekarangan segera memarkir mobilnya di garasi.
Langkah kakinya yang cepat membuat ia cepat sampai di halaman. Terlihat Laluna memegangi perutnya.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kau terlihat sangat ketakutan saat ini?"
"Kram, tiba-tiba saja perutku kram, Abi."
__ADS_1
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Sean tampak memeluk tubuh Laluna. Mengusap punggungnya agar terasa lebih nyaman saat ini.
"Sayang, jangan nakal, ya? Kasihan Mama nanti."
Rupanya Sean benar-benar ingin bayi di dalam perutnya tumbuh sehat. Tidak terasa air mata Laluna luruh. Hingga menetes pada tangan Sean.
"Sakit banget, ya? Apa kita perlu pergi ke dokter sekarang?"
"Jika kamu tidak keberatan maka aku akan bersedia untuk melakukan hal itu."
Laluna tampak menggeleng hingga setelahnya ia pun menjawab.
"Serius, aku benar-benar nggak ingin kamu terluka kayak gini. Andaikan kamu menurut sudah pasti tidak akan terjadi hal seperti ini."
"Ya, maaf, Sayang. Maklum ini adalah pengalaman pertama aku untuk menjadi seorang ayah."
Jari telunjuk Laluna mengarah ke bibir Sean yang sedari tadi berbicara.
__ADS_1
"Ngomong apa sih, lagi pula aku sudah mengatakan hal yang sepele seperti air. Padahal tanpa air hidup kita tidak akan seperti ini bahkan lebih parah."
"Nggak usah membahas masa lalu, ingatkah jika ada banyak kejutan indah setelah ini, percayalah padaku!" ucap Laluna dengan senyum merekah.
Merasa jika istrinya terlalu imut membuat Sean segera membawa Laluna masuk kembali ke dalam kamar.
"Harusnya aku membawa kamu masuk ke dalam ruangan itu," tunjuk Sean pada salah satu ruang tidur yang akan ditempati calon putranya kelak.
Sesampainya di kamar, Sean juga nampak memijat kaki Laluna yang tampak lelah karena hari-harinya semakin indah dan luas.
Meskipun hanya luapan hari sementara. Saat wajah Sean sampai di dekat wajah Laluna. Ketika hembusan nafas dari keduanya mampu membuat gelombang-gelombang indah mengalun di udara.
Sean menatap wajah Laluna yang tersipu. Getaran itu masih membara seperti semula. Tidak pernah Sean melihat wajah Laluna sedekat ini.
Wajahnya semakin mendekat, nafas keduanya tersamarkan suara hembusan angin sore. Semakin lama semakin dekat. Setelah sekian lama ia segera keluar dari debaran detak jantung miliknya yang berdetak sangat kencang.
"Oh ..."
__ADS_1
Nafas keduanya kembali menyatu, saling mengunci bibir satu sama lain agar tidak banyak bicara, mengeskpresiasikan cinta dengan tautan yang memabukkan.
Hanya sebuah pernikahan yang membuat hal itu halal di lakukan. Laluna maupun Sean sama-sama belajar tentang arti sebuah hubungan pernikahan.