
Akhirnya waktu yang ditunggu telah tiba. Persiapan untuk acara tujuh bulan kehamilan Sean sudah tinggal selangkah lagi.
"Semuanya sudah beres, Bos. Lagi pula barang untuk souvernir juga telah datang. Tinggal memastikan untuk pihak cathering saja setelahnya sudah selesai."
"Bagus Jo, pekerjaan kamu emang bisa diandalkan. Good job, Jo."
"Terima kasih banyak, Bos. Oh, ya dua bulan lagi jangan lupa janjinya lo, Bos."
"Apa itu?"
"Rencana jadwal bulan madu saya jangan dipotong. Cuma ijin cuti satu minggu saja kok."
"Iya, tenanglah kalau soal hal itu, yang terpenting acara ini lancar maka rencana pengajuan cutimu aku ACC."
"Alhamdulillah," ucap Jo sambil mengusap dadanya berulang kali.
Sean yang melihat hal itu cukup terhibur. Pasalnya sejak awal menjadi asistennya Jo adalah orang yang jujur dan amanah. Sangat susah sekali mendapatkan orang seperti itu.
Maka dari itu, jika disuruh melepas atau mencari pengganti Jo, tentu saja Sean lebih memilih mundur. Sejak perusahaan dihandle oleh Leo, Sean lebih mengembangkan usaha design milik Laluna.
Perusahaan yang mereka dirikan bersama Jordy dan Cici itu akhirnya mulai berkembang. Meski masih kecil tetapi progesnya semakin meningkat dari bulan ke bulan.
"Kenapa terlihat tegang seperti itu, Sayang?"
Sean tampak menoleh ke arah istrinya. Dipegangnya jemari mungil milik Laluna yang sudah mulai membengkak seiring kehamilan istrinya yang sudah bertambah.
"Ini ada investor yang mau masuk, tetapi aku merasa ragu."
Laluna tampak mendudukan dirinya di kursi sebelah Sean.
"Apakah kamu sudah mengenal dekat dengan investor tersebut?"
Sean tampak menggeleng. Ia ragu karena melihat latar belakang calon investornya tersebut.
"Coba aku lihat dulu, daftar riwayat hidupnya!"
Sean menyerahkan berkas miliknya pada sang istri. Dengan cepat Laluna membacanya.
__ADS_1
"Masih muda banget calon investor kamu, usianya aja baru dua puluh lima tahun."
"Iya, memang baru segitu."
"Lulusan Oxford University pula, otaknya terbuat dari apa usia segitu udah lolos dari sana?"
Sean tampak mengedikkan bahunya. Baginya ia hanya melihat kenapa ia memilih perusahaan yang baru merintis seperti punya mereka. Kenapa justru mau mengambil resiko yang besar di sini.
"Kalau kamu ragu, sebaiknya ajak dia ketemuan. Bukankah kamu sangat ahli dalam mendeteksi sikap dan karakter seseorang dalam sekali lihat?"
Sean tergelak akan ucapan istrinya barusan.
"Kata siapa aku sehebat itu, Sayang? Bukankah aku hanyalah orang biasa yang bisanya merepotkan kamu dan terkesan arogan?"
Laluna mencubit gemas kedua pipi Sean lalu memonyongkan bibirnya.
"Emang kamu Mr. Arogant milikku, makanya aku jadi sayang."
"Ya ampun, aku jadi meleleh loh, Sayang. Serius pakek banget."
"Makasih, tapi coba lihat tuh anak kamu makin nendang-nendang mulu dari tadi."
Kedua tangannya memeluk sambil sesekali ia mengajak bicara calon bayi mereka.
"Hai, Sayang. Lagi apa nih di dalam sana?"
Tangan Sean tampak mengusap bekas tendangan dari si kecil yang masih berada di dalam perut Laluna. Sean tersenyum manis kepada putranya.
"Jangan menyusahkan Mama, ya. Baik-baik di dalam sana. Jangan lupa untuk menuruti perkataan Mama dan Papa. Sehat-sehat kesayangan Mama dan Papa. Mmuaachhh."
Di sisi lain, rupanya pertemuan Angel dan juga Be kembali terjadi. Keduanya saling bertatap muka tetapi tidak berbicara sama sekali sejak keduanya duduk berhadapan.
"Sebenarnya kamu mau apa mengundangku kemari!" bentak Be pada Angel.
"Tentu saja membalas budi untuk kebaikanmu tempo hari."
Angel tampak merogoh tas dan mengambil sejumlah uang yang ia bungkus sebuah amplop berwarna cokelat. Disodorkan amplop itu ke arah Be.
__ADS_1
Tentu saja Be menghindarinya, dan mendorong balik amplop tersebut.
"Kamu kira aku mata duitan? Sehingga dengan mudah memaki orang tanpa mengetahui fakta kebenaran di belakangnya."
Tentu saja ucapan dari Be menyentil hati Angel kala itu. Bagaimana pun juga mereka baru saja bertemu, tetapi kebaikan hatinya sulit sekali diberikan imbalan.
"Kenapa kamu berkata demikian. Aku juga tidak mungkin aku merendahkan kamu dengan memberikan amplop ini."
"Aku hanya tidak tahu bagaiman caranya aku berterima kasih kepadamu karena justru telah menolong untuk menjaga harga diriku. Aku sangat berterima kasih padamu."
"Hm, lalu ...."
Ucapan dari Be seolah digantung olehnya. Akan tetapi Laluna harus tetap sabar akan hal ini. Tidak mungkin juga ia bertindak kasar setelah mengetahui kebaikan hati Be kepadanya selama dua kali pertemuannya kemarin.
Kesombongan Angel seketika diruntuhkan oleh lelaki di hadapannya saat ini. Meskipun Angel terbiasa hidup mandiri, tetapi jika bertemu masalah seperti ini. Biasanya ia akan mengeluarkan uang pribadinya untuk membungkam mulut si pembuat onar.
"Terima kasih untuk niat baikmu, untuk hal itu anggap saja aku sedang berbaik hati kepadamu."
"Iya, terima kasih banyak Be."
"Sama-sama, oh ya bolehkan kita berteman?"
Dengan wajah berbinar Be menjawab pertanyaan darinya.
"Tentus saja boleh, kenapa tidak?"
Sejak saat itu keduanya sering tampak bertemu satu sama lain. Hanya saja intensitas pertemuan di antara mereka hanya beberapa menit saja. Ditambah lagi dengan cara hidupnya yang sama-sama penggila uang membuat keduanya cocok.
Sampai akhirnya Angel memperkenalkan kakak iparnya pada Be. Angel tampak mengarahkan ponsel yang berisi foto kakaknya bersama sang istri tercinta, Laluna.
"Bukankah itu Sean Alinskie, seorang pebisnis yang terus melebarkan sayapnya hingga menjadi orang terkenal dan terkaya no berapa gitu di dunia!" ucap Angel.
"Kalau begitu cepat bawa aku untuk bertemu dengan kakakmu, agar semuanya cepat terlaksana."
"Baiklah kalau begitu. Akan aku buatkan jadwal temu."
"Terima kasih."
__ADS_1
Setelah cukup semuanya, keduanya tampak kembali pada rutinitasnya setiap hari.