
"Katamu, Sean punya wanita simpanan?" tanya Leo pada Chryst.
"Iya, Kak. Secara tidak sengaja aku melihat mereka bersama beberapa hari yang lalu."
"Trus, apa hubungannya dengan rencana kita?"
"Kak, tak bisakah kau berpikir realistis. Bukankah Ayah tidak suka jika Sean kurang fokus dengan pekerjaannya?"
Merasa jika saudaranya tidak bisa membaca jalan pikirannya, Chryst segera berbicara kembali.
"Ehem, bukankah seorang wanita biasanya mengacaukan sebuah rencana? kenapa kita tidak memunculkan wanita itu dan mengenalkannya pada Ayah?"
"Terserah apa katamu, tetapi yang pasti aku kurang suka jika terlalu banyak rencana yang ujung-ujungnya, gagal. Kamu mengerti apa maksudku, bukan?"
"Iya," jawab Chryst dengan malas.
Ingin rasanya ia segera menyingkirkan kedua saudara laki-lakinya itu agar ia lebih mudah mendapatkan seluruh harta kekayaan Tuan John. Namun, kekuatan yang ia miliki belum terlalu kuat. Sehingga ia membutuhkan dukungan dari kakak sulungnya itu.
Sesuai dengan kesepakatan kemarin, para pemenang lomba diharapakan agar bisa datang ke perusahaan. Undangan resmi juga sudah dikirimkan melalui email Jordy.
"Lun, lihat ada undangan resmi yang dikirimkan kepadamu."
Luna yang sedang membuat sketsa segera mendekati Jordy untuk melihatnya.
"Eh, seriusan loh ini. Aku benar-benar diundang olehnya."
"Ya, serius lah. Kan kamu emang jadi juara pertama. Mungkin ini adalah kesempatan emas untukmu, Lun. Kapan lagi coba mendapatkan keberuntungan seperti ini."
Laluna mencoba memikirkan perkataan dari Bos-nya itu.
"Iya, deh. Aku kesana, tapi anterin, ya!"
"Nggak masalah kalau tentang itu," ucap keduan Bos-nya secara bersamaan.
Secara kebetulan Sean sedang melakukan rapat di sebuah hotel yang sama dengan Laluna. Kebiasaan Jordy dan Cici yang suka nongkrong memang selalu mengajak Laluna. Oleh karena itu ia bisa berada di dalam hotel yang sama dengan yang digunakan oleh Sean.
Secara tidak sengaja, ia melihat sosok Laluna lewat bersama dua rekannya. Jordy dan Cici memang memutuskan pulang setelah pekerjaan Laluna selesai. Ia saja masih menenteng laptop miliknya ketika lewat di hadapan Sean.
"Lun-lun?" ucapnya lirih.
Seketika terbesit keinginan jika ia ingin mengejar Laluna. Ia pun berinisiatif meminta ijin ke toilet sebentar.
"Jo, kamu handle rapat ini sebentar, aku mau ke toilet dulu!"
"Siap, Bos."
__ADS_1
Sean yang tidak mau kehilangan kesempatan bergegas mengejar Laluna dan meninggalkan rapat.
"Lun-lun ...." teriak Sean dari kejauhan.
Laluna yang mendengar namanya dipanggil segera menoleh, mencoba mencari siapa yang memanggilnya barusan. Seingatnya hanya satu orang yang selalu memanggil seperti itu.
Kedua matanya berkaca-kaca ketika melihat Mr. Arogant yang sangat ia rindukan. Begitu pula dengan Sean, ia juga merasakan rasa yang sama dengan Laluna. Sebuah rindu yang tak terucap tetapi membelenggu jiwa.
Tanpa ragu, Sean segera memeluk Laluna di depan umum. Anehnya Laluna tidak menolak, ia justru terlihat menikmati moment tersebut. Tangannya terulur untuk membalas pelukan Sean.
Namun, jiwa bar-bar Laluna muncul. Secara tidak sengaja ia menginjak kaki Sean yang masih terluka.
"Awwww," pekiknya.
"Eh, kenapa?" ucapnya kebingungan.
Merasa jika ada luka di kaki Sean, ia berjongkok dan segera memeriksa kaki Sean.
Kebetulan Sean tidak memakai sepatu dan perban yang membalutnya terlihat.
"Ini kenapa?"
Kaki Sean memang masih terlihat kemerahan. Tidak mendapatkan jawaban dan rasa khawatirnya muncul, Laluna menyuruh Sean duduk.
Seketika Sean menurut patuh. Berkebalikan dengan sikapnya sehari-hari. Biasanya ia akan menolak ataupun justru tidak mau diatur, tetapi dengan Laluna ia begitu penurut. Jo sampai mengucek matanya berkali-kali akan hal itu.
Luna tidak peduli dengan pandangan orang luar. Ia justru fokus pada luka di kaki Mr. Arogantnya.
Melihat ada seorang perempuan yang sangat perhatian pada Sean, membuat para wartawan segera mengekspose keromantisan mereka.
Paparazi memang selalu menguntit keberadaan Sean. Apalagi sebuah pertunjukkan seperti ini sangat jarang terjadi pada pebisnis muda yang lagi naik daun itu.
Terlalu fokus dengan wajah Laluna, Sean tidak menyadari jika ada yang mengambil gambarnya dari kejauhan. Asisten Sean yang panik segera menelpon bodyguard untuk melindungi Bosnya.
"Segera datang ke hotel X dan lindungi Pak Bos!"
Tidak begitu lama, beberapa bodyguard sudah mengepung mereka. Jordy dan Cici ketakutan saat melihat barisan body guard yang mengelilinginya itu.
Namun dengan acuhnya, Sean tidak perduli. Sementara itu Tia dan Jordy hanya bisa melongo dengan tontonan gratis kemesraan mereka dan pengawalan khusus yang terjadi.
"Si-siapa mereka?" tanya Laluna ketakutan.
Sean hanya tersenyum. Hanya dengan satu jentikan jari, barisan body guard itu membuka jalan untuknya.
"Kita pergi, yuk!"
__ADS_1
"Ha-ah, kemana? Kaki kamu masih sakit!"
"Nggak apa-apa, ikut aja."
Sean menoleh pada Jordy dan Cici.
"Mbak, Mas, pinjam Laluna sebentar, ya!"
Seketika kedua pasangan bucin itu mengangguk bersamaan.
"Bawa aja, Pak, eh Mas!"
Laluna yang belum mendapatkan kesadarannya penuh hanya mengikuti langkah kaki Sean. Anehnya ia menjadi penurut dan tidak banyak berontak seperti kebiasaannya yang bar-bar.
Sean mengajak Laluna masuk ke dalam mobil mewahnya. Seketika Laluna tersadar dengan apa yang terjadi.
"Ini mobil siapa, aku takut!" cicit Laluna.
Sean meraih kedua tangan Laluna dan mengecupnya.
"Nggak usah bingung, ini mobilku dan sekarang ini kamu milikku!"
"Ha-ah!"
Sontak saja Laluna mendorong tubuh Sean hingga menyentuh pintu. Wajar jika respon Laluna seperti itu, apalagi Sean yang biasanya ketus dan sombong tiba-tiba menjadi sosok romantis seperti perlakuan Jordy pada Cici.
"Kok di dorong, sih! Memangnya kamu tidak merindukan aku!"
"Dih, pede akut! Siapa juga yang rindu kamu!"
Untuk menutupi rasa malunya, Laluna justru membuang muka, alhasil hal itu ketahuan oleh Sean.
"Nggak rindu kok mukanya merah, Bukannya tadi kamu membalas pelukan dariku! Kalau rindu jujur aja napa, sih?"
"Ish, ish, udah dibilang nggak rindu ya nggak rindu! Maksa banget jadi orang!"
Seketika Sean menarik tangan Laluna hingga membuatnya terjatuh ke arah Sean. Dalam sekejap saja tubuh Laluna berada dalam pelukan Sean. Tatapan mata keduanya saling bertemu satu sama lain.
"Aku sayang sama kamu, Laluna, tidak bisakah kau melihatnya dalam sorot mataku?" ucap Sean dengan lembut.
Kejujuran Sean membuat jantung Laluna hampir copot. Ia bergetar terlalu cepat hingga membuat pasukan oksigen di dalam mobil menjadi menipis. Apalagi secara perlahan Sean mendekatkan wajahnya ke arah wajah Laluna.
Hembusan nafas memburu dari Sean sampai bisa ia rasakan. Entah apa yang hendak dilakukan oleh Sean, tetapi hal itu berhasil membuat jantung Laluna hendak melompat keluar karena terlalu gugup. Sean tidak peduli, dan meneruskan apa yang ingin ia lakukan.
Rasa ketakutan yang berlebih membuat Laluna memejamkan mata. Namun sentuhan lembut dari bibir Sean membuatnya pasrah dan menikmati setiap luma*** yang tercipta dari keduanya.
__ADS_1