
"Bukannya aku merasa tidak suka dengan hal itu, tetapi bisa tidak kamu memakai jubah mandi yang aku persiapkan?"
"Tetapi aku nyamannya pakai yang ini, Sayang. Kenapa pula kita mempermasalahkan hal-hal yang sepele. Bukankah ada hal lain lagi yang harus kita persiapkan setelah ini?"
"Memangnya hal apakah itu?"
Sean mulai mendekati Laluna dengan langkah panjangnya. Tentu saja detak jantung Laluna berdetak lebih kencang akibat sikap Sean yang terlalu mendominasi.
Kedua tangannya memegang perahu lalu menatap istrinya tersebut dengan dalam-dalam.
"Mulai saat ini aku mau kamu terbuka tentang semua hal kepadaku. Selalu merayakan hal-hal yang baik secara bersama-sama."
"Oh ya, satu hal lagi. Untuk penyemangatku setiap hari saat berangkat bekerja. Aku boleh nggak meminta satu hal darimu?"
"Memangnya apa yang kau minta dariku?"
"Bukan sebuah hal yang berat, sih. Cuman kamu harus melakukan hal itu dengan ikhlas."
Ucapan Sean yang ambigu membuat Laluna semakin pusing dengan kata-kata yang diucapkan.
"Bisa nggak mengatakan hal itu nggak usah berbelit-belit langsung pada intinya, gitu?"
Sean terkekeh karena ucapan protes dari istrinya tersebut. Salah satu jari telunjuk Sean menyentuh hidung Laluna.
"Oke, aku akan mengatakannya langsung kepadamu dan aku berharap tidak ada rasa protes lagi terhadapku."
__ADS_1
Sean dampak melihat ke arah dinding di belakang Laluna, lalu sesaat kemudian mulai menatap kembali ke wajah Laluna yang semakin manis. Tepat di telinga sebelah kiri milik Laluna, Sean membisikkan sebuah kata.
"Beri satu ciuman setiap hari sebagai penyemangatku untuk bekerja," ucapkan Sean dengan senyum mengembang.
Sikap Laluna yang malu-malu hanya bisa ditunjukkan dengan menggigit kecil bibirnya. Sebenarnya Laluna sangat suka jika saya meminta hal itu. Akan tetapi jika yang memulainya adalah dirinya sudah pasti hal itu akan menjadi masalah yang besar bagi Laluna.
"Kok diem? Memangnya permintaanku sangat berat, ya?"
"Harusnya kamu tidak perlu mengatakan hal itu karena sudah pasti aku akan memberikannya, tanpa kamu minta!" ucap Laluna dengan malu-malu.
"Sungguh? Kamu tidak mempermainkan aku, bukan?" tanya Sean memastikan.
Bagaimanapun Sean hanyalah manusia biasa. Terkadang ia juga menginginkan hal-hal yang bersifat romantis. Meskipun hal itu yang memulainya adalah istrinya terlebih dahulu Sean tidak akan keberatan.
Tidak mungkin Laluna membiarkan suaminya melihat dirinya yang tersipu malu akibat perbuatannya barusan.
"Nyebelin, masa iya suruh cium-cium di pagi hari. Padahal belum mandi!" ucapnya sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.
Namun, kelakuan Sean tidak berhenti disitu, karena ia masih saja mengerjai istrinya dengan hal-hal romantis yang lainnya. Tanpa mereka sadari keduanya semakin memahami suatu sama lain dan saling terikat.
Di sela-sela acara sarapan paginya, Sean sempat mengajak Laluna debat pendapat.
"Sayang, kamu tahu nggak definisi cinta yang sesungguhnya?"
Laluna tampak mengetuk-ngetukan jarinya di pipi. Lalu kemudian mulai mengutarakan pendapatnya.
__ADS_1
"Cinta itu adalah sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata tetapi bisa dirasakan oleh hati."
Sean menggeleng sambil bersedekap dada. Salah satu tangannya bahkan mengisyaratkan jika jawaban yang diberikan Laluna belum sepenuhnya benar.
"Kok gitu?"
"Cinta itu datang karena terbiasa bersama," ucap Sean Alinskie dengan wajah datarnya.
"Bukan!" bentak Laluna yang tidak mau kalah.
"Cinta itu bisa tumbuh karena kita bisa menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan," ucap Laluna dengan senyuman manisnya.
Sean beranjak dari tempat duduknya dan berdiri di belakang tubuh Laluna.
"Begitulah arti cinta yang aku dapatkan ketika bersamamu, Sayang," bisik Sean sambil mencium pipi Laluna lalu mendekapnya dengan erat.
Laluna tersipu akan perlakuan manis yang dia dapatkan dari Sean barusan.
"Ternyata jatuh cinta dan mencintai semanis ini," ucap Laluna di dalam hati.
......................
Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini ya bestie.
__ADS_1