
Terkadang sikap seorang yang kaya raya itu terlalu menyebalkan untuk dibahas. Apalagi jika terkadang sikap menyebalkan muncul di saat yang tidak tepat.
Sama seperti yang dirasakan oleh Laluna, terhadap Sean. Meskipun cinta ada kalanya Laluna lelah dengan sikap Sean. Begitu pula dengan persahabatan. Salah satu cara untuk tetap bisa langgeng yaitu dengan membumbui hubungan itu.
Entah itu dengan sebuah candaan atau bisa juga dengan lelucon kecil. Akan tetapi untuk Sean lain lagi ceritanya. Ia suka memanfaatkan teman-teman karibnya untuk menuruti semua keinginannya dalam waktu sekejap.
Sama seperti malam ini, dimana sakit alergi Sean kambuh di waktu yang tidak tepat. Hanya satu orang yang bisa menyembuhkannya tidak lain dan tidak bukan adalah dokter Michael. Namun, meskipun begitu, Sean masih bersikap semena-mena terhadapnya.
"Bisa-bisanya mengusir dari kamarku sendiri. Kalau bukan sahabat pasti sudah aku geprek-geprek sampai *****!" ucap dokter Michael dengan sangat emosi.
Meskipun Sean memiliki alergi, terkadang sikap abai dan tidak perduli itu terlalu merepotkan bagi orang lain. Sama seperti yang dilakukan Sean barusan. Merepotkan dokter Michael di waktu yang salah.
Padahal posisinya dokter Michael sudah beristirahat. Akan tetapi Sean dengan seenak hatinya menganggu jam istirahatnya. Belum lagi Sean yang mengakuisi kamar tidur milik dokter Michael, membuat ia dengan tidak lapang hati terpaksa menerima perlakuan Sean yang tidak manusiawi itu.
"Sudah dibantu harusnya berterima kasih, kek! Dasar lelaki aneh!"
Dokter Michael merasa kesal karena sikap Sean yang suka kelewatan. Padahal niatnya hanya mencari tahu apakah Sean sosok wanita spesial di dalam hati Sean hanyalah Laluna seorang atau tidak. Namun, Sean justru salah paham dan mengusirnya sampai keluar dari kamarnya sendiri.
"Semoga Laluna benar-benar bisa menjaga Sean dan mengubah sikapnya menjadi lebih baik lagi, Aamiin."
Bagi Michael hal sepenting ini adalah sebuah berita besar. Sementara itu di dalam apartemen Sean, Laluna merasa kesepian.
"Sudahlah tidak perlu memikirkan pertemuan tadi, Sean pasti sudah sibuk dengan pekerjaan miliknya. Sesuai dengan perkataan darimu, Tuan Muda aku akan tidur saat ini."
Laluna segera mengunci pintu apartemen miliknya lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Sesekali ia meraba tempat kosong di sisinya itu.
"Biasanya ada dia di sini, sekarang rasanya sepi dan entahlah ...."
Bayangan dan harum tubuh Sean yang maskulin masih tertinggal di sana. Laluna menepuk keningnya karena sudah terkontaminasi oleh Sean.
"Bisa-bisanya masih memikirkan lelaki itu, akh sudahlah sebaiknya aku tidur."
Salah satu tangan Laluna menekan lampu tidur dan menarik selimut untuk menutupi seluruh badannya. Akhirnya ia pun terbuai oleh mimpi indahnya.
__ADS_1
Keesokan harinya.
"Hari ini aku harus pergi ke perusahaan Sean, tetapi aku tidak mau terlihat sebagai seorang karyawan baru tanpa sebuah prestasi. Aku tidak mau dianggap sebagai karyawan spesial yang masuk dengan bantuan orang dalam."
Laluna sedang mematut dirinya di depan cermin sambil memainkan ujung rambutnya yang sengaja dibuat ikal. Tentu saja penampilan baru darinya itu akan menambah nilai plus dari Laluna sendiri.
Selain itu, blazer yang melekat di tubuhnya membuat nilai berkelas dari Laluna semakin bertambah.
Apartemen dokter Michael.
Setelah merasa baikan, Sean memilih untuk segera pergi ke kantor di pagi-pagi buta tanpa membangunkan pemilik rumah.
Hari ini adalah hari paling bersejarah di dalam hidup Laluna. Prestasi yang dimiliki Laluna membuat ia dengan mudah diterima sebagai karyawan resmi dari Perusahaan Geneva Group Company. Maka dari itu Sean tidak akan melewatkan kesempatan kali ini.
"Semoga penampilanku kali ini tidak akan mengecewakan dirinya."
Jo yang sedari pagi buta harus direpotkan dengan semua urusan ***** bengek dari Sean, kini ini terbaring lemah di atas sofa ruangan CEO. Matanya begitu mengantuk, apalagi jam tiga dini hari, ia terus diteror oleh Sean agar bisa mengambilkan beberapa barang untuk keperluan kantor.
Apalagi hari ini ada upacara penyambutan khusus bagi kedatangan Nona Muda Laluna, tentu saja manusia yang paling direpotkan hanya Jo.
"Sudah siap, Nona Muda?" sapa Tia pada Laluna.
Laluna yang tidak terbiasa dengan sebutan itu hanya meringis. "Nggak usah panggil Nona Muda, namaku sejak dulu tetap sama Laluna."
"He he he, sebentar lagi pasti akan berganti kok, ya 'kan Beb?"
"Iya."
Obrolan absurd mereka terhenti manakala perjalanan mereka sudah hampir memasuki kawasan perusahaan Geneva Group Company. Gedung tertinggi di Ibu Kota itu tampak lebih berkelas daripada gedong perkantoran biasanya.
Meskipun ia pernah datang ke sana, tetapi rasanya tetap tidak sama ketika ia datang sebagai seorang karyawan. Tia dan Jordy mengekor di belakang Laluna. Padahal Laluna bukanlah seorang Bos melainkan sebagai designernya saja.
"Apakah aku boleh memilih?"
__ADS_1
"Memilih apa?"
"Memilih untuk tidak berjalan di depan kalian?" ucap Laluna yang tiba-tiba saja rasa percaya dirinya menurun karena pandangan dari orang-orang seolah mengulitinya.
"Kenapa mereka menatap kita seperti itu?"
"Entahlah, kita tidak tahu apakah kita akan diterima di sini atau tidak."
"Anggap saja kita adalah artis jadi mereka tidak bisa semena-mena terhadap kita setelah ini."
"Betul."
Sedari tadi, Jordy dan Tia selalu berbisik-bisik, tanpa tahu apakah ucapan mereka terdengar sampai di telinga Laluna atau tidak.
Di ujung ruangan terlihat Sean tersenyum ke arah Laluna. Tangannya bersiap-siap untuk memeluk Laluna, tetapi justru Laluna mengajak Sean untuk bersalaman saja.
Kening Sean berkerut ketika tidak mendapatkan pelukan dari Laluna, tetapi dari sorot mata Laluna seharusnya ia tahu jika Laluna ingin diperlakukan sama seperti rekan bisnis bukan sebagai kekasih Sean.
"Oh, ok," ucap Sean setelah paham dengan maksud dari Laluna.
Awalnya ia memang ingin menyambut Laluna secara eksklusif akan tetapi setelah melihat situasi kantor yang lebih banyak mendapati karyawatinya berbisik-bisik tentang Laluna. Sean secara resmi meminta maaf pada mereka.
"Maafkan atas sikap para karyawati di sini yang kurang tertib."
"Nggak apa-apa, itu hal wajar, kok."
Mengerti jika keadaan kurang asyik, Jo membisikkan sesuatu ke arah Sean.
"Pak Boss, ajak Nona Muda ke dalam ruang rapat. Biar netizen budiman tidak menganggu."
"Ck, baiklah. Meski merepotkan aku tetap menerimanya."
"Silakan masuk Nona Laluna," ucap Jo sambil membungkuk hormat.
__ADS_1
Tidak berselang lama, mereka semua masuk ke dalam ruang rapat. Meskipun begitu bisik-bisik netizen julid masih terdengar. Dengan cepat Jo segera menutup pintu ruang rapat seraya menatap tajam ke arah para karyawati di ujung ruangan.