
Merasa jika sikap Laluna sedikit berubah sepulang dari restoran membuat Sean memikirkan sesuatu.
"Kenapa lagi dengan Laluna? Apakah ada hal yang sedang disembunyikan dariku?"
Perasaan gusarnya membuat Sean tidak bisa berbuat banyak. Sebenarnya ada banyak hal yang harus ia perjuangkan saat ini, tetapi rupanya hanya sebuah alasan yang tidak bisa dikatakan oleh mulutnya sehingga ia hanya mampu berdiam diri atas semua yang telah terjadi.
"Daripada membiarkan masa lalu terus menggerogoti diriku, lebih baik segera meninggalkan tempat ini!" gumam Laluna mempercepat langkahnya.
"Tidak ada hal yang lebih indah daripada melihat senyuman darimu, sepertinya harus lebih banyak membuat kejutan dan menyelesaikan masalah ini tanpa harus melibatkan dirimu, Sayang."
Kedua pasangan romantis dan kocak itu rupanya saling memendam rasa, sehingga tidak ada yang bisa membuat keduanya berbicara satu sama lain. Keduanya justru semakin berdiam diri dan mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri.
Langkah cepat Laluna membuat Sean dengan segera mengikutinya. Meskipun Laluna melangkah dengan cepat bahkan terkesan setengah berlari, Sean tetap bisa mengejarnya.
Salah satu tangan Sean menggapai tangan Laluna hingga membuat Laluna menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Sean.
"Kamu kenapa? Sepertinya ada sesuatu yang dipikirkan bahkan membuatmu melamun?"
"Apakah kamu juga melihat kemana kamu melangkah? Tahukah kamu jika sedetik saja aku terlambat menyusulmu, sudah pasti aku akan kehilangan dirimu."
Kedua mata Laluna membola karena ia harus sadar jika dirinya di ujung jembatan. Hampir saja ia terjatuh ke bawah jika Sean tidak menyusulnya.
Laluna mengusap dadanya terlebih dahulu sebelum ia mengatakan kegundahan hatinya pada Sean. Sejenak ia menoleh ke arah calon suaminya itu.
"Aku seperti baru saja bertemu dengan seseorang, Sean," ucap Laluna sambil menunduk.
"Katakan kepadaku, siapa orangnya?"
Kebungkaman Laluna semakin membuat Sean kebingungan. Tanpa mau membuat kekasihnya tertekan Sean justru langsung mendekapnya dengan erat.
"Aku melihat sosok Ale berada di sekitarku?*
"Kamu jangan menakuti aku, Sayang? Mana mungkin ada Ale yang lain di sini?" tanya Sean dengan raut wajah penuh tanya.
Salah satu tangannya mengusap lembut rambut Laluna. Dekapan Sean sungguh membuat hati Laluna sedikit merasa tenang. Bagaimana pun saat ini Laluna hanya memiliki Sean seorang. Sehingga ketika Sean perhatian seperti ini sudah pasti membuat hatinya nyaman.
__ADS_1
Namun, melihat sikap Laluna yang tidak biasa membuat Sean justru semakin merasa was-was.
"Mungkin kah itu yang kamu temui itu rekan kerja kamu atau siapa gitu loh, biar aku nggak terlalu was-was. Begini-begini aku juga merasa takut jika kamu sampai kenapa-napa lagi."
Kejujuran Sean ternyata mampu menyentuh hati Laluna. Senyumnya terbit ketika Sean sangat peduli padanya.
"Akan tetapi saat ini aku sudah merasa agak baikan karenamu, Sayang."
Bagaimanapun Laluna pernah merasakan sebuah kejadian buruk yang tidak bisa dicerna oleh akal. Hal itu sampai terekam di dalam memory Laluna hingga saat ini. Namun, perlakuan lembut Sean nyatanya mampu membuat Laluna membaik.
Kejadian beberapa saat yang lalu memang sempat membuat Laluna sedikit merasakan trauma. Ditambah lagi hanya tinggal beberapa hari mereka akan menikah, tetapi justru ia mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Ale.
Dari hal itulah Laluna bisa belajar jika hidup tidak perlu bergantung kepada siapapun. Ia bisa tumbuh menjadi gadis yang sangat hebat dan pandai menyingkapi semua hal yang terjadi.
"Kamu adalah wanita hebatku, sampai kapanpun kamulah ratu di hatiku."
Sean sangat kagum dengan semua hal yang dimiliki Laluna. Hingga akhirnya Sean mantap melabuhkan hatinya pada Laluna. Sean sudah melepas pelukan pada Laluna. Saat ini justru ia sedang menatapnya dalam-dalam.
Laluna yang merasa jika sedari tadi terus diperhatikan oleh suaminya segera melambai-lambaikan tangannya ke arah Sean.
"Sepertinya dia salah makan obat? Bukankah dia yang melamun, kenapa justru menuduhku? Sudahlah wanita selalu benar, jadi anggap saja begitu."
"Bukankah ada banyak hal yang bisa kita lakukan setelah ini?" tanya Laluna kemudian.
"Iya, apakah kita tidak jadi pergi?"
"Tentu saja jadi. Ayo kita pergi!"
Ucapan Laluna bagaikan perintah oleh Sean. Sehingga salah sedikit Laluna berucap ia sudah tidak bisa menariknya kembali. Sean terlalu pintar dalam melakukan semua hal yang tidak dapat diprediksi olehnya.
"Apakah kau mengerti jika semua ini hanyalah sebuah bayangan. Jadi kamu tidak usah takut dengan hal yang akan terjadi di masa depan. Bukankah saat ini sudah ada kamu yang setiap saat selalu mendampingi langkahku?"
"Tentu, bahkan seumur hidup aku telah menyerahkan kepadamu. Ada banyak hal indah yang aku inginkan terjadi kepada kita di masa depan. Saat ini kita harus lebih fokus pada setiap perencanaan proyek yang akan kita ambil."
"Setuju!" seru Laluna dengan sangat bahagia.
__ADS_1
Setelah merasakan semuanya baik-baik saja dan memastikan tidak ada satu orang pun yang memperhatikan diner cinta di antara Sean dan Laluna, keduanya segera mengakhiri acara diner itu.
"Sudah kenyang, balik kamar, yuk!" ajak Sean dengan diiringi oleh sebuah kerlingan mata.
Laluna yang mendengar ajakan ke kamar langsung membuat perutnya bergejolak.
"Gi-la, mau ngapain lagi di kamar? Apakah belum cukup semua hal yang telah dilakukan olehnya semalam?"
Sean yang mengerti jika ucapan darinya disalah artikan oleh Laluna hanya bisa melakukan hal lain.
"Daripada kamu berpikiran yang tidak-tidak sebaiknya segera ikuti aku kembali ke kamar, sekarang!"
Dengan langkah pasrah Laluna mengerakkan kakinya agar bisa kembali ke kamar dengan suasana hati yang sudah baik. Meskipun begitu tidak mengurangi rasa penasaran di dalam hatinya.
Sean sengaja membuka pintu lebih dulu dan hal itu sukses mampu membuat degupan jantung di dalam tubuh Laluna menjadi tidak baik saat ini. Meskipun begitu ia sangat suka jika melihat wajah istrinya yang begitu cantik tiba-tiba sana memanyunkan bibirnya.
"Kenapa itu bibir pake dimonyong-monyongkan seperti itu?"
"Apa minta dicium lagi, nih?" tanya Sean sengaja mengerjai istrinya itu.
Sontak saja Laluna menyilangkan kedua tangannya dengan maksud menolak ucapan yang diberikan oleh suaminya. Bukannya marah, Sean justru mengecup kening Laluna dengan penuh cinta.
"Bagaimana pun, cinta ini hanya untukmu. Tidak akan ada wanita lain yang bisa menguasai hati ini lebih banyak darimu. I love you Laluna."
Ucapan manis dari Sean nyatanya mampu membuat hati Laluna semakin dilanda gelisah. Apalagi tidak sekali ini ia melakukan hal tersebut. Bahkan berulang kali, meskipun begitu ia tetap merasa bahagia dan dicintai sesungguhnya.
"Love you to my Hubby, Tuan Sean Alinskie yang tercinta."
Sean tersenyum dan semakin mendekap erat tubuh istrinya tersebut.
"Terima kasih Tuhan, karena telah mengirimkan makhluk Tuhan yang terbaik untukku."
......................
Sambil nunggu Up jangan lupa mampir ke sini
__ADS_1