MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)

MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)
Part 37. PERHATIAN


__ADS_3

Bertemu dengan teman lama bisa jadi menyenangkan atau sebaliknya. Begitu pula dengan Laluna yang baru saja kembali dari minimarket. Secara tidak sengaja, Ale juga berada di tempat yang sama dengan Laluna.


Kebetulan apartemen mereka juga bertetangga sehingga ketika Laluna berjalan, Ale juga melakukan hal yang sama. Sambil berjalan Laluna bernyanyi kecil. Suaranya yang lembut dan menghayati setiap untaian kalimat di dalam lagu itu membuat siapapun yang mendengarnya akan terhanyut.


Meguru meguru toki no naka de


Bokutachi wa ai wo saghashiteiru


Tsuyoku tsuyoku naratai kara


Kyou mo takai sora miageteiru


Laluna terus menyanyikan lagu kesukaannya sambil berjalan. Sementara Ale mengikuti kemana Laluna pergi.


"Merdu banget, seperti lagu yang sering dinyanyiin sama Luna, deh. Ah ... jadi kangen sama dia," gumam Ale yang berjalan di belakang Laluna.


Tanpa Laluna sadari karena keasyikan bernyanyi ia menyandung batu di depannya hingga membuatnya terjatuh.


"Arghhh ...." keluh Laluna sambil memperhatikan lututnya yang lecet karena mencium aspal.


Ale yang melihat hal itu segera berlari untuk menghampirinya.


"Kamu tidak apa-apa, Mbak?" tanya Ale spontan lalu berjongkok di depan Laluna.


"Jiah, orang ini lagi?" ucap Laluna di dalam hati.


Akan tetapi Laluna melihat bentuk alis dari lelaki di hadapannya kali ini sambil membayangkan teman laki-lakinya sewaktu kecil.


Terlihat Ale melambai-lambaikan tangannya di depan Laluna karena melihat jika wanita di hadapannya ini justru bengong.


"Hallo, Mbak, masih di tempat, 'kan?"


"Eh, iya, Mas. Aku nggak apa-apa, kok. Cuma lecet doang," ucap Laluna berbohong.


"Oh, ya sudah kalau begitu, masih bisa berdiri sendiri, 'kan?"


Laluna mengangguk. Memastikan jika wanita itu baik-baik saja, tanpa bertanya lagi Ale justru berdiri dan meninggalkan Laluna. Sementara itu Laluna masih berada di sana sambil melihat punggung Ale menjauh.


"Sial, kenapa bisa bertemu dengan orang itu lagi? Padahal jelas-jelas tampangnya belagu gitu masih aja sok perhatian!"


Laluna menatap ke arah luka dan batu yang membuatnya terjatuh.


"Dasar batu siala-an! Bisa-bisanya membuat aku jatuh! Tahu nggak sih, kalau aku nggak suka!"


Setelah puas memaki batu tadi, Laluna kembali melangkah. Bagaimanapun lukanya hanya lecet, maka dari itu ia segera berdiri dan kembali berjalan.


Namun, baru beberapa langkah kakinya kembali terasa nyeri, hingga membuat Laluna berhenti melangkah.

__ADS_1


"Ternyata terkilir, ya ampun, mana mau hujan lagi."


Terpaksa Laluna menyeret kakinya untuk melangkah. Sambil menahan rasa nyeri, ia memaksakan dirinya untuk berjalan. Benar saja, belum sampai setengah perjalanan hujan turun dengan lebatnya.


"Tahu aja kalau aku lagi sedih, bahkan langit pun menangis karena ku," ucap Laluna sambil bergeming.


Tangannya menengadah ke langit sambil memejamkan mata.


"Anggaplah aku lagi bermain bersama hujan."


Belum lama ia menikmati derasnya air hujan tiba-tiba saja, hujan berhenti. Sontak kedua mata Laluna terbuka.


"Ternyata ada payung, eh ... siapa yang naruh payung di situ?"


Sebuah tangan terulur menggapai pinggang Laluna, harum parfum Sean menguar memenuhi indera penciuman Laluna.


"Sean, itukah kamu?"


"Iya, memangnya kamu mau nungguin siapa lagi, selain aku?"


Laluna berbalik lalu mendekap erat tubuh Sean.


"Boleh minta gendong, kakiku sakit!"


"Tanpa kamu minta pun aku akan tetap gendong kamu."


"Dih, aku kok jadi gelay ya sama kamu," ucap Sean sok acuh.


Padahal ia menyukai manapun Laluna bersikap. Merasa jika hujannya semakin deras, Sean meminta Laluna untuk memegang payung dan ia menggendongnya sampai ke lobi apartemen.


"Pak, minta tolong parkirkan mobil, saya mau gendong istri saya naik."


"Siap, Pak Sean," ucap pak satpam sambil memberi hormat.


Setelah itu tanpa malu-malu sen langsung menggendong Laluna memasuki lift khusus untuknya. Sean memang adalah pemilik apartemen itu maka dari itu ia mempunyai fasilitas khusus yang dipersiapkan hanya untuk pemilik apartemen. Sementara untuk penghuni apartemen lainnya memakai lift yang lain.


"Kenapa kamu bisa terluka apa kamu kurang hati-hati?" sambil membersihkan luka di kaki Laluna.


Dengan telaten Sean mengompres kaki Laluna, lalu memberinya sebuah salep. Kaki Laluna memang sudah berwarna kemerahan. Mungkin karena ia memaksa untuk tetap berjalan meskipun kakinya terasa sakit sehingga luka di kakinya bertambah parah.


"Kalau sakit nggak usah maksa keluar kenapa sih? Masa nggak bisa sih jaga diri sendiri?"


"Jadi kamu nyalahin aku? Aku belanja di luar karena kebutuhan makanan kita habis."


"Kamu nggak lihat kantong belanja yang aku bawa?"


Bukannya memberi kesempatan untuk Sean kembali berbicara, Laluna justru mengomel lebih dulu.

__ADS_1


"Mau ganti baju sendiri atau mau aku gantiin?"


"Dih, ogah. Mending aku mandi sendiri."


Laluna menarik handuk yang dipegang Sean, karena tidak siap tubuh Sean justru ikut tertarik dan menimpa tubuh Laluna.


Hidung keduanya hampir bersentuhan. Kedua mata mereka saling melotot satu sama lain. Diiringi deru nafas yang saling memburu berselimut degupan jantung yang bertalu-talu membuat keduanya menjadi salah tingkah.


Awalnya marah, tetapi karena posisi mereka yang seperti ini, kemarahan Laluna seolah tertiup angin dan pergi entah kemana. Bibir Sean yang basah justru menjadi pusat perhatian Laluna saat ini. Hal itu pula membuat Laluna mengigit bibir bawahnya.


"Aduh, pikiran jor*k tolong pergi jauh-jauh!"


Laluna memejamkan matanya karena terlalu malu menatap Sean dari jarak sedekat itu. Sean yang melihat Laluna ketakutan justru semakin mendekatinya.


"Kamu mikirin apa sih, Yank. Kok merem melek gitu," busuknya tepat di salah satu telinga Laluna.


Reflek Laluna mendorong tubuh Sean agar menjauh. Entah kenapa hati dan jantungnya menjadi tidak sehat ketika berdekatan dengan Sean dalam posisi seperti itu.


Sesaat setelahnya, tubuh Laluna melayang. Ia kaget karena Sean kembali mengendongnya.


"Aku antar ke kamar mandi, biar kamu bisa ganti dengan leluasa. Air hangatnya juga sudah siap, kok."


"Mandi yang wangi, ya istriku."


Bisikan-bisikan dari Sean membuat bulu kuduk Laluna meremang. Entah kenapa rasanya seperti tersengat aliran listrik ketika Sean perhatian seperti ini.


Sean mendudukkan Laluna di bathub lalu berpamitan.


"Aku di depan pintu, kalau butuh sesuatu panggil saja."


Laluna mengangguk perlahan. Wajahnya masih bersemu merah karena merasa malu.


"Perhatian dari kamu semakin membuatku takut kehilangan dirimu, Sean. Maaf jika aku masih belum bisa menjadi wanita lembut seperti keinginan kamu."


Selepas itu, Laluna segera melepas semua bajunya dan mulai berendam di air. Kakinya yang terluka sengaja ia gantung ke bibir bathub.


Seperti tingkah anak kecil yang takut jika luka di kakinya terkena air. Laluna juga melakukan hal yang sama.


"Hm, paling enak emang jadi anak sultan. Mau fasilitas kaya apapun, pasti bisa didapatkan."


Sementara itu, di luar pintu Sean meminta Jo untuk membelikan beberapa makanan untuk makan malam Sean dan Laluna. Tidak lupa ia meminta agar Jo memantau semua persiapan kejutan untuk Laluna yang akan diberikan olehnya esok hari.


"Siap, Pak Bos. Kalau yang itu mah, pasti beres sama saya."


"Ok, aku percaya. Jika Laluna senang, maka akan aku tambahan bonus untukmu nanti."


"Terima kasih banyak, Pak Bos."

__ADS_1


__ADS_2