MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)

MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)
Part 83. KELAHIRAN BABY NOE


__ADS_3

"Aduh ... awhh ... sakit ....” rintih Laluna ketika proses pembukaan yang dialaminya terus bertambah.


Setelah pemeriksaan beberapa jam yang lalu, ternyata Laluna sudah mengalami pembukaan pertama. Maka dari itu bukan hanya datang untuk chek up, melainkan datang untuk melahirkan.


 


Senep ... senep ... mules banget rasanya.


Sepertinya yang di dalam perut sudah ingin keluar, tetapi kata dokter tadi untuk pembukaan penuh masih membutuhkan waktu lama, di tambah lagi ini adalah anak pertama.


"Nggak, enggak ... aku yakin sebentar lagi pasti kamu akan segera bertemu Mama, sebentar ya Nak? Masa kamu tega liat Mama kesakitan lebih lama?" Nisa pun bermonolog dalam hatinya.


 


Sejak tadi pikirannya sudah tidak karuan, apalagi baru saja tetangga kamarnya sedang dalam proses melahirkan sekarang. Hal itu ia ketahui ketika tadi suster menyebutkan nama pasien yang mau melahirkan.


 


“Hua... udah kaya antri apaan aja sih?” batinnya.


Terkadang memang Laluna mengalihkan perhatiannya agar tidak terlalu panik, tetapi rasanya tetap saja. Apalagi ketika rasa mulesnya gak hilang-hilang. Sungguh rasanya luar biasa, tidak bisa didefinisikan ataupun digambarkan.


 


Slep slep senut-senut... perut Laluna kembali mulas-mulas. Kali ini ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia pun tak sengaja mengejan karena saking tidak kuatnya menahan mulas.


Ia bahkan lupa jika ia mengejan otomatis akan menambah proses pembukaan yang dialaminya. Benar saja sesaat kemudian, rasa mulasnya kian bertambah, sehingga ia pun semakin tidak tahan.


Seketika tangannya menekan tombol nurse call yang berada disamping brankarnya untuk memanggil tenaga medis yang berada tak jauh dari kamarnya.


Sekarang Laluna sudah pasrah karena sudah memencet tombol nurse call. Kalaupun mau dimaki-maki sama suster dan dokter Clara ia sudah masa bodoh, karena ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Dengan tergopoh-gopoh muncullah salah satu suster jaga yang berlari ke ruangannya.


 


“Permisi Bu, ada yang bisa dibantu?” sapanya dengan nafas masih belum beraturan.


 


Laluna pun menunjuk ke arah bawah, mulutnya sudah kelu untuk berkata lagi, karena sekarang konsentrasinya hanya fokus pada rasa sakit yang ia rasakan.


Seolah mengerti dengan kode yang diberikannua, bidan itu lalu mengechek jalan bayi. Disibakkan selimut yang menutupi sebagian perut Laluna bagian bawah.


 


“Hah, sudah hampir pembukaan penuh?” ucapnya tidak percaya.


"Sebentar Bu, saya panggil tenaga medis yang lainnya dulu."


 


Ia pun permisi untuk memanggil tenaga medis yang lainnya. Karena saat itu tenaga medis yang lain masih berada di ruangan sebelah untuk membantu pasien yang melahirkan juga. Satu tenaga medis yang lebih senior akhirnya masuk ke ruangan Laluna bersama dokter Clara.


Atas desakan Sean dan kekasihnya dokter Clara bertahan di Rumah Sakit. Katanya takut kalau tiba-tiba Laluna melahirkan mendadak.


 


“Bukannya pasien tadi masih mengalami pembukaan tiga?” ucapnya seolah tidak percaya dengan ucapan suster jaga.

__ADS_1


 


Dengan masih menggunakan sarung tangan medis ia pun segera menengok seberapa besar pembukaan yang dialami Nisa.


 


“Astaga, iya sudah hampir pembukaan penuh, segera panggil Tuan Sean Alinskie segera dan persiapkan semua peralatan untuk proses melahirkan, sekarang!”


 


“Ba-baik.”


 


Lalu beberapa tenaga medis yang lainnya mulai masuk ke ruangannya. Beberapa diantaranya membantu Laluna untuk membenarkan posisi tidurnya, sekaligus memberi perlak tambahan.


Suster yang lainnya memanggil Sean dari luar ruangan. Sean yang kaget sekaligus senang ahirnya segera berjalan cepat menuju kamar istrinya.


Sesampainya disana sudah ada beberapa tenaga medis yang siap untuk membantu proses kelahiran normal Laluna. Ia juga bersyukur ahirnya tibalah waktunya untuk menguji adrenalin kembali.


 


Ini proses pertama kalinya menemani Laluna melahirkan. Sean tidak kuasa melihat istrinya itu kesakitan. Ia pun seketika memberi kecupan di kening Laluna sembari membisikkan kata-kata penyemangat untuknya.


 


“Kamu bisa sayang,” bisiknya perlahan.


 


Laluna pun mengangguk. Ketika semua peralatan sudah siap dan pembukaan Laluna sudah penuh, semua tenaga medis sudah siap bekerja.


 


 


Laluna pun mengangguk, sedangkan kini Sean pun melirik ke arah jalan pembukaan bayi. Kini ia sudah berani melihatnya karena sekarang.


Sehingga saat itu ketika Laluna mengejan ia memperhatikan dengan seksama apa saja yang dialami istrinya.


 


“Bu Laluna ambil nafas perlahan dan keluarkan secara perlahan, ambil nafas lagi lalu keluarkan lagi perlahan dan pada hitungan ketiga mengejan yang panjang ya Bu, usahakan jangan sampai menutup mata.”


"Oh ya satu lagi, usahakan jangan tersendat-sendat saat mengejan, agar kepala bayi tidak tertahan di tengah-tengah jalan," ucap dokter Clara sambil tersenyum.


 


Laluna yang sudah paham akan maksud dokter Clara, akhirnya mulai mengikuti instruksi. Peluh di keningnya bercucuran tak tertahan lagi.


Tangan Sean terulur untuk mengusap peluh dengan tissue, sedangkan tangan lainnya tak pernah lepas dari menggenggam tangan Laluna.


 


Saat ia mengejan tangannya pun tak luput dari cengkeraman kuat Laluna. Ia tidak berteriak tetapi mengikuti arahan bidan meskipun ia tau pasti sakitnya luar biasa.


 

__ADS_1


“Eeghhhh  ... hhhh ... eeegghhh ... hhhhhh ... mmmm ... uhhh ... hosh ... hosh ....”


 


Laluma pun mengatur nafasnya yang terengah-engah, dan mulai mengejan lagi.


 


“Bagus Bu, terus-terus ... kepalanya sudah mulai kelihatan ... lagi ... ambil nafas dan mengejan lagi.”


 


“Arggghhhhh ... hhhh ....”


Sean yang melihatnya sedikit ngilu, kakinya tiba-tiba terasa lemas. Rasanya ia tidak kuat melihat perjuangan hidup dan mati istrinya untuk melahirkan buah hatinya.


Laluna yang sudah tidak kuat lagi, melirik suaminya yang merem melek disampingnya. Digenggamnya eret-erat tangan suaminya.


Sean membungkukkan badannya ke arahnya lalu membisikkan sebuah doa di telinga Laluna, sambil menggenggam erat tangan sang istri agar ia sedikit tenang dan kuat dalam mengejan nanti.


Laluna begitu menikmati perhatian dari suaminya kali ini. Sesaat ia memejamkan matanya, menguatkan batinnya jika kali ini persalinan pasti lancar.


"Bismillah ..."


Berkat dorongan dari suaminya, Laluna mulai mengejan lagi untuk terahir kalinya. Semua orang di ruangan itu sama-sama dalam keadaan ketegangan luar biasa, dan akhirnya suara tangis bayi yang sangat kencang memenuhi ruangan persalinan.


"Selamat Tuan dan Nyonya Alinskie, putra kalian sudah lahir."


Bayi yang masih berwarna merah itu diberi handuk lalu didekatkan pada tubuh Laluna untuk proses IMD. Sean tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih untuk perjuangan Laluna barusan. Begitu pula dengan Laluna yang bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk melahirkan dan melihat buah hatinya.


Bayi yang berwarna merah itu akhirnya segera dibersihkan lalu kembali diserahkan pada Sean untuk diberikan adzan dan iqamah. Baru setelahnya diberikan pada Laluna kembali untuk diberikan air susu ibu.


"Alhamdulillah, akhirnya Mama bisa berjuang untukmu, Sayang."


"Iya, terima kasih, Laluna sayang sudah berjuang sejauh ini bersamaku. Menerima semua kekuranganku dan mau melahirkan keturunan untukku," ucap Sean sambil berlinang air mata.


Mengingat perjuangan Laluna, Sean tidak kuasa menahan rasa bahagianya. Tidak lupa mereka segera menyematkan sebuah nama indah untuk calon penerus keluarga Alinskie.


"Bolehkah aku menyematkan nama indah untuk bayi kita?" tanya Sean lembut pada Laluna.


"Boleh."


"Selamat datang Baby Calisto Noe Daisuke Alinskie," ucap Sean sambil mengecup kening putranya.


"Indah banget sayang, apa artinya?"


"Artinya semoga kelak kamu bisa menjadi anak laki-laki yang suka menolong sesama."


"Panggilannya Noe, ya?" pinta Laluna.


Sean mengangguk. Ketika mendengar penerus keluarga Sean sudah lahir. Maka keluarganya berbondong-bondong untuk datang dan memberikan selamat. Kebahagiaan akhirnya terasa lengkap setelah kelahiran Baby Noe. Sejak saat itu Sean dan Laluna mulai hidup bahagia dengan pelengkap Baby Noe.


Akhirnya setelah sekian lama berjuang, cinta Laluna dan Sean menemukan kebahagiaannya. Meskipun banyak rintangan tetapi mereka tetap berjuang. Kelahiran Baby Noe adalah anugrah terindah di dalam pernikahan mereka.


...--°TAMAT°--...


Karena sudah happy ending, jangan lupa mampir ke novel Fany yang masih on going ya. Ditunggu jejak manisnya.

__ADS_1



__ADS_2