
Akhirnya keempat orang itu segera menuju apartemen milik Frans. Letak apartemen Frans sangat jauh dari pemukiman penduduk. Apartemen Frans merupakan satu-satunya tempat teraman saat ini karena belum pernah ada yang bisa masuk ke sana kecuali memiliki ijin resmi dari pihak pengelola.
Hanya orang-orang berkelas tinggi yang bisa memasuki apartemen Frans. Lagi pula Nyonya Hana tidak mengetahui di mana letak apartemen itu. Sehingga tidak mungkin jika Nyonya Hana dan pengikutnya berhasil mengejar mereka sampai ke tempat Frans.
"Kalian tenang saja, mereka tidak akan bisa mengejar kita sampai ke sini."
"Apa kau bisa memastikan keamanan di sini bisa dipertanggung jawabkan?"
"Tentu bisa. Tempat ini tidak akan sembarangan mengijinkan orang-orang pura-pura kaya bisa masuk ke sini!"
"Wow, bagaimana bisa kau menemukan tempat seindah ini, Frans?"
Frans tersenyum sombong.
"Tentu saja bisa, Luna. Salah satu pemegang saham kawasan ini adalah orangtuaku."
"Oh, iya. Aku sampai lupa mengatakan jika Frans adalah anak orang penting di kota ini. Sehingga kemanapun ia berada akan mendapatkan semua fasilitas eksklusif."
Laluna hanya menyimak obrolan mereka dengan melongo.
"Betul sekali."
"Hanya saja ada satu hal yang tidak bisa ia dapatkan dari semua ini," ucap Sean dengan menyeringai.
"Apakah itu?" tanya Laluna penasaran.
"Seorang wanita yang bisa mencintainya dengan tulus. Setahuku setiap wanita yang mendekati Frans hanya mendekatinya demi uang."
Sean menatap ke arah Laluna lalu menyentuh dagunya, "Tidak seperti dirimu, bahkan tidak pernah menanyakan asalku dari mana, tetapi bisa memberikan sebuah cinta yang luar biasa untukku."
Tentu saja perkataan dari Sean membuat Laluna tersipu. Akan tetapi Frans sudah merasa begitu bangga dengan kehidupannya saat ini.
"Itu tidak mengapa, karena dengan begitu aku bisa puas bermain-main dengan mereka.
Mendengar ucapan puas bermain-main dengan wanita membuat Laluna meradang. Sebagai seorang wanita, ia merasa tersinggung ketika mereka mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh dan hanya dijadikan sebuah mainan.
"Apa kamu bilang? Apakah seburuk itu harga diri seorang wanita? Kenapa kau tidak bisa memperlakukan mereka dengan sangat baik?"
"Maaf, bukan maksudku untuk menyakiti hatimu, Lun. Salahkan saja mereka yang gi-la karena harta dan membuat harga diri mereka sangat rendah."
__ADS_1
Sean memegang tangan Laluna.
"Tidak semua lelaki itu brengs*k dan be*at, karena masih ada seseorang yang benar-benar tulus mencintai seorang wanita dengan hatinya."
"Seseirang juga mempunyai sebuah masa lalu, akan tetapi jika sudah menemukan orang yang tepat, aku jamin mereka pasti akan menjadi orang yang lebih baik."
"Benar begitu, Jo?"
"Tentu saja, Pak Bos."
Hal ini dimaksudkan agar bisa membuat rencana Sean dan juga Laluna berjalan dengan lancar. Akhirnya mereka segera sampai di tempat Frans. Dengan segera mereka membahas semua rencana kali ini.
Bahkan Sean berani mengeluarkan banyak uang untuk membayar Frans jika rencana mereka bisa berhasil kali ini.
"Tidak peduli berapa banyak uang yang kau perlukan, katakan saja!"
"Ha ha ha, Tuan Muda Sean memang sangat royal kepadaku, aku sampai hampir menangis."
Sementara itu di dalam hati Frans ia bisa mengerti jika Sean sangat mencintai Laluna. Maka dari itu ia berusaha melakukan semua hal yang terbaik untuk kekasih hatinya itu.
"Kau memang beruntung, Laluna. Sean bukanlah orang sembarangan yang bisa ditaklukan oleh wanita. Hanya seorang spesial yang mampu meluluhkan hatinya."
"Sebagai seorang teman, aku hanya bisa menitipkan Sean kepadamu. Cintailah ia sebagaimana cinta yang diberikan kepadamu."
"Lakukan semua pekerjaanmu dengan baik, maka aku akan membayarmu dengan harga yang berkali-kali lipat dibanding tarifmu!"
"Tidak usah memperingatkan diriku, maka aku akan memastikan jika pekerjaanku akan berujung dengan sempurna."
"Good. Buktikan kepadaku, secepatnya."
Setelah itu Sean menoleh ke arah Jo dan menanyakan tentang undangan yang didapatkan dari Keluarga Han.
"Jo, apa kau sudah menerima undangan resmi dari Keluarga Han?"
Jo membungkuk hormat sambil menyerahkan sebuah undangan berwarna merah ke arah Sean.
"Tentu saja sudah, silakan Anda lihat undangannya."
Sesuai dugaan ternyata di lantai bawah semua orang sudah datang untuk memenuhi undangan dari Nyonya Hana. Laluna yang sudah bersiap dengan gaun pesta yang berwarna cream membuat dirinya terlihat sangat cantik dan menawan.
__ADS_1
Di sisi lain, Angel sudah mempersiapkan sebuah rencana kalau sampai Laluna datang ke dalam pestanya. Ia akan membantu Laluna untuk mengungkap semuanya. Kecemasan itu terlihat di wajah Angel.
Tidak pernah ia melakukan penghianatan seperti ini. Apalagi selama ini ibunya selalu memanjakannya dengan semua harta dan fasilitas yang didapatkan dari Ayah Laluna. Seharusnya ia menjadi anak yang berbakti.
Akan ttapi setelah ia mengingat semua kebaikan yang dilakukan kepadanya, tanpa ada rasa dendam sedikitpun membuat pemikiran Angel berubah terhadap Laluna.
"Aku harap kamu memenuhi undangan dariku hari ini. Semoga kesempatan kali ini bisa membantumu, Luna. Aku tidak akan tega melihatmu terluka lebih lama lagi," ucap Angel sambil mematut dirinya di depan cermin.
"Sean, apa penampilanku seperti ini tidak mencolok?"
"Tentu saja tidak, kenapa? Apa kamu tidak percaya diri?"
Laluna menunduk malu, ia tidak berani mengatakan apapun saat ini.
"Sean, sepertinya aku tidak pantas mendapatkan semua ini. Sebaiknya aku tidak datang ke acara tersebut. Aku takut justru dengan kedatangan kulakukan menggagalkan rencana kalian."
Sean memegang bahu Laluna.
"Ingatlah tujuan utama kita dalam melakukan rencana ini. Aku hanya ingin memberikan pelajaran kepada Ayah dan juga Ibumu yang telah menyiksamu selama ini."
Laluna melihat kedalaman mata Sean. Ia tidak menyangka jika Sean melakukan semua ini hanya demi kebaikan hatinya. Demi sebuah cinta yang ia bangun bersama Sean Alinskie.
"Terima kasih untuk semuanya, Sean."
Sekali lagi ekspresi Laluna yang imut membuat Sean tidak tahan dengan semua ini. Sebenarnya bukan kali ini saja Sean memimpikan bisa bersama dengan Laluna. Hanya saja waktu belum memberikan kesempatan kepada ia dan Laluna untuk bisa segera bersanding dengannya.
Tidak hanya Sean yang terpesona, bahkan Jo juga tidak bisa berkedip karena kecantikan Cleo seperti seorang putri.
Di lantai bawah terlihat para tamu memuji kecantikan Nyonya Hana.
"Aduh Nyonya, kamu terlihat cantik sekali."
"Terima kasih, kalian terlalu memujiku!" ucap Nyonya Hana dengan tersipu.
"Di mana calon mempelainya, kamu sudah tidak sabar untuk menunggu hal paling membahagiakan tersebut."
"Tunggulah sebentar, Angel masih merias dirinya di lantai atas."
Tidak berlangsung lama, Chryst dan keluarganya mulai datang. Di sana Sean juga hadir bersama dengan Laluna yang mengiringi langkahnya ke arah Nyonya Hana berada.
__ADS_1
Sorot mata Nyonya Hana tidak berkedip ketika melihat kedatangan Laluna dan juga Sean.
"Bukankah itu Laluna si anak sia-lan?" ucap Nyonya Hana dengan bersungut-sungut.