
Setelah Jo pergi, Sean sudah selesai mandi. Ia pun menyiapkan menu untuk Laluna. Menurut Simbah G, ia bisa membuat teh jahe untuk meredakan nyeri ketika datang bulan. Oleh karena itu, Sean membuat beberapa menu yang akan diberikan pada Laluna.
Sementara itu Ale masih memperhatikan pintu apartemen Sean.
"Bukan hal yang sulit untuk bisa menemukan keberadaanmu, Sean. Apalagi aku sudah mengetahui kartu As milikmu. Sehingga tidak akan bisa lepas dariku!" gumam Ale sambil melihat ke arah pintu apartemen Sean.
Selepas mendapatkan apa yang selama ini ia cari maka Ale segera kembali ke dalam kamarnya. Ia mematut wajahnya di cermin, sambil membuat beberapa rencana yang akan dia lakukan setelah ini.
"Luna, bagaimana pun caramu menghindar aku akan dapat menemukan keberadaanmu setelah ini."
Tawa renyah dari Ale berkumandang memenuhi lorong apartemen. Beberapa penghuni yang bertemu dengan Ale memandang aneh terhadapnya. Namun, Ale sama sekali tidak peduli akan hal tersebut.
Sementara itu di dalam kamar Laluna sedang mengganti pakaiannya dengan ukiran yang lebih besar dan tidak sempit. Ia mengikat rambut dengan model kuncir kuda lalu mulai berbaring di atas tempat tidur.
Sean sudah selesai memasak teh jahe untuk Laluna. Sesuai dengan permintaan calon Nyonya Alinskie, Sean menyeduhnya dengan penuh cinta. Perlahan-lahan ia berjalan ke arah kamar lalu mencoba mengintip untuk sesaat kepada Laluna.
"Wah, harum sekali? Eh, bukankah aku hanya meminta teh jahe? Kenapa justru ada banyak makanan yang kamu bawa?"
"Aku tidak mau kamu kesakitan. Justru untuk mempercepat proses penyembuhan, aku memasak beberapa menu untukmu. Apakah kamu terharu?"
Tentu saja Laluna tersipu akan perhatian kecil dari Sean. Meksipun begitu rona merah di kedua pipinya sama sekali tidak ia hiraukan.
Laluna mengalihkan perhatiannya dengan melihat sup ikan yang di bawa oleh Sean. Sangat mengunggah selera memang, hanya saja porsinya terlalu sedikit hingga membuat kening Laluna mengeryit.
"Aku memang sedikit lapar sih, tapi ...."
"Tapi apa? Porsinya terlalu sedikit?" tanya Sean yang sudah hafal dengan sikap Laluna yang suka makan.
Meskipun begitu tubuh Laluna tetap imut tanpa ia harus diet ketat. Mungkin itulah daya tarik tersendiri darinya untuk Sean.
Laluna mengangguk malu-malu, sementara Sean merasa tenang. Setidaknya Laluna tidak seperti beberapa saat yang lalu ketika ia terlihat sangat menderita.
"Nggak usah khawatir, aku bisa mengerti jika kamu pasti akan ketagihan setelah mengkonsumsi ini. Hanya saja kata Michael kau tidak perlu mengkonsumsi terlalu banyak saat kram perutmu masih terasa!"
"Aku mengerti, kalau begitu bersiaplah untuk menjadi penasehat makananku sehari-hari," ucap Laluna dengan senang.
Mata Laluna menyipit ke arah Sean.
"Bukankah kau sengaja mengaturnya agar aku tidak terlalu gemuk sebelum menjelang akad?" ucap Laluna dengan entengnya.
__ADS_1
Sean yang menyadari jika Laluna semakin cerdas tidak bisa berbuat banyak. Senyum secerah mentari terukir sempurna di wajah Sean.
Di balik semua itu kini ia tersadar jika ada banyak hal di dunia ini yang bisa diraih ketika seorang wanita berada di sisi kita. Terlebih lagi ia adalah seorang wanita yang sangat kita cintai. Itulah arti cinta dari Sean untuk Laluna.
Sementara itu sebuah pertengkaran terjadi di kediaman Presdir Lim. Ia terlihat sangat marah ketika mendapatkan laporan dari salah seorang anak buahnya yang mengatakan jika kemarin Mihiyo sempat membawa ibunya pergi ke sebuah acara pelelangan.
"Bisa-bisanya aku kecolongan! Harusnya aku tidak menganggap remeh kedatangan Mihiyo. Dia benar-benar licik dan berbisa!"
Kedua tangan Presdir Lim mengepal sempurna. Ingin rasanya segera meluapkannya pada Mihiyo, hanya saja wanita itu belum datang ke dalam kediaman miliknya.
Suara deru mobil terhenti di halaman rumah. Presdir Lim memasang pendengarannya secara tajam.
"Wanita itu sudah datang rupanya. Aku harus meminta pertanggungjawaban dari Mihiyo!"
Tampak raut wajah Presdir Lim sangat marah terhadap Mihiyo kali ini. Apalagi sampai membuat sang ibu mengurung dirinya tanpa mau mengatakan apapun kepadanya.
Rasa curiga memenuhi kepala Presdir Lim sepulang rapat. Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Mihiyo justru kembali mendatangi rumah kakaknya tersebut.
Ia datang dengan kedua tangan membawa paper bag. Wajahnya penuh senyuman, seolah ia baru saja mendapatkan apa yang menjadi keinginannya kali ini. Menang dan membuat orang lain terpuruk lebih tepatnya.
"Mau kemana kau!"
"Berhenti!" teriak Presdir Lim ketika Mihiyo terus mengabaikannya.
Teriakan Presdir Lim sontak membuat langkah kaki Mihiyo berhenti. Apalagi ia melihat bagaimana kemarahan kakaknya tersebut dari kedua bola matanya.
"Ka-kakak, kenapa kau menghentikan langkah kakiku?"
"Apa kau lupa atau kau justru tidak dengar bagaimana aku telah memperingatkan dirimu kapan hari!"
"Peringatan yang mana, Kak. Aku tidak pernah mendapatkan peringatan apapun dari kakak, bukankah kakak sangat menyayangi adikmu ini?"
Presdir Lim tampak berdecih karena tingkat rasa percaya diri Mihiyo masih tampak tinggi.
"Dulu, dulu aku memang pernah menyayangimu, tetapi tidak dengan saat ini. Terlebih kau selalu membuat ibu sakit-sakitan dan karena kau justru lebih sibuk menghabiskan waktumu daripada menemani hari-hari tuanya.
"Kakak ... tau sendiri aku sibuk sekolah, jadi wajar aku sangat sibuk dengan dunia pendidikanku. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu kelak, jadi kakak tidak bisa menyalahkan aku sepenuhnya!"
"Mihiyo, ka-kau ...." tangan Presdir Lim hendak menampar asik angkatnya itu tetapi teriakan Nyonya Lim menghentikan keinginannya itu.
__ADS_1
"Hentikan!"
Ternyata pertengkaran kakak dan adik itu terdengar dari kamar Nyonya Lim. Ia merasa tidak nyaman karena kedua anaknya justru bertengkar karena dirinya. Ditambah lagi keduanya memiliki sikap yang sama-sama keras.
"Sampai kapan kalian berdua akan bertengkar seperti ini, kalian sudah dewasa harusnya mengerti bagaimana cara bersikap!"
"Tapi Bu, kakak yang memulainya bukan aku!"
Mihiyo tampak tidak mau disalahkan akan hal itu. Presdir Lim yang merasa muak dengan sikap adiknya sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Terus saja kamu membela dirimu sendiri, sudah melakukan kesalahan besar masih saja mengelak!"
"Lim, sudah hentikan!"
Karena tubuhnya belum sehat, Nyonya Lim justru limbung dan terpeleset dari tangga atas. Hingga tidak berapa lama kemudian ia pun terjatuh dan membuat Presdir Lim semakin murka dan panik.
"I-ibu ...." teriaknya.
Presdir Lim berlari ke arah ibunya. Begitu pula dengan Mihiyo yang ikut berlari ke arah yang sama. Tangannya bergetar ketika melihat cairan kental berwarna merah yang mengenai tangan kakaknya.
"Ka-kakak, itu apa?"
Presdir Lim menoleh ke arah Mihiyo.
"Kau, pergi dari sini! Kedatanganmu hanya membuat ibu semakin terluka!"
"Jangan pernah sekalipun kamu menginjakkan kakimu di sini!"
"Ta-tapi ...."
"Cepat pergi atau aku akan mengusirmu!"
......................
Apakah Mihiyo akan berubah karena hal ini ataukah semakin membenci Cleo dan juga kakaknya?
Sambil nunggu up, jangan lupa mampir ke Novel Mama Reni yuk, ditunggu kedatangannya para reader kesayangan.
__ADS_1