
Apa jadinya jika seorang teman lama justru menjadi mantan dari orang yang sudah terikat janji sehidup semati dengan kita. Bukankah hal itu membuat rasa di hati kita semakin terusik akan kejadian tersebut? Begitulah yang sedang terjadi antara Sean, Laluna dan dokter Laura.
Dokter Laura tersenyum ketika melihat Sean begitu perhatian dengan istrinya saat ini. Di tambah lagi terlihat jika sang istri sedikit mengalami perubahan hormon akibat kehamilan.
"Silakan duduk, Nyonya dan Tuan," ucap dokter Laura dengan raut wajah santai.
Akan tetapi hal itu tidak berlaku dengan Laluna. Melihat respon dari suaminya membuat sebuah pertanyaan besar sedang bergelayut di dalam hati Laluna.
"Apa mereka mempunyai sebuah hubungan sebelumnya?"
"Kenapa aku merasa seperti orang bodoh dengan hal ini?"
Melihat ada hal yang tidak beres dengan situasi saat ini, Sean membatalkan rencana kunjungan periksanya hari ini.
"Maaf, istri saya tidak jadi saya periksa di sini. Maaf dokter, sepertinya saya salah tempat!"
Sean hendak berbalik dari hadapan dokter Laura. Sementara itu Laluna menahan tangan Sean agar tidak jadi pergi dari ruangan tersebut.
"Kenapa harus pergi, bukankah tadi kamu yang memaksa aku untuk periksa ya, Sayang?" tanya Laluna dengan nada mendayu-dayu.
__ADS_1
Kening Sean berkerut dengan sikap istrinya yang berubah lembut itu. Di sisi lain dokter Laura memaksakan dirinya untuk tersenyum ke arah pasiennya.
"Iya, Tuan, kenapa Anda justru terlihat tidak suka akan hal ini?"
Sean yang semula ketus kini berusaha sekuat hati agar tidak terpancing akan sikap dokter Laura kepadanya.
"Oh, iya. Tunggu sebentar, Sayang. Dokter di hadapan kamu saat ini adalah teman sekolah dulu."
"Akan tetapi karena sebuah hal akhirnya kami tidak saling komunikasi lagi," ucap dokter Laura mencoba ramah.
"Oh, kirain dokter ada hubungan spesial di balik layar selama saya tidak ada."
"Jangankan pengantin baru kena, orang yang lama pun kena."
"Sayang ...." panggil Sean dengan lembut.
Ia tahu jika hal ini terus berlanjut maka perang dunia akan pindah ke hadapannya saat ini. Maka dari itu mereka mencoba untuk membiarkan hal ini terjadi seperti rencana awal.
"Baiklah, lanjutkan pemeriksaan pada istri saya dan tolong jangan lupa bersikap profesional. Begini-begini kami juga orang yang mempunyai kedudukan di Rumah Sakit ini."
__ADS_1
Dokter Laura tersenyum melihat sikap arogant seorang Sean Alinskie tidak pernah luntur sama sekali. Maka dari itu dokter Laura tetap terpikat oleh aura Sean setiap waktu.
"Baiklah kalau begitu, mari ikuti saya Nyonya Sean Alinskie."
Dokter Laura mengajak Laluna untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
"Nyonya silakan berbaring di atas brankar, ya."
Laluna menuruti semua permintaan dokter. Lalu salah satu asisten dokter Laura membantu dalam mengoleskan sebuah gel ke atas perut Laluna.
"Maaf, bajunya diangkat sebentar ya, Nyonya."
"Silakan Suster."
Dalam sekejap pemeriksaan mulai dilakukan. Meskipun begitu saat sampai di rumah nanti mereka harus tetap menampung air seni dan memasukkan testpack ke dalamnya.
Hal itu dimaksudkan agar penelitian mereka tidak salah. Meskipun calon bayi sudah terlihat dari di dalam rahim, tetapi Laluna tetap menjalani setiap prosedur yang ada.
"Baiklah kalau begitu ini surat dari saya, dan untuk vitamin ibu hamil bisa ditebus di bagian apotek ya, Tuan."
__ADS_1
"Siap, terima kasih dokter."