MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)

MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)
Part 33. SALAH


__ADS_3

Akhirnya Sean dan Laluna segera meeting untuk membahas proyek kerja sama yang akan mereka jalin. Ternyata Laluna bukan menjadi karyawan di sana, melainkan sebagai mitra atau kolega bisnis dari Sean.


Di dalam urusan bisnis, Laluna tidak mau ada urusan pribadi di dalamnya. Mereka sepakat mengabaikan hubungan mereka dan lebih fokus pada kerjaan yang berada di depannya.


"Di balik semua yang telah kita lewati, aku sangat bersyukur karena kita telah dipertemukan kembali," ucap Sean sambil melihat ke arah proyektor.


Laluna mempresentasikan semua ide yang sudah tertulis di dalam note book-nya. Untuk gambar sketsa miliknya langsung dipresentasikan di layar proyektor.


Beruntung penyampaian Laluna terlihat lugas sehingga mudah dipahami oleh semua anggota meeting. Begitu pula dengan kekaguman Sean terhadap Laluna.


"Aku tidak menyangka jika setelah semua kesulitan yang telah aku lalui, masih ada pelangi setelah hujan. Setidaknya ada sesuatu yang aku banggakan ketika ibu melihatku dari surga."


Tidak terasa air mata Laluna hampir luruh. Sekuat tenaga ia menahannya agar tidak sampai Sean melihatnya. Sejenak Laluna menoleh ke arah Sean sambil tersenyum.


"Terima kasih telah ada disisiku selama ini, Sean. Aku berharap semuanya akan lebih indah setelah ini. Aamiin."


Begitulah arti dari tatapan mata Laluna kepada Sean. Begitu lembut dan penuh rasa cinta.


Semua hadirin meeting pagi itu menyimak dengan baik semua yang dipresentasikan Laluna, hingga beberapa saat kemudian Sean mengemukakan pendapatnya. Beruntung Laluna bisa menerima masukan dari Sean dan dari beberapa karyawan yang lain.


Satu setengah jam kemudian, meeting dinyatakan selesai. Karena ini sudah diluar jam kerja, maka Laluna segera berpamitan akan tetapi rupanya Sean menahannya. Beberapa karyawan sudah keluar dari ruang rapat. Kini hanya tinggal Sean, Laluna, Tya, Jordy dan Jo.


"Bagaimana kalau kita sekalian makan siang?" ucap Sean ketika melihat Laluna hendak pergi.


Seketika Laluna menoleh dan memasang wajah masam.


"Nggak mau, salah siapa tadi malam nggak pulang!"


"Ups."


Laluna reflek menutup mulutnya karena keceplosan mengungkapkan isi hatinya. sementara yang lainnya pura-pura tidak mendengar apa yang diucapkan Laluna dan lebih memilih pergi.


"Maaf, Sayang," cicit Sean.


Sean mengejar Laluna. Sementara ketiga orang lainnya memilih untuk keluar dari ruangan meeting terlebih dahulu dan tidak mau mengganggu keromantisan mereka.


"Sepertinya aku masih memiliki janji temu dengan teman lama. Kalau kau tidak keberatan aku pulang lebih dulu ya, Luna."


Jordy menoleh ke arah Sean.


"Apakah aku boleh merepotkan dirimu untuk mengantar Laluna pulang setelah ini?"

__ADS_1


"Tentu saja boleh, kenapa tidak."


"Baik, kalau begitu saya pamit."


"Bye, Luna."


Laluna seketika membeku. Hanya beberapa waktu setelah itu Sean kemudian mendekatinya.


Menarik tubuhnya agar ia jatuh ke dalam pelukan Sean.


Sejenak, keadaan menjadi hening seketika. Lalu setelahnya menjadi kikuk. Tiba-tiba amarah Laluna hilang. Berganti rasa gugup yang luar biasa darinya. Sean mencondongkan wajahnya ke arah Laluna.


"Bagaimana? Apakah kau masih marah padaku?"


Sambil membuang muka Laluna menjawab pertanyaan dari Sean.


"Hm, sepertinya kamu sudah tahu akan jawaban dariku, jadi kamu tidak perlu menanyakannya lagi padaku."


"Baiklah kalau begitu bersiaplah agar kamu semakin tahu bagaimana caraku untuk membuatmu mengatakan iya," ucap Sean sambil mendorong tubuh Laluna hingga ke tembok.


Sean mengukung tubuh Laluna sejenak. Belum sempat Sean melancarkan aksinya, Laluna lebih dulu melihat bekas luka di tubuh Sean. Dengan segera ia memeriksanya karena khawatir.


Sean terdiam, ditatapnya Laluna dengan lembut.


Dari tatapan Laluna, Sean bisa mengerti jika kekasihnya itu begitu mengkhawatirkan dirinya.


Akan tetapi Sean tidak mau jujur karena jika Laluna tahu akan alergi yang ia derita, sudah pasti Laluna akan semakin menyalahkan diri sendiri karena menganggap tidak becus menjaga Sean.


"Kenapa? Apakah aku benar-benar tidak boleh tahu akan hal ini?" tanya Laluna seraya memohon.


Sebenarnya Laluna paling anti untuk memohon, bahkan ia lebih nyaman dengan sikapnya yang dulu. Sosok tegas dengan segala kelebihan.


Kedua mata Laluna sudah berkaca-kaca, maka dari itu ia tidak mau sesuatu hal terjadi secara berlebihan di waktu yang salah. Sean segera mendekap Laluna.


"Aku sudah sembuh, maaf ... karena tiba-tiba waktu itu kondisiku drop, maka semalaman aku langsung dirawat di rumah temanku yang berprofesi sebagai dokter. Tentu aku tidak mau membuat kamu khawatir, maka aku menyembunyikan hal ini."


Laluna membalas pelukan dari Sean sambil menangis.


"Kamu jahat, Sean. Kamu jahat ...."


Laluna tampak memukul-mukul dada Sean, melampiaskan amarah di hatinya. Seberapa amarah yang bersarang di dalam hati tidak akan mampu membuat kekhawatiran Laluna berkurang.

__ADS_1


"Kamu harus tahu jika aku menjadi kuat seperti ini karena kamu. Aku tidak mempunyai siapapun lagi. Semua terlihat berbeda dan luka itu belum sepenuhnya sembuh. Aku mohon jangan tinggalkan aku, Sean."


"Tidak akan pernah ada kata pisah di antara kita. Aku sangat bersyukur bisa bertemu kembali denganmu, Laluna."


Setelah tahu jika Sean adalah pangeran berkuda putih di masa kecilnya, Laluna sangat bersyukur.


Sean mengusap lembut kepala Laluna.


"Bagaimana aku bisa melepasmu jika semakin hari aku semakin mencintaimu. Aku berharap selama masih bernafas, aku selalu ada bersamamu."


"Terima kasih, Sean Alinskie."


Laluna semakin membenamkan dirinya di dalam pelukan Sean. Siang itu, di ruang meeting Geneva Group, kedua insan itu saling mengikat janji.


Sementara itu di Kediaman Han, Angel sudah mempersiapkan diri untuk mengambil kuliah di luar negeri. Kegagalan dalam acara pertunangan dengan Chryst membuat ia tidak mempunyai muka lagi di hadapan ayah dan juga para sahabatnya.


"Aku tidak bisa membiarkan diriku tinggal lebih lama di sini. Ibu sudah berada di dalam penjara bersama Chryst. Masih untung aku tidak ikut tertangkap dengan mereka."


"Sebaiknya aku segera pergi."


Angel kembali melanjutkan langkahnya ke lantai bawah. Di sana ada Tuan Han yang sedang membaca koran sambil minum teh sore itu. Angel sebenarnya tidak rela meninggalkan semua fasilitas mewah dari ayahnya.


Akan tetapi ia juga bukanlah saudara tiri yang gila harta. Maka dari itu Angel kembali memantapkan keinginan hatinya. Ditatapnya kedua mata tua itu. Sementara itu Tuan Han masih mengulas senyum untuk putrinya itu.


"Pa, aku sudah siap untuk mengambil kuliah di London!" ucap Angel sambil membawa sebuah koper di hadapannya.


Tentu saja Tuan Han merasa terkejut dengan keputusan putrinya itu.


"Kenapa mendadak, apakah tidak bisa ditunda semester depan?"


Angel mengeleng.


"Bagaimana ini? Kenapa Papa merasa kamu ingin menjauh dari Papa?"


Angel menengadahkan wajahnya ke arah Tuan Han.


"Maaf, aku tidak bisa, Pa. Aku sudah tidak mempunyai muka di sini lagi."


"Ta-tapi, apakah kamu tega meninggalkan Papa?"


"Maaf ...."

__ADS_1


__ADS_2