
Saat asik menyantap cilok bumbu kacang, Laluna juga mengobrol pada Jo. Entah kenapa ia ingin mengenal lebih banyak tentang Sean dari asistennya tersebut. Hal itu ia lakukan karena Sean banyak sekali mengandung rahasia.
"Jo, mumpung Tuanmu tidak ada di sini boleh nggak kalau aku bertanya sesuatu hal kepadamu?"
Dengan mulut yang masih penuh dengan cilok, Jo mencoba menjawab pertanyaan dari nona mudanya tersebut.
"Silakan tanya saja, Nona. Pertanyaan apapun akan saya coba jawab dengan sepenuh hati."
"Baiklah kalau begitu. Jawab dengan jujur dan tidak ada yang boleh kamu sembunyikan dariku, janji!" ucap Laluna sambil menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Jo.
Tanpa berpikir lebih banyak lagi, Jo segera menyambut uluran tangan dari Laluna.
"Deal!" seru mereka secara bersamaan.
Tidak disangka dari kejauhan Ale mengamati gerak gerik Laluna dari kejauhan. Tampak sekali ia bahagia karena telah berhasil melihat wajah Laluna secara langsung.
"Apakah kamu tahu, jika Sean memiliki sebuah penyakit atau semacam alergi, gitu?"
Seketika Jo tersedak dengan makanan di hadapannya. Pertanyaan dari Laluna benar-benar menyudutkan dirinya. Di satu sisi, ia pernah berjanji kepada Sean untuk menyembunyikan penyakitnya tersebut. Di satu sisi, barusan ia berjanji kepada calon istri dari Tuannya.
"Aku harus mengatakannya atau tidak, ya?"
__ADS_1
"Kenapa kamu justru terdiam? Bukankah pertanyaanku hanya simple atau diantara kalian berdua memang ada yang disembunyikan?"
"Jadi begini, Nona. Memang benar Tuan Muda mempunyai alergi. Ia sebenarnya tidak boleh memakan makanan pedas apalagi dibarengi dengan kondisi makanan yang masih hangat, karena hal itu bisa memicu alergi yang berada di dalam tubuh Tuan Sean."
"Jadi waktu kapan hari aku mengajak Sean untuk makan hotspot itu artinya dia terkena alergi?"
"Memangnya apa yang Nona lihat waktu itu?" tanya Jo penasaran.
"Pada saat itu aku melihat di tangannya ada bercak merah, seperti ruam merah ketika kita gatal. Namun, saat Aku bertanya kepadanya ia mengalihkan pembicaraan."
"Jadi aku tidak bisa memaksa Sean untuk mengatakan hal yang sebenarnya."
"Betul, memang yang terjadi saat itu adalah sebuah kondisi dimana Tuan Sean sedang mengalami alergi. Sehingga muncul bercak merah di beberapa kulit yang berada di tubuhnya."
"Namun, setelah Tuan Sean mengantarkan nona muda pulang, ia langsung menghubungi dr. Richard untuk mengobati penyakit alerginya tersebut."
"Jadi malam itu ia langsung pergi ke rumah dokter Richard?"
Jo tampak mengangguk mengiyakan perkataan dari Laluna.
"Sebenarnya hal itu sudah dinetralisir oleh dokter Richard dengan memberikan ramuan herbal kepada tuan Sean. Agar sewaktu-waktu jika kondisi alerginya kambuh, hal itu tidak akan mempengaruhi kondisinya."
__ADS_1
"Hanya saja ternyata makanan yang dikonsumsi Tuan Sean malam itu memicu alergi di dalam tubuhnya."
"Meskipun ia sudah mengkonsumsi herbal agar tidak menjadi lebih parah dan mengurangi dampak dari alergi tersebut, nyatanya kondisi Tuan Sean malam itu sudah cukup parah.
"Hanya saja malam itu ia lupa membawa herbalnya, dan akhirnya ia mengunjungi rumah dokter Richard malam itu juga."
"Jadi penyakitnya kambuh itu hanya karena memakan makanan yang sama denganku?"
"Jujur, saya mengatakan iya."
Tampak sekali rawat wajah alami menjadi lebih murung karena perkataan dari Jo tersebut. dari kejauhan Ale yang melihat hal itu sedikit mengerutkan kening.
"Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan Kenapa raut wajah Laluna berubah-ubah?"
"Aku tidak boleh diam saja, aku harus menyelidiki hal ini. Mungkin hal itu bisa menjadi celah bagiku untuk masuk dan merusak hubungan antara Sean dan Laluna."
......................
Kenapa Ale tidak pernah menyerah dengan cinta terhadap Laluna? Akankah Laluna dan Sean bisa mempertahankan diri dan melewati semua ujian sebelum hari pernikahan mereka?"
Sambil nunggu up, jangan lupa mampir ke sini ya kakak, ditunggu.
__ADS_1