
Ternyata Ale benar-benar melakukan aksinya. Diam-diam ia menyelinap masuk ke dalam area apartemen Sean. Beruntung situasi di sana sedikit lengang, sehingga memudahkan langkahnya. Apalagi saat ini merupakan jam untuk jam istirahat.
"Situasi aja mendukung, gimana gue nggak niat buat culik elo!"
Senyuman Ale tampak menghiasi wajah Asianya. Namun, sayang kelakuannya minus, sehingga ia tidak mendapatkan cinta dari Laluna. Jika saja Ale bisa menggunakan kepintarannya sudah pasti ia bisa dekat dengan Laluna tanpa harus menyakitinya.
Kebetulan para bodyguard yang biasanya menjaga pintu kamar Laluna kini tidak ada di tempat. Sehingga memudahkan Ale untuk bergerak.
Laluna yang baru saja sampai di apartemen lupa tidak mengunci pintu. Ia keburu masuk ke dalam toilet karena sudah merasa kebelet buang air kecil.
"Kamu pasti tidak akan bisa lepas dariku setelah ini, Luna!" gumam Ale.
Dengan langkah mengendap-endap, kini ia sudah berdiri di depan sebuah kamar.
"Mungkin ini kamar Laluna, sebaiknya aku segera masuk!"
Tidak berapa lama kemudian, ia segera masuk ke dalam kamar. Akan tetapi ia tidak dapat menemukan Laluna. Di sisi lain pendengaran Laluna sangat tajam, ia menyadari jika ada orang yang masuk ke kamarnya.
Meskipun di dalam kamar mandi, Laluna kini sudah bersiap siaga. Segala kemungkinan bisa terjadi apalagi kini ia seorang diri.
"Siapa yang masuk? Bukankah aku sudah mengunci pintu?" gumam Laluna dari balik pintu.
Sejenak Laluna memukul kepalanya. "Astaga aku lupa tidak mengunci pintu!"
Mendengar suara dari arah kamar mandi, Ale melangkahkan kakinya ke sana. Laluna yang menempelkan tubuhnya pada daun pintu terkejut ketika Ale mendorong pintunya dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Suara dentuman yang besar hingga membuat Laluna hampir jatuh ke dalam bathub. Saat lalu landak berbalik ternyata Ali sudah bersiap untuk membekap mulut Laluna dan memberinya bius.
Perlawanan yang terlambat membuat Laluna dengan mudah dapat dilumpuhkan oleh Ale. Saat melihat Laluna yang sudah tidak berdaya akhirnya Ale menggendong tubuh Laluna dan bergegas untuk masuk ke dalam kamar yang tidak jauh dari apartemen Sean.
"Huft ...."
Terdengar helaan nafas yang berat dari Ale.
"Heran gue, cuma buat untuk dekat dengan lo aja gue harus ngelakuin hal gila seperti ini!"
Ditatapnya wajah Laluna yang menurutnya sangat manis itu. Tiba-tiba saja tangannya terulur untuk membelai pipinya.
"Lembut, dan cantik."
"Gue rindu sikap bar-bar kamu yang dulu, Lun!"
Kepanikan terjadi ketika para bodyguard kembali ke apartemen Sean.
"Gawat! Tidak biasanya pintu itu terbuka.
Saat melihat pintu rumahnya terbuka membuat mereka segera memeriksa kondisi di dalam.
"Tidak ada siapapun di dalam. Bukankah tadi Nona Muda baru saja sampai?"
Merasa ada yang tidak beres, salah satu diantaranya segera menelpon Sean.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Sean dengan wajah masih mengarah ke arah laptop di hadapannya.
"Maaf, Tuan. Nona Muda hilang!"
Sontak Sean berdiri dari tempat duduknya. "Apa katamu!"
Gigi Sean gemertak karena menahan amarah. Tidak bisa melihat Laluna dalam beberapa hari saja sudah pasti akan membuatnya tidak berdaya.
Setelah mendengarkan penjelasan cukup lama dari anak buahnya, Sean segera mencari keberadaan Laluna. Seketika ia teringat jika ia memasang GPS pada tubuh Laluna tanpa ia sadari.
Sean segera meraih jaket miliknya. Ketika melihat putranya hendak pergi membuat Tuan John segera mendekatinya.
"Mau kemana kau!"
Sontak saja Sean menoleh ke arah ayahnya, "Mau pergi menyelamatkan Laluna."
"Tidak bisa, Sean. Kau tidak boleh pergi ke mana-mana tanpa ijinku."
......................
Apakah Sean akan menemukan Laluna dan Ale?"
Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini.
__ADS_1