MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)

MY CRAZY LOVE (CEO AMNESIA)
PART 47. JENUH


__ADS_3

Ketika Sean tidak berada di dalam satu apartemennya dan terpisah dengan Laluna, yang terjadi adalah sebuah rasa kesepian. Mereka terbiasa hidup bersama dan bersenda gurau satu sama lain.


"Biasanya aku bisa melihat wajah cantik Laluna secara langsung, tetapi saat ini hanya bisa melihat fotonya dari file dokumen di ponsel. Rasanya terlalu aneh untuk hal itu!" gumam Sean sambil menggulir layar ponselnya dari atas ke bawah.


Jo hanya menggelengkan kepalanya saat melihat atasannya setengah frustasi seperti itu. Ditambah lagi saat ini orang tua Sean menerapkan adat istiadat Jawa sebelum menikah, dan harus melibatkan tata cara yang berlaku di dalamnya.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Laluna saat ini. Ia tidak bisa berbuat hal banyak karena gerak-geriknya juga dibatasi oleh pihak Keluarga Sean dan juga ayah kandungnya sendiri.


"Dulu aja nggak peduli, tetapi sekarang malah ngatur sana sini!" umpat Laluna sambil mencebik kesal.


Bagaimana pun caranya ia harus bersikap ikhlas untuk semua hal ini. Akan tetapi ternyata keinginan tidak sejalan dengan impian. Sehingga terjadi pergolakan batin di dalam diri Laluna saat ini.


"Oh My God, perasaanku mengatakan jika aku sedang tidak baik-baik saja!"


Laluna mengacak-acak rambutnya dengan gemas karena tiba-tiba saja ia ingin mengumpat. Andai saat ini berada di rumahnya sendiri sudah pasti ia akan bebas mengekspresikan segala kegundahan hati. Sayangnya saat ini ia berada di dalam apartemen Sean Alinskie.


Bahkan disetiap sudut kamarnya ada kamera yang mengintai setiap pergerakan yang dilakukan olehnya.


"Huft, jadi calon istri orang kaya sangat membuatku kesal. Begini nggak boleh begitu juga nggak boleh. Terlalu banyak peraturan yang membuat jalan hidupnya justru terlihat aneh."


Sedari tadi melihat kegiatan Laluna di apartemen adiknya, Leo beberapa kali tergelak akan tingkah konyol sang calon adik ipar.


"Kok bisa ya, Sean tertarik pada wanita seperti Laluna? Aneh ... tetapi biarkan sajalah, namanya jodoh juga tidak ada yang tahu. Yang terpenting saat ini melihat mereka bahagia itu sudah lebih dari cukup."


Laluna adalah orang yang ceria dan suka menghidupkan suasana. Kini ketika ia merasa sendirian dan tidak mempunyai teman, pasti rasa bosan akan sangat terasa. Laluna menggulirkan layar ponselnya untuk mencari hiburan.


Ternyata yang ada hanyalah beberapa berita yang tidak ia sukai. Sementara itu Laluna lebih suka bermain dunia digital seperti menggambar dengan menggunakan tools yang ada di perangkat lunak.


Akan tetapi semua proyek yang dikerjakan bersama Cici dan Jordi semuanya sudah selesai, sehingga ia meliburkan diri dari dunia kerja.


"Apakah Sean juga merasakan hal yang sama denganku? Bukankah ia adalah salah satu orang dari golongan manusia yang memiliki mobilitas yang sangat tinggi, apakah ia bisa bertahan dalam beberapa hari ini?"


"Huft, satu minggu ini aku tidak boleh bertemu, chat, ataupun saling menatap satu sama lain dengannya. Padahal aku dan Sean berada di satu tempat kerja. Terus aku harus ngapain dong?"


Saat ini Laluna dan Sean sedang dalam masa pingit. Keduanya terpaksa terpisah untuk sementara waktu demi persiapan pernikahan mereka.


Laluna menatap tampilan dirinya di cermin. Dilihatnya tampilan wajahnya dengan baik-baik mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Apakah aku cantik?"

__ADS_1


Jemari mungilnya menyibak poni yang menutupi wajahnya.


"Apakah aku bermimpi? Sebentar lagi aku akan menikah dengan Sean Alinskie? Seorang pebisnis muda dengan tingkat prestasi di atas rata-rata?"


Laluna membalikkan tubuhnya dan membelakangi cermin. Kedua tangannya bertumpu pada sisi meja dengan kaki yang menjuntai ke bawah.


"Apakah aku pantas bersanding dengan Sean?"


Ketika ia sedang sibuk dengan cermin dan pemikirannya, tiba-tiba saja sebuah pesan masuk ke dalam nomornya. Berharap jika itu adalah Sean, tetapi ternyata bukan.


"OMG, apa yang aku pikirkan?" tanyanya dalam hati.


Laluna mengacak-acak rambutnya karena kesal. Ia baru menyadari ketika sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya itu berasal dari Paijo, asisten Sean.


"Tumben sekali Jo mengirim pesan. Eh, tunggu dulu dari siapa ia tahu nomor ponselku?"


Jo mengirimkan pesan dari Tuan John pada Laluna hanya untuk mengatakan jika selama sebelum menikah ini keduanya tidak bisa ke kantor.


"Jadi aku dan juga Sean juga merasakan hal yang sama?"


"Kirain hanya aku yang tidak boleh ke kantor, rupanya dia juga?"


"Hai Baby, karena aku dan kamu tidak bisa kemana-mana selama seminggu ini. Maka selama satu minggu penuh, kamu akan melakukan perawatan khusus di salon."


Begitulah pesan dari Sean yang tertulis di atas kertas berwarna merah muda itu. Sontak saja kedua mata Laluna membulat sempurna.


"Salon?"


Seumur hidup Laluna tidak pernah mengikuti perawatan salon seperti itu. Namun, ternyata Sean melakukan kejutan dengan meminta Laluna untuk melakukan perawatan spa di salon.


"Menikah kok ribet banget sih?"


Belum sempat keterkejutan Laluna terhenti, pintu kamarnya sudah diketuk dari luar.


"Siapa?"


"Saya Jo, Nona Muda."


"Jo? Asisten Sean?"

__ADS_1


"Benar sekali."


Tidak mau membuang waktu lebih lama lagi Laluna segera menemui Jo di depan kamarnya.


"Loh Jo, ngapain kamu di sini? Bukankah saat ini adalah jam sibuk kamu?"


Jo hanya tersenyum tipis.


"Maaf Nona Muda, saya cuma diutus Tuan Sean untuk memberikan surat ini kepada Anda. Oh,ya ... di depan ada sebuah mobil yang akan mengantarkan Nona Laluna mengikuti serangkaian proses perawatan di salon sebelum menikah."


"Memangnya hal seperti itu wajib dilakukan ya, Jo?"


"Tentu saja tidak, hanya saja karena Nona akan menjadi istri seorang pebisnis muda yang sedang naik daun dan menjadi menantu dari Keluarga Alinskie maka semua itu hukumnya wajib."


"Begitukah?"


"Saya rasa ini bukan hal yang aneh, Nona Muda. Hanya saja ini hanyalah sebagian bentuk perhatian kecil dari Tuan Sean kepada Anda."


"Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"


"Tentu saja boleh Nona, emangnya Nona mau bertanya apa?"


"Bukan sebuah hal yang penting, tetapi jika tidak aku tanyakan maka akan membebani pikiranku. Kira-kira apakah kamu mau mendengar pertanyaanku kali Jo?"


"Tentu saja Nona, asalkan Nona Muda bahagia hal itu sudah pasti akan membuat berita bahagia untuk Tuan Muda."


"Apakah setelah menikah, aku akan diterima oleh keluarga besar Sean? Apakah aku pantas untuk menjadi menantu di Keluarga Alinskie?"


"Tentu saja, kenapa tidak?"


"Entahlah Jo, sekarang aku justru meragukan diriku sendiri."


......................


Kira-kira apa yang membebani pikiran Laluna, ya? Apakah restu dari ayahnya?


Sambil nunggu up boleh mampir ke sini ya bestie 🙏, terima kasih


__ADS_1


__ADS_2