
"Ka-kau, bukankah sudah berangkat ke Paris?" tanya Sean penasaran dengan kehadiran Frans di perusahaannya.
"Aku lupa jika Papa Mama masih di Bali, jadi aku menunda keberangkatanku untuk sekalian bareng mereka."
"Oh, begitu."
"Ya sudah kalau begitu sebaiknya kita menuju ke ruang rapat dengan segera!" ajak Sean tanpa mengajak Frans yang berada di belakang mereka.
Namun, bukan Frans namanya jika dia tidak mempunyai akal briliant. Daripada ia kering di ruang kerja Sean, lebih baik ia memilih untuk sekalian ikut rapat.
"Kalau kalian tidak keberatan, bolehkan aku ikut rapat?"
Sontak saja keduanya menoleh secara bersamaan dengan wajah bertanya-tanya dan tidak percaya.
"Daripada aku menunggu dengan galau di ruang CEO bukanlah lebih baik aku ikut kalian?"
Laluna mengapit lengan Sean, "Udah biarin aja, lagipula semakin banyak orang yang aku kenal di dalam nanti akan mempermudah aku untuk presentasi."
Sean menoel dagu Laluna, "Tapi kau tidak boleh nakal!"
Laluna pun mengerucutkan bibirnya ke depan.
"Iya, aku janji," cicitnya.
Lalu sejenak kemudian Sean menoleh ke arah Frans. "Baiklah, kau boleh ikut atas ijin Nyonya Alinskie!"
"Siap, terima kasih Nyonya Alinskie," ucap Frans dengan nada riang.
Tidak berapa lama kemudian mereka semua telah masuk ke dalam ruang rapat. Dengan hadirnya Sean, secara otomatis rapat segera dimulai.
Namun, kedamaian ruang rapat terusik dengan kehadiran seorang pemuda yang terlihat datang terlambat di area rapat.
Sorot mata seluruh peserta rapat tertuju padanya. Suara derap langkah kaki Ale terdengar begitu keras ditambah dengan deru nafas yang terengah-engah membuat atensi perhatian mereka tertuju dalam satu arah.
"Maaf, saya terlambat datang!"
Ale meminta maaf kepada seluruh peserta rapat karena kedatangannya membuat berlangsungnya rapat menjadi terganggu.
"Tidak apa-apa, silakan duduk!" ucap Jo yang berada tepat di sisi pintu.
Laluna sempat bengong dalam sepersekian detik, ketika menyadari siapa yang datang pagi itu. Mood-nya tiba-tiba memburuk karena kedatangan Ale.
"Ale? Apakah ia mewakili kedatangan Paman dan Bibi Hana?"
"Bukankah ia juga memiliki saham yang berhubungan dengan industri ini?"
Sean melihat arah pandang Laluna yang mengarah ke Ale, dengan segera Sean memberi Laluna kode. Akan tetapi sepertinya ia tidak begitu peduli, hingga Sean berdiri dan mendekati Laluna.
"Sayang, lanjutkan presentasimu!" bisiknya.
__ADS_1
"Eh, em, iya, maaf ...." ucap Laluna tergagap.
"Semoga saja Sean tidak marah dengan kedatangan Ale."
Setelah meminta maaf kini Laluna kembali melajutkan persentasinya pagi itu. Tidak lupa Sean juga memberikan beberapa masukan secara langsung, disusul oleh para peserta rapat.
Beruntung selama rapat berlangsung, tidak ada keributan ataupun keonaran yang dilakukan oleh Ale. Hanya saja sesekali Ale melihat ke arah Laluna yang membuat ia gagal fokus.
Suasana hati Laluna kembali membaik ketika ia melihat wajah Sean yang tersenyum ke arahnya.
"Ingat, ada aku disini yang selalu menyemangati dirimu, Sayang."
Sebenarnya Sean juga merasa tidak suka dengan kehadiran Ale, akan tetapi ia harus bersikap profesional agar tidak menggiring opini para peserta rapat.
Pemikiran Ale seolah membuat Laluna semakin tidak suka dengan cara tatapannya.
"Di mana-mana kita selalu bertemu, bukankah itu artinya kita adalah jodoh?" gumam Ale.
Laluna tidak menyukai sorot mata Ale yang seolah ingin mengulitinya. Bagaimana juga kenangan buruk bersamanya seringkali membuat Laluna tidak nyaman.
Beruntung hari itu Ale tidak membuat masalah. Masalah justru timbul ketika selepas rapat saat Laluna hendak pergi meninggalkan tempat itu. Sepertinya Ale ingin menyusul Laluna.
Sean yang peka langsung merangkul pinggang ramping Laluna seolah sedang melindungi dari pandangan buruk dari Ale. Sementara itu Ale berdiam diri di tempat.
"Sean, bisa nggak kalau aku pergi ke toilet sebentar."
"Bisa, tunggu sebentar."
"Siap, Bos."
Frans hanya memandang tingkah mereka sambil geleng-geleng. Ia bahkan menepuk bahu Jo hingga membuatnya hampir terjingkat.
"Jauhkan tanganmu dari jasku!" pekik Jo kesal terhadap Frans.
"Woi, santai kenapa? Lagian aku nggak suka jeruk makan jeruk, aku masih normal!"
"Siapa bilang kamu nggak normal aku kan hanya menegurmu!"
"Tuan sama assistennya sama-sama bengek! Sia-lan!"
Frans yang kesal, segera pergi masuk ke dalam ruang CEO daripada terus mendengar ucapan dari Jo yang membuat darahnya mendidih. Sementara itu Jo mengomel sepanjang jalan.
"Dasar Tuan Muda tidak tahu aturan, untung Tuan Sean ... sayang, kalau tidak mana mungkin kamu bisa menjadi sahabat sejatinya."
Frans yang semula jalan terlebih dahulu kini menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Jo.
"Gini-gini aku juga dengar apa yang kamu ucapkan Jo, jadi tidak usah mengumpat!"
"I-iya Tuan Frans, mohon maafkan saya."
__ADS_1
Ale yang tertinggal di luar rapat, sedang mengamati keadaan di sekitarnya. Ingin sekali ia datang dan menyapa Laluna, tetapi niatnya terhalang oleh keberadaan Sean yang selalu berada di sisi Laluna.
"Sial! Kenapa dia selalu menempel sih, beda banget dengan caranya ketika memimpin rapat.
Seketika Sean menyadari jika yang dimaksud ayahnya semalam adalah pemimpin tertinggi di perusahaan group yang saat ini berada di hadapannya, Sean Alinskie. Akan tetapi keraguan segera menderanya.
"Pantas aja semua artikel tentangnya dan berita tidak muncul di internet ternyata kamu benar-benar orang yang sangat penting di kota ini, Sean."
Merasa jika sudah mendapatkan cukup informasi, Ale segera pergi keluar dari ruang rapat. Tujuan utamanya adalah menunggu Laluna di arena parkir.
"Sudah pasti tadi ia pergi bersama dengan lelaki arogan tersebut. Jadi bisa saja ia kembali melewati pintu yang sama di sini."
Selepas dari toilet ternyata Laluna menyadari apa yang membuatnya tidak nyaman sedari tadi.
"Sean, maaf minta tolong ambilkan tas miliku?"
"Ya, sayang ini tas kamu."
"Terima kasih, Sayang."
Dengan cepat tangan Laluna meraih apa yang dipegang oleh Sean lalu ia mengganti di toilet.
"Uh leganya, untung tidak bocor!"
"Memangnya kamu kenapa?"
Terlihat jika Laluna sedang memegangi perutnya yang kram.
"Wajah kamu pucat sekali lho, Sayang. Cepat katakan padaku apa yang terjadi denganmu?"
Sontak saja Laluna berjinjit untuk menyamakan tingginya pada Sean.
"Aku lagi datang bulan, jadi aku minta kamu mengantarkan aku pulang terlebih dahulu saja."
"Pasti sangat menyakitkan, ya? Biar aku gendong kamu saja gimana?"
"Eh, enggak ... nggak mau aku!"
"Nggak apa-apa, kok aku rela."
Sontak saja Laluna menyilangkan kedua tangannya.
"Nggak usah aneh-aneh."
"Ya sudah kalau begitu biar aku yang mengantarkan kamu pulang."
Sean bergegas pemicu dan mengatakan apa yang menjadi keinginannya.
"Baiklah, Tuan pulang saja dulu. Untuk masalah di kantor biar saya handle."
__ADS_1
"Terima kasih Jo kamu memang sangat bisa diandalkan."