
"Jadi menurut kamu siapa yang melakukan semua ini, Sean?" tanya Laluna penuh harap.
Tatapan keduanya beradu lalu setelahnya Sean menatap Laluna dengan penuh kasih sayang.
"Aku tidak berani menyimpulkan, tetapi aku berani memastikan jika seseorang yang melukaimu ini ada hubungannya dengan masa lalumu."
Sebenarnya Sean sedang membaca isi pikiran Laluna. Namun, ia tidak ingin membebani pikiran Laluna dengan mengatakan yang sebenarnya.
Begitu pula dengan Laluna yang ingin mengatakan jika ia tahu siapa dalang dibalik semua kejadian ini. Akan tetapi ia ragu karena belum yakin dengan kekuatan ibu tirinya sampai sebatas mana. Laluna yakin jika ada seseorang yang mendukung semua tindakan Nyonya Hana. Hingga beliau berhasil membuat dirinya terpuruk.
"Semoga saja aku tidak salah dengan menyembunyikan hal ini dari Sean. Aku tidak mungkin membuat kedua keluarga besar itu saling bertarung satu sama lain hanya demi harta dan kekuasaan. Apalagi hanya demi aku seorang gadis yang tidak berguna. Sudah cukup mereka menyakiti diriku. Aku tidak akan pernah rela jika melihat Sean dilukai oleh mereka," ucap Laluna dalam hatinya.
Merasa masih ada yang disembunyikan oleh Laluna, Sean menyalurkan keberanian kepada kekasihnya itu. Ditatapnya dalam-dalam kedua mata Laluna. Meskipun hal itu membuat Laluna justru merasa malu dengan kedekatan yang terjalin saat ini.
"Apakah ia belum sepenuhnya percaya kepadaku? Akan tetapi aku sudah menyerahkan segalanya."
Bagaimana tidak karena Sean dan dirinya duduk sangat dekat. Saking dekatnya, hembusan nafas Sean terdengar halus dan sesekali menyapa bulu-bulu halus di tengkuknya.
"Kenapa dia semakin mendekatiku? Jujur aku akan merasa gugup jika ia berperilaku seperti ini."
"Jika kamu mengetahui sesuatu sebaiknya kamu mengatakannya agar aku bisa membantumu menyelesaikan masalah ini aku tidak mau hal-hal buruk terjadi kepadamu suatu saat nanti jika kita bisa membasmi mereka saat ini itu jauh lebih baik."
Sean masih menunggu jawaban Laluna, sayang ... pikiran Laluna sudah keluar jalur.
"Kamu kenapa?" tanya Sean rambut sambil menyibak helaian rambut Laluna hingga wajahnya jauh terlihat lebih jelas.
"Kamu sangat cantik," ucap Sean di dalam hati sambil menelan salivanya itu.
"Ya Tuhan, kenapa ia berperilaku manis sekali ia bisa meluluhkan ketegaranku saat ini jika ia terus melakukan hal seperti ini," ucap Laluna di dalam hati.
Bibir merah muda itu selalu menggoda manakala keduanya duduk berdekatan. Sentuhan-sentuhan lembut Sean bagaikan sengatan listrik yang membuat Laluna menegang.
Sean mencina mengajak Laluna bercanda. Hanya saja ia tidak cukup berani kala itu.
"Hayo, mikirin apa? Ko mukanya memerah?"
"Eh, kata siapa? Aku nggak mikirin apa-apa, kok," elak Laluna sambil menghempaskan tangan Sean dari tubuhnya.
"Kamu pasti merasa malu karena aku berkelahi manis hari ini," ucap Sean dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Tentu saja Sean terkikik dengan tingkah lucu Laluna. Bagaimana bisa ia mempunyai tambatan hati yang notabene pernah ditemui olehnya semasa kecil.
Akan tetapi Sean tidak pernah menyalahkan takdir. Setidaknya Tuhan masih berbaik hati kepada mereka dan memberikan waktu agar keduanya bersama.
Untuk mengusir ketegangan yang terjadi, Sean mencoba mengalihkan pembicaraannya tentang makanan. Memang saat itu ia sudah merasa lapar karena terlalu banyak berpikir keras. Hal itu membuatnya mengeluarkan tenaga yang ekstra lebih sehingga ia butuh asupan nutrisi untuk menyuplai otaknya.
"Ayo kita bikin mie, aku lapar ...." seru Sean mengalihkan pembicaraannya.
"Ba-baiklah," ucap Laluna senang.
Laluna bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk mereka. Kemudian disusul oleh Sean. Sejak Laluna kembali dari Rumah Sakit, ia tinggal bersama dengan Sean di sebuah apartemen.
Hal ini dimaksudkan agar Laluna lebih merasa nyaman daripada harus dikejar-kejar ibu kost setiap waktu. Belum lagi orang-orang yang suka berbuat jahat terhadapnya membuat Sean lebih takut kehilangan Laluna dibandingkan popularitas di tempat kerjanya.
"Sean, kamu ingin dimasakin apa?"
"Apa saja yang terpenting kamu yang memasak."
"Serius?"
"Dua rius, malah."
Bukannya menurut, Sean justru melakukan hal lain yang bisa membuat Laluna tidak leluasa memasak. Sean dengan sengaja terus menempel dipunggung Laluna dari awal sampai akhir.
"Sean, kamu ngapain, sih?"
"Lihatin calon istri memasak, apa ada yang salah?"
"Ada, salahnya adalah ketika kamu tidak mau melepaskan tanganmu dan terus menempel kayak perangko."
Akan tetapi Laluna sudah terbiasa dengan hal seperti itu, bahkan ketika ia menempel Laluna dengan cekatan tangannya masih asyik mencacah sayur-sayuran.
Berbagai bahan masakan terutama sayur mayur sudah selesai disiapkan, lalu Laluna mulai meracik bumbu.
Laluna dengan senang hati mempersiapkan makan malam yang sehat untuk kekasih hatinya. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga puluh menit, hidangannya telah matang.
"Yeay, selesai ... mari kita bersiap-siap untuk makan."
"Baiklah, ayo kita mulai makan."
__ADS_1
Laluna mencium kedua ketiaknya secara bergantian. Sean yang melihatnya hanya bergeleng saja.
"Apa yang sebenarnya ia lakukan? Kenapa terlihat jorok, sih?" gumam Sean memperhatikan semuanya.
Ternyata Laluna justru meringis saat melihat ke arah Sean.
"Aku boleh mandi dulu nggak, rasanya lengket semua!" ucap Laluna jujur.
"Boleh dong, kenapa enggak?"
"Baiklah kalau begitu, aku mandi dulu, kamu kalau lapar ya makan aja dulu."
Sean tersenyum lalu mengangguk. Sambil menunggu Laluna selesai mandi, ia memainkan jarinya pada ponsel di hadapannya.
"Bukankah ini Frans? Sejak kapan ia kembali lagi?"
Selain seorang pebisnis, Frans juga seorang hacker yang handal.
"Sepertinya meminta tolong padanya dalam kasus ini bukanlah hal yang tidak mungkin. Memang sebaiknya aku melibatkan orang luar. Setidaknya mereka tidak akan bisa membaca rencanaku kali ini."
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Laluna sudah kembali bergabung dengan Sean.
"Bukankah dia orang yang sama dengan waktu itu?"
Seketika Sean menoleh, ia tidak menyangka jika Laluna juga masih mengingat semua hal tentang Frans. Suatu kali ia pernah menemukan fakta jika Frans juga dekat dengan Leo.
"Oh, ya memangnya kamu juga kenal Frans?" tanya Sean pura-pura tidak tahu.
Laluna tersenyum, "Iya, sepertinya memang begitu. Pernah suatu kali kami bertemu ketika Leo juga berada di sana."
"Leo kakak angkatku?"
Laluna mengangguk. Ia tidak menyangka jika Laluna mau berdekatan dengan kakaknya tersebut. Akan tetapi sebuah moment menyatakan jika ia memang tidak bisa setiap waktu melindungi Laluna, oleh karena itu harus ada satu pengawal pribadi.
"Oh, ya bagaimana kabar kakak kamu itu? Apakah dia baik-baik saja?'"
"Baik, kok. Justru sekarang sudah mau membantu di perusahaan."
"Syukurlah kalau begitu, semoga sikapnya benar-benar berubah."
__ADS_1