MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)

MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)
Part 19. SEBUAH RAHASIA BESAR


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Sean melupakan jika ada sesuatu hal yang harus dibahas dengan Laluna. Pekerjaan menumpuk membuat ia lupa dengan kekasihnya itu.


"Harus memulai dari mana aku bisa mengatakan hal ini pada Laluna?"


Ada sebuah rahasia besar yang sedang dipendam oleh Sean. Ia belum bisa mengatakan semuanya saat ini karena waktunya belum tepat.


Sean membolak-balikkan berkas yang ada di hadapannya. Namun, ia tetap saja tidak bisa fokus dan pikirannya tetap berkelana mencari cara yang tepat agar bisa bertemu dengan Laluna saat ini. Pikirannya menjadi gusar karena hal itu.


Sean berdiri dari tempat duduknya dan memandang hamparan gedung-gedung tinggi pencakar langit dari ruangan CEO yang berada di lantai tiga puluh. Ada sebuah kerinduan yang dirasakan saat ia merasa penat dengan beban pekerjaan yang terlampau tinggi.


"Kamu sedang apa saat ini, Lun?" ucapnya dalam hati.


Sean asyik memandang hamparan gedung pencakar langit tersebut, tiba-tiba saja ponsel Sean berdering, ia pun segera mengangkatnya.


"Hallo ...."


"Hallo, Sean ini aku, bisakah kita bertemu."


"Buat apa lagi kita ketemu, sudah cukup kau menjadi masalah di dalam hidupku."


"Dengarkan aku, semua ini tentang Laluna!"


Bukannya Laluna yang menelepon, justru yang menjadi sumber masalahnya adalah Angel.


"Katakan semuanya, aku tidak mempunyai banyak waktu untukmu!"


Seketika Sean menajamkan pendengarannya. Ia ingin tahu seberapa besar wanita itu tahu rahasia tentang masa lalu Laluna. Sean mendengarkan dengan sangat teliti setiap perkataan yang dilontarkan olehnya.


"Baik, terima kasih untuk informasinya, aku harap kamu tidak membuat sebuah kebohongan lagi saat ini."


"Aku bicara jujur, Sean. Tidak bisakah kau melihat di dalam mataku?"


Saat ini Sean tidak lagi merutuki kesibukannya lagi. Ia berpikir mungkin ini cara Tuhan untuk membuatnya lebih memilih waktu untuk mengungkap semuanya.


"Mungkin Tuhan ingin jika aku memastikannya lebih dulu. Andai kamu tahu bahwa kebenaran ini dikatakan olehnya, apa kamu cemburu, Luna?"


Terlalu banyak menerka membuat Sean seolah kehilangan nafsu makan. Satu buah pesan dari Laluna membuat Sean tersentil.


Message from My Wife ....


"Harusnya selagi kamu merencanakan masa depan, kamu juga harus ingat jika masa muda tidak bisa dinikmati dua kali, jadi hidup itu harus imbang."


Sean menyunggingkan senyumnya ketika membaca pesan dari Laluna.


"Ternyata kamu memang mengalihkan duniaku."

__ADS_1


Ketika mengingat Laluna membuat Sean seketika menekan nomor ponsel Laluna agar tersambung. Beruntung Laluna langsung mengangkat telepon dari Sean.


"Hallo, Sayang," sapa Sean.


"Hallo juga, ngapain telpon?"


"Kangen, boleh kita makan siang bareng?"


"Boleh, tetapi kamu harus jemput aku di kost."


"Asiap Nyonya Sean Alinskie."


"Dih, dasar!"


Meskipun berpura-pura arah tetapi hati Laluna berbunga-bunga ketika ia memanggilnya dengan Nyonya Sean Alinskie.


Tidak berselang lama setelah Sean menelpon, ia sudah berada di depan rumah Laluna, dengan segera Sean turun dari mobil dan mengetuk pintu.


"Selamat siang, ada paket!"


"Sebentar, Mas. Kayaknya Anda salah alama--"


Saat diketahui jika yang mengetuk pintu adalah Sean kekasihnya Laluna merasa gemas.


Saat Laluna hendak berbalik, tangan Sean meraihnya.


"Apakah kamu tahu aku malas kalau siang-siang gini harus keluar, panas tahu!" gerutu Sean.


Grep, Sean memeluk Laluna dari belakang, tentu saja Laluna berontak.


"Ish, apa-apaan ini!"


Bukannya melepas, ia justru mengeratkan pelukannya.


"Biarkan aku memeluk kamu sebentar, aku hanya ingin merasakan kenyamanan ketika bersama kamu. Ada saat aku merasa lelah dengan semua kegiatan yang super sibuk itu, aku sangat mencintaimu Nyonya Sean Alinskie."


"Maaf, karena aku tidak bisa membantumu dalam hal bisnis," ucap Laluna sambil memegang tangan Sean.


Laluna bisa merasakan jika ada sebuah masalah yang sedang dihadapi oleh Sean. Akan tetapi ia tidak berani menanyakannya. Lagi pula itu diluar kapasitasnya.


Kesibukan yang terlalu banyak, membuat Sean harus menyimpan rahasia ini sendirian. Namun suatu saat Sean berjanji jika ia akan membantu Laluna. Bagaimana pun kebahagiaan Laluna adalah prioritas.


"Sudah belum peluknya?" ucap Laluna mencoba membuang semua keraguan di dalam hatinya.


"Makasih Sayang, sudah membuat aku merasa tenang saat ini," ucap Sean dengan suara parau.

__ADS_1


"Sama-sama, Sayang."


Sean melepas tubuh Laluna dan membiarkan kekasihnya masuk ke dalam untuk mengambil tas. Padahal sebenarnya Laluna masih gemetaran, mencoba membuang semua gugup di dada, meksipun sebenarnya ia sangat menyukai hal itu.


Tidak berselang lama mereka berdua segera meninggalkan tempat kost, Laluna keduanya memilih untuk makan siang yang romantis di sebuah restoran yang cukup ternama.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu, Sayang."


Laluna menoleh ke arah Sean.


"Em, baik-baik saja, semuanya bahkan lancar. Minggu depan ada sebuah proyek besar yang sedang aku kerjakan bersama Jordy dan Tya," ucap Laluna dengan riang.


"Syukurlah, kalau begitu kita akan merayakannya."


"Siap, Sayang. Let's go."


Dunia berputar dengan indahnya ketika Laluna dan Sean berjalan beriringan menuju impian yang sama. Namun, mereka tidak tahu ada bahaya yang besar mengancam kebahagiaan mereka dan mungkin bisa memisahkan cinta di antara keduanya.


"Bahagiaku hanya jika bersamamu, Sayang."


"Begitu pula denganku, terima kasih sayang telah menerimaku dengan segala kekuranganku ini."


"Sama-sama, Sayang."


Pasangan itu saling bergandengan meski di dalam mobil. Salah satu tangan Sean digunakan untuk menyetir. Sementara itu getaran cinta dari Laluna tersalurkan dengan sepenuh hati pada Sean.


Cinta tulus dari seorang Laluna mampu membuat Sean sedikit merasakan kehangatan. Ia tidak arogan seperti dahulu.


Mungkin di mata para pebisnisnya Sean memang terkesan arogan, karena dunia bisnis itu begitu kejam tetapi tidak ketika seseorang telah menemukan cinta sejatinya maka batu karang pun bisa terkikis karena kekuatan cinta.


Sementara itu di sebuah rumah, seorang Nyonya besar sedang marah-marah kepada putrinya, karena ia berani membocorkan sebuah rahasia besar yang sudah dia pendam selama beberapa tahun. Kemarahannya membuat ia harus mengurung putrinya sendiri karena kesalahan yang telah diciptakan.


"Kamu berani menantang keputusan Mama?"


"Beraninya kamu mengatakan hal itu pada musuh, sungguh anak tidak tahu diuntung!"


Nyonya Hana mencengkeram kerah leher putrinya sendiri, amarahnya seolah mendidih ketika mengingat jika beberapa saat yang tadi ia bisa mendengarkan percakapan antara putrinya dengan sang musuh. Padahal ia telah mengubur rahasia itu selama berpuluh tahun. Berharap tidak akan ada orang lagi mengungkit masalah tersebut.


Namun, ternyata musuhnya berada di balik selimut. Angel putri yang selama ini dia manjakan ternyata telah berkhianat.


"Mama menyesal telah membesarkanmu, setelah ini jangan harap ada kebebasan lagi untukmu. Mulai saat ini kamu tidak boleh keluar tanpa izin dari mama!"


"Ma ... Mama jahat!" teriak Angel sambil terisak.


Ia bahkan memukul-mukul pintu kamarnya mencoba menyalurkan kemarahan dan kekecewaan yang telah bersarang di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2