
Ketika kedua insan sedang dimabuk api asmara, bahkan bumi bergoncang pun tidak akan mempengaruhi mereka. Ada saja keromantisan ketika mereka bersama. Hanya ada kebahagiaan yang memenuhi rongga dada Laluna dan Sean.
Jo merasa menyesal karena mengikuti mereka berdua pergi liburan. Ia bagaikan seorang nyamuk yang menjadi penonton ketika kemesraan terjalin diantara keduanya.
"Asem, gue cuman dijadikan nyamuk doang! Tahu gini gue ajak si Eneng biar ke sini, 'kan biar bisa bermesraan juga kayak Si Bos!" rutuknya sambil mengigit sedotan air kelapa miliknya.
Meskipun Jo diajak liburan, tetapi hatinya menjerit karena ia hanya menjadi penonton ketika kemesraan Laluna dan Sean yang dipertontonkan sejak tadi.
Keduanya juga tidak merasa risih ketika Jo memandangnya dari kejauhan. Justru Sean ingin memperlihatkan jika ia benar-benar mencintai Laluna.
"Iya, aku tahu jika Bos sangat cinta pada Nona Laluna, tapi nggak kayak gini juga keles! Dasar Bos bengek!"
Sementara itu Laluna sedang asyik mengobrol dengan Sean.
"Sean, kamu tahu nggak, jika kamu adalah hadiah terbaik yang dikirim Tuhan untukku, aku tahu jika semua ini memang tidak mudah, tetapi aku cukup bahagia ketika tahu aku bisa memilikimu."
"Begitu pula denganku, aku sangat beruntung bertemu denganmu, Luna. Entah seperti apa hidupku jika waktu itu bukan kamu yang menolongku."
Laluna mengangguk setuju. Bagaimana pun kejadian unik saat mereka bertemu membuat moment indah tercipta sepanjang waktu. Sean menarik tubuh Laluna agar lebih merapat ke arahnya. Laluna yang sudah merasa nyaman seketika merebahkan kepalanya ke pundak Sean.
Mereka menikmati senja sore itu dengan sangat romantis. Meskipun hanya berpegangan tangan dan mengungkapkan isi hati keduanya, tidak membuat kebahagiaan Sean atau Laluna berkurang.
"Terima kasih karena kamu tulis mencintaiku, Mr. Arogant-mu yang manis."
"Sama-sama Lun-Lun ku tersayang."
Keduanya tergelak karena panggilan unik yang tersemat di dalam nama mereka. Merasa ada yang aneh, seketika Sean memandang Laluna.
"Apakah kamu mendengar bunyi yang aneh barusan?"
Laluna mengangguk, ternyata ketika keduanya menoleh terlihat jika Jo berdiri sambil mengigit sedotan.
"Pak Bos laper! Apa orang pacaran itu bisa nahan lapar, ya? Kok sedari tadi aku lihat kalian nggak makan sama sekali."
Laluna tersenyum dan menyenggol bahu Jo.
"Aku memang tidak lapar Pak Jo, hanya saja karena aku sayang kamu, yuk kita makan!"
Saat hendak melangkah, Sean sengaja menarik tangan Laluna hingga ia jatuh dalam pelukan Sean.
__ADS_1
"Aarghhhh! Kamu apa-apaan sih, Sean. Sakit tahu!"
"Coba kamu ulangi ucapan kamu ke Jo tadi!" ucap Sean dengan nada serius.
Laluna justru bingung, karena menurutnya tidak ada kata-katanya yang menyinggung atau salah.
"Memangnya apa yang aku katakan tadi?"
Seketika Sean justru merapatkan tubuhnya dan mencium Laluna di depan Jo.
"Astaga, lagi-lagi mereka pamer kebucinan, Tuhan tolonglah hambamu ini!"
Mau tidak mau, Jo hanya bisa berbalik agar tidak mupeng dengan kejadian di belakang itu.
Krik krik krik
Dunia seolah terhenti ketika Sean mencium bibirnya. Benda kenyal itu selalu mampu membuat Laluna melayang dan merasa nyaman. Ia bisa merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama.
"Kamu tidak boleh sayang pada orang lain kecuali aku, termasuk pada Jo juga nggak boleh!" tegas Sean pada Laluna.
"Kapan aku bilang sayang sama Jo. Bukankah rasa sayangku hanya untuk kamu seorang," ucap Laluna sambil malu-malu.
Merasa jika Laluna semakin menggemaskan. Sean berinsiatif untuk menggendong Laluna.
Beberapa hari kemudian.
Sudah beberapa hari ini Laluna sering lembur di kantor Tya dan Jordy. Ia bahkan menjadi pulang malam karena pekerjaan event yang mereka ambil.
"Untung saja aku masih ambil cuti kuliah, kalau tidak sudah pasti aku akan keteteran dengan tugas pendamping ini."
Laluna berjalan dengan riang, meksipun banyak pekerjaan tetapi ia masih menjalin komunikasi yang baik dengan Sean. Setidaknya hanya dengan begitu Laluna merasa bahagia karena ia bisa bersama dengan Sean.
Tya dan Jordy memang tidak mempekerjakan banyak orang. Hanya tim inti dan Laluna yang menghuni kantor mereka. Sehingga itu akan lebih memangkas proses produksi dan memperbanyak uang yang masuk ke dalam kantong ketiganya.
"Huft, lelahnya ...."
Untuk sampai di tempat kost yang baru, Laluna menempuh perjalanannya dengan berjalan kaki. Ia sama sekali tidak pernah mengeluh tentang apapun. Segala cobaan hidup dilaluinya dengan lebih keyakinan.
"Tolong ... tolong .... tas saya dirampok!" teriak Angel bersimpuh di lantai taman.
__ADS_1
Laluna yang mendengar hal itu segera mencari sumber suara. Beberapa meter dari tempat ia berdiri, ia bisa melihat ada seorang wanita yang terduduk di lantai dan dikelilingi oleh para preman.
"Bukankah itu Angel?" tanya Laluna di dalam hati.
Melihat saudara tirinya dalam bahaya, Laluna tidak tinggal diam. Meskipun ia tidak bisa beladiri, Laluna masih bisa menghajar preman-preman itu.
"Berani kalian ganggu saudara gue, bakal gue bikin kalian mam-pus!"
Sekuat tenaga Laluna menghajar mereka. Ia hanya menggunakan beberapa barang yang berada di taman. Beruntung mereka segera kabur.
Sementara itu Angel hanya terdiam ketika ia melihat Laluna menghajar para preman. Dari ejadian membuat sudut pandang Angel terhadap Laluna berubah.
Laluna menoleh ke arah Angel, "Kamu nggak apa-apa, 'kan?"
Angel menggeleng. Laluna membantu Angel berdiri. Seketika Angel membersihkan tubuhnya.
"Ya, sudah kalau kamu tidak apa-apa, aku pamit, ya."
Laluna menepuk bahu Angel lalu pergi. Angel hanya mengangguk tanpa mengucap apapun pada Laluna.
"Apa itu benar Laluna? Kenapa ia justru membantuku?"
"Sudahlah, lagipula semua sudah berlalu. Sebaiknya aku segera pergi."
Angel yang mempunyai gengsi tinggi tidak langsung mengatakan ucapan terima kasihnya pada Laluna. Meskipun begitu Angel berjanji suatu saat akan membantu Laluna.
"Makasih Lun, maaf gue nggak bisa mengatakannya secara langsung padamu. Tapi aku janji, suatu saat aku akan membantumu."
Setelah semuanya selesai, Angel bergegas pulang. Beruntung para preman tadi tidak mengejarnya. Tidak berapa lama kemudian Angel sudah sampai di rumah.
Kebetulan ia berpapasan dengan ibunya, Nyonya Han.
"Kamu kenapa Angel, pakaian kamu kotor sekali?"
"Nggak usah pikirin Angel, pikir aja urusan Mama sama Chryst."
"Kamu kok bicara begitu, apa kalian bertengkar?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari ibunya, Angel justru meninggalkan di bawah. Ia segera menghempaskan tubuhnya yang letih di atas tempat tidur.
__ADS_1
Bayangan Laluna menghajar para preman tadi masih begitu terasa. Hatinya mengatakan jika selama ini ia begitu tertipu dengan semua kebohongan yang diciptakan oleh ibunya sendiri.
"Apa benar jika Laluna anak haram? Tapi kenapa ia sama sekali tidak pernah menampakkan kebencian kepadaku. Justru ia rela membantuku tadi?"