
Sebuah dendam bisa mengikis sebuah hubungan, meskipun terkesan sepele tetapi ia bisa menghapuskan semua hal yang berkaitan dengan sebuah hubungan.
"Apakah yang kau ucapkan itu sebuah kebenaran? Kau tidak menipuku dengan informasi yang kamu berikan kepadaku, bukan?"
"Tentu saja tidak, bahkan aku mempersilakan kalian untuk segera masuk ke dalam agar kita bisa mengobrol lebih lama lagi tentang rencana kita."
Saat ini Chryat itu bukan merasa diperlakukan dengan tidak adil, tetapi kebencian telah mengakar di dalam hati salah seorang dari kedua bos tersebut.
Beberapa saat kemudian akhirnya rapat telah selesai dan berpindah tempat duduk. Hal ini juga bisa berkaitan dengan pohon asem. Agar pokok kelestariannya tetap terjaga. Tango merasa tiga para warga menjaga pohon tersebut hingga Menjadi besar hingga sampai dialkukan yang tidak sama seperti saat ini.
Chryst bersikap semaunya. Ia bahkan tidak mencoba berdamai dengan keadaan. Sesekali ikut perhatian, tetapi sejujurnya jika tidak ada uang, maka ia juga akan juga merasa gila.
"Masih ada beberapa waktu untuk membuat para warga domistik dan sesama menulis.
"Tunggu saja, di pesta pernikahanmu nanti akan aku lakukan hal yang sama memalukannya dengan caramu memperlakukanku!"
Terlihat betapa arogannya cara Chryst berpikir. Ia tidak pernah memaafkan orang lain yang pernah berbuat salah kepadanya, meskipun itu saudaranya sendiri.
Sementara itu Leo dan juga Sean sedang membahas pekerjaan kantor yang dibawanya ke rumah. Banyak sekali permasalahan yang harus ia selesaikan sebelum hari pernikahan. Begitu pula dengan cara kepemimpinan Leo yang masih berada dalam pengawasan Sean.
Beruntung di antara mereka sudah tidak ada dendam sama sekali. Justru hubungan mereka semakin dekat.
"Oh, ya jika nanti kakak ada kesulitan ketika aku sedang honeymoon, kakak bisa menghubungi Jo. Jika keadannya mendesak tentu saja langsung menghubungiku tidak masalah."
__ADS_1
"Untuk hal itu pasti aku sudah pikirkan secara matang. Lagi pula mana tega aku mengganggu kesenanganmu! Aku tidak sebodoh itu!"
"Wkwkwk, baiklah. Meksipun kau ganggu aku akan mematikan semua sambungan telepon agar aku bisa menikmatinya dengan baik."
"Good."
"Apa kau tidak mau melihat Laluna di salon?"
"Maksud, Kakak?"
"Aku punya beberapa hal yang bisa kau gunakan untuk mengamatinya meksipun kau tidak terhubung langsung kepadanya," ucap Leo sambil berbisik.
"Bagaimana caranya?"
Beberapa saat kemudian rupanya, Leo membisikkan sesuatu pada Sean hingga membuatnya mengukir senyum. Saking asyiknya mereka berbicara, ia tidak sadar jika Tuan John menguping pembicaraan mereka.
"Apa yang sedang kalian bicarakan, kenapa aku merasa ada yang disembunyikan dariku?"
Sontak kedua kakak beradik itu saling menatap dan ketakutan. Entah kenapa tiba-tiba perasaan keduanya langsung tidak enak.
"Sepertinya kalian memang menyembunyikan sesuatu dari Papa. Ingat Sean dan Laluna melakukan hal ini demi kebaikan rumah tangga mereka kedepannya."
"Papa dulu sebelum menikah juga melakukan hal yang sama. Sebenarnya tujuan utama melakukan hal ini adalah agar kedua pasangan lebih menghargai pribadi masing-masing agar kedepannya bisa memiliki keluarga yang harmonis."
__ADS_1
"Selain itu, hal ini juga bertujuan untuk menanam rasa rindu bagi kedua calon pengantin. Membangun rasa percaya satu sama lain. Menjauhkan diri dari berbagai macam bahaya."
"Iya, Pa. Maaf kalau saya justru berniat mengacaukan acara itu," ucap Leo sambil menunduk.
Bagaimana pun Leo hanya ingin membantu adiknya agar tidak terlalu menahan rindu. Akan tetapi sebelum rencana mereka terjadi justru sudah ketahuan ayahnya.
"Ya sudah, sebaiknya kalian melanjutkan pekerjaan kalian."
"Iya, Pa."
Kedua saudara itu kemudian melanjutkan pekerjaan mereka tanpa mengobrol kembali. Mereka menghabiskan waktunya dengan maksimal. Takut kalau ayahnya akan mengunjungi mereka kembali.
"Huft, gara-gara, Papa semuanya menjadi kacau!" pekik Leo dengan raut wajah menahan amarah.
Sementara itu Sean justru terlihat santai menanggapi hal itu. Beruntung ia sudah hampir berhasil menyelesaikan satu hari ini tanpa menghubungi Laluna.
Di sisi lain, Laluna tampak menghabiskan waktunya dengan menikmati semua fasilitas dan perawatan di salon tersebut.
"Sekali-kali bersyukur karena bisa menikmati semua fasilitas yang diberikan oleh ayah mertua. Kapan lagi coba? Sementara itu ayah sendiri justru tidak memberikan apapun!"
Setelah bergumam, tidak terasa Laluna justru tertidur karena terlalu menikmati setiap sentuhan dari terapis tersebut.
......................
__ADS_1
Sambil nunggu up, jangan lupa mampir ke sini dulu kakak, ditunggu like n komennya🙏